Jumat, 23 Juni 2017

"Sebenarnya, Kita Hidup di Dunia Hanya 2 Menit 1 Detik"

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat (HR Bukhari) Dari 7 besaran ISO (International Standard Organization) yang di rumuskan yakni panjang, temperatur, massa, waktu, arus listrik, jumlah zat dan intensitas cahaya, hanya satu besaran yang susah untuk dipahami, waktu. Hidup manusia di dunia terfungsikan oleh waktu. Waktulah yang membatasi antara satu kehidupan dengan kehidupan yang lain. Waktu menurut para ahli adalah besaran untuk mengukur tingkat perubahan yang terjadi pada benda atau zat. Kita sendiri menjadi bukti dari definisi ini, masih ingatkah saat kita kecil ditimang oleh bunda kita atau saat kuda-kudaan dengan ayah kita, namun lihat diri kita sekarang, sudah berubah dari saat kita digendong dan main kuda-kudaan bukan? itu semua karena waktu. Pada zaman dulu, manusia menganggap waktu itu absolute, kecuali dalam Islam. Waktu dianggap sama saja tidak peduli pada acuannya. Baru pada abad 20, ilmuwan termasyhur abad 20, Albert Einstein mengeluarkan postulat yang menyatakan bahwa waktu bersifat relatif tergantung pada acuannya. Einstein memisalkan, jika seorang laki-laki mengobrol dengannya yang sudah tua, beruban dan keriput, mengobrol satu jam seperti satu abad. Sedangkan jika mengobrol dengan yang masih muda, cantik dan anggun mengobrol lima detik bisa terasa lima jam. Kurang lebih seperti itulah relativitas, kata Einstein.
Sekarang mari kita coba untuk membandingkan waktu dengan kerangka acuan waktu di dunia yang berdasarkan atas rotasi dan revolusi bumi atau benda langit lainnya dibandingkan dengan kerangka acuan akhirat berdasarkan berita dari Al-Qur’an dan Al hadits. Firman Allah dalam Surat al-Mu’minuun [23] : 112-114
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Dalam ayat ini, aroma relativitas waktu sangat kentara. Bayangkan, manusia yang hidupnya kurang lebih 70 tahun, ketika ditanya Allah menjawab hanya hidup satu hari atau setengah hari. Kemudian ditimpali oleh Allah bahwa hidupnya hanya sebentar saja, hanya sebentar. Firman Allah yang lain dalam surat An-Naazi’aat [79] : 46
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. Dalam ayat ini lebih cepat lagi, hidup kita dirasakan hanya selama waktu sore atau pagi hari. Jika waktu sore di mulai jam 3 dan diakhiri jam 6, berarti kita merasa hidup cuma 3 jam. Dan jika pagi hari dimulai jam 7 dan selesai jam 11 berarti kita merasa hidup hanya 4 jam. Tentu saja lebih sebentar dari ayat sebelumnya. Firman Allah Selanjutnya dalam surat Yunus [10] : 45
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. Pada ayat ini, lebih tinggi lagi komparasinya, hidup kita hanya dirasa SESAAT SAAT SIANG HARI saja, ALLAHUAKBAR. Dan sekarang mari kita coba untuk menghitung perbandingan lama hidup kita menurut apa yang telah disampaikan nabi kita. Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR Hakim dan Thabrani) Dan Firman Allah dalam surat Al-Ma’arij [70] : 4
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun. Hadits di atas berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang mahsyar, kata nabi Muhammad, kita berada di padang mahsyar selama 50ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium sama dengan 500 abad sama dengan 6250 windu. Adakah waktu ini sebentar?
Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat di bawahnya, kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis. Mari coba kita hitung. Manusia zaman ini hidup dengan umur rata-rata 70 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia jika dibandingkan dengan relativitas waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 2 MENIT 1 DETIK, nilai tersebut didapat dari perbandingan sederhana yang bisa dihitung oleh siswa SD kelas 4.
Benar, HANYA 2 MENIT 1 DETIK. Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa. Mereka pun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut.
Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Mereka pun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan berjuang menahan panas memakai jilbab bagi wanita. Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang tak semestinya dilakukan. Benar, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita kawan, hanya sebentar.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS al-Hasyr [59] : 18)
Perhitungan di atas memakai acuan padang mahsyar dan acuan waktu dunia, karena memang acuan padang mahsyar saja yang bisa kita perbandingkan. Sebab, kehidupan dunia ini tak akan bisa kita komparasi dengan surga atau neraka. Setiap yang kafir dan munafik masuk neraka sedangkan muslim masuk surga. Mereka yang munafik adalah orang-orang yang mengetahui hukum Allah namun kemudian ingkar, mereka yang menerapkan agama secara parsial, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain dan mereka yang muslim namun ragu akan nilai keislamannya.
Dan agama ini sudah sempurna. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, tatacara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Semua kembali kepada kita, maukah memakainya atau kita tetap dengan keadaan sekarang. Keadaan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Wallahu a’lam bi ash shawab.
Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat? (HR Muslim)

Rabu, 07 Juni 2017

Jangan Sampai Tak Ada Jabrohim

Kebudayaan harus punya Jabrohim, apalagi peradaban. Negara harus punya Jabrohim, apalagi Indonesia. Rakyat harus punya Jabrohim, apalagi masyarakat, Kaum Muslimin harus punya Jabrohim, apalagi Muhammadiyah. Makhluk-makhluk Tuhan harus ada Jabrohimnya, apalagi manusia. Kalau kebudayaan tak punya Jabrohim, ia akan mengering, sampai akhirnya tidak bisa lagi disebut kebudayaan. Kebudayaan menjadi segar dan subur kalau ada yang merawat dan menyirami keindahan. Itulah Jabrohim. Kebudayaan tanpa Jabrohim-Jabrohim, akan gagal menjadi peradaban. Kalau Negara tidak punya Jabrohim, para pelakunya akan sibuk main kayu satu sama lain. Karena mereka tidak mengenal pohon dengan urat-uratnya, akar dengan tanahnya, dedaunan dengan seratnya, kembang-kembang dengan wanginya, serta bebuahan dengan lezatnya. Jabrohim adalah penjaga ekosistem silaturahmi antara buah, kembang, daun, ranting, dahan, pohon, akar, tanah, air, bumi, langit dan Tuhan. Negara dengan peran Jabrohimlah yang membuat ia bernama Indonesia. Kalau Rakyat berkerumun tanpa Jabrohim, mereka akan menjadi makhluk pasar, penyembah harta benda, perakus uang dan penserakah materi, yang agamanya adalah materialismenya. Jabrohim menjaga pintu di tepian pasar agar tetap ada lorong ke wilayah-wilayah yang bukan benda. Jabrohim menghembuskan angin dari angkasa, menerpa wajah dan tengkuk para penghuni pasar, sehingga mereka akan suatu saat ingat bahwa mereka bukan robot-robot keuangan. Mereka akan sesekali berserikat sehingga menjadi masyarakat, yang menemukan bersama bahwa hiruk pikuk pasar bukanlah tujuan manusia, melainkan alat untuk memenuhi sebagian kebutuhan jiwa mereka. Kalau Jabrohim tidak ada di tengah Kaum Muslimin, maka para pelaku Islam terjebak menjadi mujahid-mujahid transaksi pahala dan dosa, sorga dan neraka. Peran rohaniah kesusastraan yang dirawat oleh Jabrohim akan mengembalikan Kaum Muslim menemukan kembali bahwa tema penyembahan kepada Tuhan adalah cinta. “Katakanlah wahai Muhammad (kepada ummatmu): Kalau kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah jejakku, maka Allah pun akan mencintaimu, serta mengampuni dosa-dosamu…” Berapa ribu bumi dengan kandungan tambang-tambangnya, dengan kekayaan laut dan daratnya, yang bisa diperbandingkan dengan cinta Allah dan perkenan-Nya untuk mengampuni dosa-dosa kita? Kalau manusia adalah manusia, kalau manusia benar-benar manusia, bisakah ia terpesona kepada apapun saja isi dunia dan alam semesta melebihi kebahagiaannya dicintai oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya? Bukankah manusia memang bukan kerbau atau buah ketela atau Malaikat, yang tidak punya eksistensi, posisi dan pergerakan untuk ber-tajdid dan ijtihad? Dan kemanakah gerangan arah tajdid dan ijtihad kecuali menempuh jalur perbaikan diri manusia agar lebih mendekat dan lebih mendekat lagi ke perkenan cinta Allah serta pengampunan dosa? Kalau kehidupan adalah rumah, Jabrohim adalah perawat keindahannya. Untuk apa rumah kalau tidak indah? Kalau kehidupan adalah dapur, Jabrohim adalah kulkasnya, yang mengawetkan bahan-bahan makanan minuman agar lebih panjang usia dan fungsinya. Kalau kehidupan adalah manusia, maka Jabrohim adalah penjaga kelembutan hatinya. Kalau kehidupan adalah pohon, Jabrohim adalah tanah, air dan udaranya. Mungkin kebanyakan manusia yang menghuni bumi tidak mengenal kesusastraan, cerita pendek, novel, puisi, reportoar drama, atau bentuk-bentuk lainnya. Jabrohim adalah sebuah peran untuk menyimpan karya-karya kesusastraan itu dalam waktu dan mengalirnya zaman. Supaya pada suatu hari, lambat atau cepat, besok atau kelak, manusia tetap memiliki kesempatan untuk menemukan bahwa yang dikandung oleh karya-karya sastra itu bukanlah sesuatu yang berada di luar diri manusia. Melainkan merupakan kandungan gizi-gizi rohaniah di dalam diri manusia sendiri. Banyak ketidaktepatan yang dilakukan oleh para ilmuwan dan akademisi dalam urusan kesusastraan. Mereka memperkenalkan outputnya, bentuknya, formulanya yang dibangun melalui susunan kata-kata. Sehingga masyarakat mengenali sastra sebagai bentuk, sebagai kehadiran fisik, eksistensi pancaindera, dan menyangka sastra adalah deratan huruf-huruf, seni adalah kumpulan suara, warna, garis dan cuatan-cuatan serta gerak-gerik. Padahal sastra adalah diri manusia sendiri. Karya-karya sastra adalah bagian terpenting dari jiwa manusia sendiri: kelembutan, cinta, kehalusan budi, anatomi rohani, esensi jiwa, nuansa, Kristal dan apa saja yang mengkomposisi menjadi jiwa manusia. Karena tradisi ilmu dan maniak kategorisasi-kategorisasi akademik, manusia dibuat salah sangka bahwa kesusastraan adalah sebuah bidang, sebuah wilayah disiplin, yang berbeda dengan arsitektur, biologi, pertanian atau politik. Dunia ilmu dan tradisi akademik sangat gagal menggambar kehidupan, apalagi mengantarkan keutuhannya kepada masyarakat. Untunglah Jabrohim adalah Dosen Sastra. Dan volume atau prosentase kedosenannya paling banyak 30 persen secara kualitatif. Yang 70 persen adalah cinta, ketekunan dan kesetiaannya kepada nilai-nilai batiniyah yang ia memperjalankan pengabdiannya hingga senja usianya. Itu yang membuat wajah Pak Jabrohim tersenyum sepanjang hidupnya. Jabrohim adalah senyumnya itu. Wajahnya adalah senyuman. Eksistensinya adalah sentuhan cinta kepada keindahan. Kalau pakai terminologi Pandawa Lima, Jabrohim adalah Puntadewa yang lembut, mengayomi sambil bertapa di bilik dalam kalbu setiap mahasiswa dan anak-anak asuhnya. Kalau pakai terminologi Rukun Islam, Jabrohim adalah ketekunan dan kekhusyukan Shalat Lima Waktu: ia mengepung hari, menyelubungi siang dan malam dengan cinta, kesaksian atas keindahan dan rasa syukur yang abadi. Kalau pakai terminologi Sahabat Empatnya Rasulullah Muhammad saw, Jabrohim adalah Abu Bakar yang mengasuh keadaan, meniti waktu dengan langkah-langkah kaki yang sangat lembut dan hampir tak kedengaran. Kalau engkau menatap Jabrohim dari bumi: Jabrohim hanyalah seorang Dosen, pengurus Universitas di Fakultasnya. Seorang suami yang penuh kasih sayang. Seorang Bapak penyemangat dan pengawal generasi yang akan tandang di masa depan. Seorang sahabat yang tidak tahan untuk tidak memberi, menyodorkan hati dan tangannya untuk menolong dan membikin mudah siapa dan apa saja di depan dan sekitarnya. Tapi kalau engkau memandangnya dari angkasa, dari lapis yang terendah saja pun dari permadani-permadani berlapis yang membentuk langit: Jabrohim adalah anugerah Allah yang tak boleh tak ada, karena semua yang telah terhampar sejak awal tulisan ini, yang engkau semua silakan membaca dan mengelilinganya kembali. Yogyakarta, 15 Desember 2017 PENULIS : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Selasa, 16 Mei 2017

Silaturahmi, Bukan Basa Basi!

Kesan positif sekaligus negatif, pro dan kontra, akan terlintas di benak kita saat mendengar kata ‘pulang kampung’. Rumah kosong, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, berdesakan di stasiun dan terminal, macet sepanjang jalur mudik, adalah sebagian potret ‘kesulitan’ yang umum dialami. Saat ditanya mengapa rela menjalani berbagai kehebohan seputar mudik itu, jawab yang diberikan seragam, yaitu untuk silaturahmi. Seakan segala ‘pengorbanan’ terbayarkan dengan bersilaturahmi, berkumpul dengan sanak saudara, sehingga ‘sambung rasa’ terbenahi kembali.
Bagi saya, yang lahir di Jakarta, dan beberapa keluarga ada di Jakarta, fenomena pulang kampung yang disambut bersemangat oleh sebagian besar orang, selalu membuatnya terheran-heran. Ia selalu membahas efisiensi dan efektivitasnya, dan mempertanyakan mengapa orang tidak kapok mengalami kesulitan yang kian hari kian kompleks di hari-hari menjelang lebaran ini.
Sekedar tradisikah bersilaturahmi? Atau betul-betul bisa menjadi ‘sentuhan sosial’ yang punya ‘rasa’ dan ‘mengena’, untuk modal kita memperbaiki diri dan lingkungan seusai Lebaran nanti?
E-Silaturahmi
Ada ketegangan lain menjelang hari-hari besar ini. Lebaran akan menjadi puncak kemacetan jalur sms, di mana orang yang dulunya tidak membutuhkan komunikasi instan sekarang akan complaint gila-gilaan bila sms-nya tidak terkirim segera. Apa isinya? Segala macam sajak, pantun, ucapan sederhana, gambar, serta doa doa yang baik.
Sayangnya, banyak sekali sms (maupun email) yang berseliweran adalah hasil forward-an dari orang lain. Yang paling penting bagi pengirimnya adalah bahwa tugas pribadi untuk melakukan kontak, selesai sudah saat ia telah meng-”cover” semua kenalannya dengan ucapan selamat idul fitri serta permohonan maaf lahir batin.
Terkadang saya kagum pada kemajuan teknologi, tetapi saya juga ingat kata-kata yang selalu di ajarkan bapak saya kepada saya bila bersalaman: “Pandanglah matanya, tunggu sampai ia berespon, jangan lupa tersenyum, dan katakan sesuatu dari dalam hatimu”. Timbul pertanyaan apakah ucapan selamat yang instan ini bisa pula ‘menyapa’ dan membuat ‘sentuhan sosial’ yang ‘kena’ dalam momentum sekali setahun ini?
Kumpul yang Tidak Basi
Bagi kita yang bermukim di Jakarta, kombinasi: jarak, waktu dan kemacetan lalu lintas, sudah lazim menjadi alasan yang diberikan untuk tidak menemui seseorang. Namun, terkadang kita lupa bahwa dalam sebuah keluarga besar atau kelompok, kemesraan, toleransi dan kedekatan hubungan yang bisa membawa berkah dan rejeki akibat ‘networking’, hanya dapat terjalin dengan tatap muka intensif, waktu yang cukup, ekspresi dan komunikasi yang sedikit lebih panjang dan dalam.
Silaturahmi semasa lebaran mengkondisikan orang untuk siap melakukan kontak. Silaturahmi memberi kesempatan untuk mengenal teman dari teman, kenalan dari kenalan serta memberi, menerima dan bertukar referensi bisnis. Bila didalami manfaatnya, rasanya kita tidak akan melewatkan kesempatan ‘kumpul’ keluarga dan kerabat pada saat lebaran, dan tidak akan melakukannya untuk sekedar berbasa basi.
Revitalisasi Norma
Banyak sudah pergeseran norma. Sudah ada segala macam modifikasi, dari cara berpakaian sampai tata krama bergaul. Kita lihat betapa banyaknya pesta buka puasa sepanjang ramadhan, sehingga acara buka puasa di rumah mulai bisa dihitung jari. Mungkin lebaran adalah satu-satunya momentum di mana remaja bersedia secara berombongan pergi bersama orangtua dan bertamu dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Mudah-mudahan kita ingat untuk tidak banyak merubah norma dan menjaga hakikat silaturahmi agar tidak kehilangan ‘arti’.
Atmosfir silaturahmi cenderung mendorong ke kesejukan hati, kekerabatan, maaf-memaafkan dari kemenangan puasa. Inilah saat yang baik untuk melakukan ‘social learning’ pada generasi muda, yang akan menumbuhkan penghargaan yang tepat pada diri sendiri, karena merasa sebagai anggota kelompok atau keluarga, dan merasa melakukan tata krama yang benar dan sesuai lingkungan. Silaturahmi adalah kesempatan emas untuk kembali menyamakan derap, langkah dan cara pikir, rasa dan sikap dengan sesama anggota keluarga dan kelompok. Perlu untuk menyamakan kembali nilai-nilai yang implementasinya sudah berbeda-beda sebagai akibat kesibukan yang berbeda serta meninjau kembali status sosial, peran, konformitas dan kepatuhan kita pada tata krama keluarga dan kelompok. Konformitas akan membangkitkan kepastian individu terhadap “akar”nya. Hal ini tentunya akan membawa rasa nyaman individu sehabis bersilaturahmi.
Marilah kita mengenakan baju yang paling bersih, paling bagus walaupun tidak baru, untuk melaksanakan kumpul keluarga dan handai taulan. Rasa gembira kita sebagai manusia modern akan terasa diperkuat oleh ‘sense of roots’ kita.

Minggu, 23 April 2017

KISAH CINTA IWAN FALS DENGAN ROSSANA

“Gue Seneng Sama Elo! Coba Pacaran, Yuk!”
Musik adalah hidup Iwan Fals. Lewat musik, lelaki bernama asli Virgiawan Listianto itu bertemu belahan jiwanya, Rosanna atau yang akrab disapa Yos.
Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal Iwan Fals bukan orang yang pandai bercerita, terutama mengenai peristiwa yang sudah puluhan tahun lalu terjadi. Meski sekelumit kisahnya masih melekat dalam pikiran, Iwan tak mampu mengurai secara detail cerita cintanya bersama Yos.“Soalnya sudah lama banget. Saya sudah lupa detail ceritanya,” kata Iwan, membuka perbincangan di rumahnya yang luas di Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Menerawang ke masa lalu, ayah tiga anak itu coba mengulang memori pertemuan pertamanya dengan Yos di kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang terjadi 27 tahun silam. Kala itu, Iwan sedang mengikuti Festival Musik Humor yang diselenggarakan mahasiswa IKJ. Ia tampil solo memainkan gitar dan harmonika. Sementara Yos, yang mahasiswi jurusan Seni Rupa di kampus tersebut, adalah salah seorang panitia festival.
“Saya masih ingat, waktu itu Yos pakai topi kayak Pak Tino Sidin. Dia kan anak Seni Rupa. Topinya juga banyak benderanya,” kenang Iwan, seraya tersenyum. Penampilan Yos yang trendi dan cenderung maskulin menggetarkan dawai hati Iwan. Iwan yang saat itu masih menyandang predikat siswa kelas tiga SMAN 26 Jakarta mengaku tertarik melihat sosok wanita kelahiran 1960 itu.
“Senang aja lihat dia kayak laki-laki. Ditambah lagi, sejak pertama bertemu, dia sudah memberi perhatian pada saya,” ujar Iwan tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sementara itu, diam-diam Yos pun memerhatikan sosok pemuda yang telah tercuri hatinya oleh penampilannya yang maskulin. Belakangan Yos tahu, ketertarikannya itu lebih didasari oleh minatnya terhadap lagu-lagu Iwan.
Sejak dulu, Iwan dikenal sebagai musikus pengusung tembang-tembang country dan balada. Pada acara festival itu pula, lelaki kelahiran Jakarta, 3 September 1961 itu sempat memberi Yos sekeping kaset yang berisi demo suaranya. Baru tiga tahun kemudian, suara emas Iwan itu direkam dalam tiga album sekaligus, yakni Serenade Kembang Pete, Frustrasi, dan Sarjana Muda.
Walaupun gadis yang disukainya adalah seorang mahasiswi, Iwan tidak merasa minder. Benih-benih asmara yang mulai muncul, ia biarkan bersemi hingga tumbuh menjadi seuntai cinta.“Masalah cinta kan enggak ada batas usianya. Kita ketemu, terus dianya kelihatan memberi perhatian, saya langsung penalti saja; coba pacaran yuk! Ternyata bisa berjalan tiga tahun. Cuma, kalau ditanya detail proses pacarannya bagaimana, saya lupa. Sudah lama banget kan tuh,” kata Iwan, yang mengaku deg-degan jika harus menggenggam tangan Yos.
Masa pacaran tiga tahun berjalan bukan tanpa hambatan. Di antara waktu tersebut, Yos rupanya sempat kepincut pria lain. Iwan mengetahui hal itu. Namun, putra pasangan Haryoso dan Lies ini tak pernah menyurutkan cintanya pada Yos. Di sisi lain, Iwan juga tahu Yos masih menaruh minat padanya. Sampai akhirnya Iwan nekat melamar Yos yang kala itu sudah memiliki kekasih baru.
“Saya merasa terhormat ketika saya ajak dia menikah, dia mau, padahal kan Yos sudah punya pacar. Saya bilang: ‘aku cuma bisa ngamen nih. Enggak ada cara lain untuk hidup, berani enggak?’ Eh, dia bilang berani. Hal itulah yang kemudian saya jadikan amanat buat saya menjaga hubungan kami.”
Iwan mengingat jawaban ‘ya’ dari Yos sebagai hal paling indah dari masa mudanya. “Soalnya, pasti berat untuk Yos memutuskan satu di antara dua lelaki. Saya sih maju terus walaupun dia sudah punya pacar. Rezeki enggak ke mana. Semua kan tergantung Yos. Saya hanya mengungkapkan perasaan saya saja. Saya cinta dia, saya ungkapkan. Saya bilang, ‘gue seneng sama elo!’ Gitu aja,” cerita Iwan, yang tak ingat lagi tanggal pernikahannya.
Buat Iwan, Yos bisa dibilang cinta pertamanya. Di masa mudanya, Iwan hampir tak punya pengalaman pacaran dengan gadis lain selain istrinya sekarang. Maka itu, ketika ditanya alasan dia memilih Yos, lelaki yang gemar olahraga karate itu tak mampu menjawab.
“Saya enggak tahu kelebihan Yos dibanding perempuan lain. Saya kan enggak pernah tahu (perempuan) yang lain. Mungkin karena nafsu saya terpenuhi di Yos. Pikiran saya, perasaan saya, negatif-positif saya, semua terpenuhi di dia,” kata Iwan. Kini, Iwan dan Yos sudah melalui 25 tahun usia pernikahan mereka. Iwan mengaku, cintanya pada sang istri masih sama seperti ketika keduanya pacaran.
“Saya baru merasakan, ternyata kita ini hidup. Banyak keajaiban yang terjadi setiap hari. Saya sendiri takjub, kok bisa ya tahan 25 tahun di saat pasangan lain baru tiga tahun kimpoi, cerai. Saya bersyukur juga karena memang pernikahan ini indah. Kalau enggak indah, ngapain nikah.”
“Saya selalu bilang ke Yos, sekarang saya menyayangi kamu. Besok enggak tahu. Enggak berani janji dong saya. Eh, ternyata besok tuh sampai 25 tahun,” kata Iwan lagi.
Cinta Makin Kuat Setelah Cobaan Itu Datang Pernikahan Iwan dan Yos berjalan mulus nyaris tanpa persoalan berarti. Kebutuhan keluarga tercukupi, anak-anak pun tumbuh sehat sejahtera. Sampai akhirnya musibah datang pada 1997. TAHUN itu, Galang Rambu Anarki, putra sulung Iwan dan Yos, meninggal dunia. Langit seakan runtuh. Galang yang disebut-sebut sebagai pangeran penerus jejak sang ayah, sangat cepat diambil Tuhan. Saat mengembuskan napas terakhirnya, personel band Bunga itu baru berusia 15 tahun. Tahun pertama kepergian Galang, kesedihan pun menggelayuti hati pasangan itu. Tak jarang, Galang datang menghiasi mimpi Yos. Bahkan, sampai Yos ngelindur. “Itulah cobaan paling berat dalam hidup kami. Untungnya saya selalu kembali lagi ke agama. Saya atasi kesedihan ini dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan,” kata Yos.
Jika rindu kepada Galang melanda, Yos hanya bisa menumpahkan air mata. “Iwan sih enggak ngomong atau menasihati apa pun pada saya. Karena kita berdua hobi baca, untuk menenteramkan hati, biasanya kita sama-sama baca buku saja. Kalau tiba-tiba saya tidur, ngelindur soal Galang, paling Iwan memeluk saya. Enggak ngomong apa-apa, karena kalau bicara kan kadang-kadang malah salah,” tutur Yos.
Tak lama setelah Galang meninggal, berturut-turut Iwan juga kehilangan ayah serta seorang saudaranya. Rasa kehilangan itu datang bertubi-tubi dan dirasakan sangat berat baginya. “Tapi, saya sadar, semua manusia pasti akan kehilangan orang yang mereka sayangi,” kata Iwan.
Tak ingin berduka terus-menerus, Iwan dan Yos melanjutkan kembali kehidupan mereka. Sampai akhirnya, Raya Rambu Rabbani lahir pada 2003, pada saat anak kedua mereka, Annisa Cikal Rambu Basae, berumur 18 tahun. Raya-lah yang kemudian menjadi pelipur lara Iwan dan Yos. “Sejak enggak ada Galang, saya merasa lebih dekat dengan Iwan. Sangat berkesan. Sama berkesannya dengan kelahiran Raya. Saya merasa, kehadiran saya di dunia jadi lebih bermanfaat. Kalau tadinya hanya ngurusin Iwan terus, sekarang saya harus merawat Raya juga,” ujar Yos. “Cikal sekarang sudah besar, sudah kuliah. Sesekali dia suka pulang malam. Iwan suka senewen, padahal saya pasti bilang kepada dia kalau Cikal akan pulang telat ke rumah. Saya lihat Iwan makin bertanggung jawab sebagai suami, ayah, dan manusia,” lanjut Yos. Perubahan kecil juga dirasakan Iwan sejak kepergian Galang. “Belakangan saya merasa lebih tegas. Namun, soal agama, Yos lebih kuat. Dia selalu siap memenuhi semua kewajibannya. Di sisi lain, saya juga berusaha memberi apa yang saya punya untuk dia,” Iwan menyambung ucapan sang istri. Seperempat abad hidup bersama membuat Yos semakin bisa memahami Iwan meskipun dulu dan sekarang Iwan tidak terlalu banyak berubah.
“Iwan tetap Iwan yang saya kenal. Secara fisik dia berubah, tapi itu kan pasti dialami semua orang. Tambah umur, dia justru semakin matang dan sabar menghadapi persoalan apa pun. Musibah dalam keluarga selalu kami kembalikan pada nilai-nilai agama. Itu yang membuat kita yakin, yang terbaik adalah menghadapi semua persoalan,” tutur Yos. “Akhir-akhir ini kita malah sering punya persamaan feeling. Di awal pernikahan dulu, seringnya enggak nyambung, salah duga, beda tebakan. Sekarang mulai ada persamaan. Apalagi, setelah Galang pergi,” timpal Iwan. Tahun ini usia Iwan akan mencapai 44 tahun. Meski demikian, ketua umum organisasi massa Orang Indonesia (OI) itu masih merasa muda. Detik demi detik perubahan fisik manusia, ia nikmati sebagai sebuah keindahan. “Justru saya semakin penasaran. Di usia segini, saya suka loyo. Nah, setelah fase loyo, apa lagi nih? Ternyata, perhatian Yos juga enggak berubah. Dia makin bisa bikin saya penasaran,” kata Iwan, tanpa memerinci hal-hal yang membuatnya penasaran itu. “Saya bergairah terus sama Yos. Mudah-mudahan dia juga begitu. Saya selalu merasa baru menikah walaupun sudah lama. Senang aja jadinya. Kayak pacaran terus,” kata Iwan lagi. Meski berani mengungkapkan perasaannya pada Yos, namun dalam sikap, Iwan tidak seromantis tembang-tembang cintanya. Makan malam berdua di bawah temaran cahaya lilin, misalnya, tak pernah sekalipun mereka lakukan. Cinta di hati keduanya hanya terpupuk lewat perhatian serta kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan.
“Cinta kami tumbuh begitu saja sih. Alhamdulillahnya lagi, saya tidak mengalami persoalan ekonomi. Terkadang cinta kan juga butuh uang. Rumah tangga pun begitu. Rezeki kami ada saja, sehingga kami enggak bingung mencari kebutuhan sehari-hari,” tutur Iwan, yang menyerahkan semua urusan rumah tangganya kepada Yos. Di samping persamaan, Yos dan Iwan juga memiliki perbedaan tabiat. Iwan yang terkesan temperamental dan meledak-ledak dalam membuat lirik lagu, ternyata cukup lembut pembawaannya. Bahkan tak jarang, ia bersikap manja pada sang istri. “Dulu kalau saya nyuapin Galang dan Cikal, dia enggak ketinggalan minta disuapin. Pokoknya, dia tuh termasuk suami yang selalu minta dilayani. Iwan juga lembut. Kalau kita lagi marahan, yang ngebanting pintu, istilahnya, itu saya. Iwan justru diam kalau lagi marah,” kata Yos.
Saling Menghormati jika Pasangan Cemburu Hidup bersama seorang superstar seperti Iwan bukan hal mudah. Terlebih ketika fenomena groupies, kelompok penggemar fanatik, wanita kian menjamur. Kecemburuan Yos bertambah kala melihat fans wanita Iwan yang agresif.
IWAN pun sesungguhnya termasuk pria pencemburu. Ia tak berusaha menampik perasaan itu dengan berpura-pura cuek terhadap pasangan. Cemburu, bilang cemburu. Meski kemudian ia harus bertengkar hebat dengan istrinya. “Saya cemburuan, Yos juga cemburuan. Tapi, saya bisa menghormati kecemburuan dia. Ternyata asyik juga kok cemburu. Ada rasa deg-degan-nya, he, he, he …,” ujar Iwan.
Iwan bukan tak menyadari fans wanitanya banyak dan bahkan ada yang menuntut lebih darinya. Namun, sejauh ini ia mengaku masih bisa mengendalikan emosi. Sesekali pernah juga tebersit keinginan penyuka olahraga karate itu berpoligami. Sayang, Yos tidak mengizinkan. “Kadang-kadang terpikir juga sih. Apalagi kalau lihat perempuan cantik, muda, wah …. Kemarin saya baru bilang, Yos boleh enggak ngelirik-lirik perempuan? Ternyata enggak boleh sama dia,” kelakar Iwan. Ungkapan jujur Iwan untuk membagi hatinya dengan perempuan lain boleh jadi hanya sebuah canda sebab semakin hari, cintanya pada Yos justru dirasa kian bertambah. Iwan sadar, kecantikan wanita bukan segala-galanya.
“Kecantikan bukan dilihat dari fisik saja kok. Kalau ukurannya hanya itu, berapa banyak perempuan yang cantik? Kecantikan ternyata ada di balik kerutan, dari tulang yang mulai sakit, atau pada situasi menjelang menopause. Itu juga kan keajaiban dan harus disyukuri. Apa yang saya dapat dari Yos sudah lebih dari cukup,” kata musikus yang menghabiskan masa sekolahnya di Bandung, Jawa Barat.
Tak ada dalil khusus yang diterapkan Iwan, menjaga bunga cintanya pada sang istri tetap mekar sepanjang masa. Seperti lirik-lirik lagunya, Iwan lebih suka membiarkan semua mengalir bagai air, tanpa ada janji-janji yang muluk. “Tinggal bagaimana kita menyirami benih-benih yang sudah Tuhan kasih. Ini ladang kita, bisa enggak kita rawat? Rasa bosan pasti ada dan saya yakin Yos pun bosan sama saya. Tapi, kita terima saja kebosanan itu sebagai rahmat. Kalau mengutip ucapan Aa Gym, jadikan keluarga sebagai ladang amal kita,” kata Iwan bijak.
Di usianya yang semakin senja, Iwan justru terlihat semakin tampan. Penilaian ini banyak dikemukakan oleh para penggemarnya. Menanggapi hal tersebut, Yos hanya bisa mengucap syukur. Begitu pun ketika fans wanita Iwan berlaku sedikit mesra pada sang musikus.
“Dibilang terusik, pasti terusik. Tapi, enggak apa-apalah. Alhamdulillah saja karena berarti saya masih dikasih kesempatan bersama Iwan dan dia tidak tergoda,” ucap wanita berjilbab itu. Yos berharap, cobaan berupa orang ketiga yang berpotensi merusak rumah tangga mereka tidak akan terjadi. Untungnya lagi, Yos kini juga bertindak sebagai manajer Iwan. Jadi, ke mana pun sang suami pergi, Yos pasti ikut mendampingi.
“Dengan mendampingi dia dalam tim manajemen, saya jadi lebih mengerti. Kalau dulu kan saya di rumah, enggak ikut Iwan. Saya selalu punya pikiran sendiri, ‘wah lagi ngapain ya dia?’ Berhubung sekarang saya manajernya, ke mana pun Iwan pergi, saya ikut. Kalau ada fans perempuan melukin dia, saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri. Saya lihat bagaimana reaksinya. Kalau Iwan kecentilan, pulangnya langsung saya labrak. Tapi, kalau Iwan dalam posisi enggak bisa menolak, saya tetap mengerti kok,” tutur Yos.
Yos percaya Iwan setia padanya. Begitu pun sebaliknya, sebab pasangan yang menikah di Garut, Jawa Barat, ini mengaku, sama-sama takut pada Tuhan. “Kita kan punya salat lima waktu. Pada saat zuhur, kita melakukan sesuatu yang tidak baik, ada kesempatan di waktu ashar untuk mengucap istighfar, dan memohon petunjuk bagaimana sebaiknya saya bersikap setelah ini,” kata Yos, yang mengaku sangat terbuka pada Iwan.
Di mata Yos, Iwan bukan suami yang mampu bersikap romantis, seperti cerita dalam film ataupun sinetron. Romantis versi Iwan lebih merujuk pada perhatian superekstra terhadap pasangan. “Buat saya, Iwan sangat romantis, tapi enggak seperti di buku atau film. Misalnya dia lagi melakukan tur musik. Di sela-sela jadwalnya, dia masih suka mengingatkan saya agar menjaga kesehatan. ‘Lo jangan sakit ya’. Untuk saya, itu romantis banget,” urai Yos.
Menyikapi masa puber kedua Iwan, Yos juga punya resep jitu. “Kuncinya, jangan tinggalkan salat. Kalau puber, pasti dia ngomongin perempuan lain dong. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa menunjukkan kalau saya enggak suka. Tapi, enggak pakai ngomel-ngomel lo,” kata Yos, yang berusia satu tahun lebih tua dari suaminya.
Iwan kemudian menimpali ucapan sang istri dengan sebuah harapan yang tanpa diembel-embeli angan setinggi langit. “Mudah-mudahan keluarga kita tetap utuh. Ya…, enggak tahu juga sih. Cinta itu kan misteri. Kebetulan keyakinan saya Islam, di mana ruang-ruang untuk berpoligami itu terbuka cukup lebar. Tapi, kalau Yos enggak mengizinkan, kan enggak bisa,” katanya.
oleh: bobies.multiply.com

Jumat, 17 Maret 2017

Kehidupan Iman
 Kehidupan Puisi

Saya ingin menabung satu mata rantai pemahaman yang agak ‘teknis’, agak kognitif, serta yang sederhana saja. Orang-orang Maiyah melihat, mendekat, kemudian ada yang memasuki pintu yang bernama Kehidupan Puisi. Sebagian dari mereka dengan sadar dan tergetar kepada figur yang bernama Umbu Landu Paranggi. Mereka sudah tahu belajar kepada Umbu bukanlah terutama mempelajari puisi-puisi Umbu, meskipun universitasnya bernama Kehidupan Puisi. Perlahan-lahan mereka mengerti dan semakin memasuki hutan rimba pengertian yang sama sekali berbeda dengan ‘mindset’ umum tentang belajar dan pembelajaran. Juga belajar dan pembelajaran puisi. Bahkan pun juga tentang (yang dimaksud, keluasan dan kesempitan, kedalaman dan kedangkalan) puisi itu sendiri. Belajar Kehidupan Puisi kepada Umbu Landu Paranggi adalah menelusuri jalanan panjang hingga ke maqamat Umbu. Meniti dan niteni irama langkahnya. Menggambar kepribadiannya. Kecenderungan-kecenderungannya. Bahasa dan pola-pola ekspressi serta komunikasinya yang ternyata lebih banyak dijumpai sebagai diskomunikasi — kalau dipandang dari jendela pemahaman baku dan lugu masyarakat buta huruf batin yang membesarkan mereka. Para pembalajar, para pejalanan Lelaku Kehidupan Puisi, semakin hari semakin tahu bahwa salah satu kepastian yang hampir pasti adalah mereka belum pernah dan mungkin benar-benar tak akan pernah bertemu langsung dengan Umbu Landu Paranggi. Dan sungguh-sungguh kenyataan itu tidak harus menjadi masalah sama sekali, kecuali bagi para pembelajar modern yang naif, yang tertutup kehidupannya dari fenomenologi Bambang Ekalaya seperti yang Iman Budhi Santosa menuturkannya dalam puisi “Guru Batu Bambang Ekalaya”: “Demi Dewata, kusebut kau guruku, Batu” Maka, jadilah ia guru batu, Guru Dorna Mantram kesaktian di sekujur tubuhnya Mengajar menjawab dalam berbagai tanda…. Masyarakat yang ditipu oleh atmosfir global yang membuat mereka menyangka sedang berada dalam persekolahan modern dan tradisi akademis kognitif, dengan mudah terpeleset ke persepsi bahwa mereka sedang dianjurkan untuk berguru kepada batu. Karena mereka umumnya tidak bergerak dari ‘materi’ yang berbunyi guru batu. Orang modern hobinya kemapanan. Kalau mendengar kata mobil, mereka berhenti pada mobil. Mendengar batu, tinggal di batu. Mendengar rumah, mapan di rumah. Bahkan mendengar Dorna, mandeg statis stigmatik di persangkaan umum tentang Dorna. Iman Budhi Santosa Iman Budhi Santosa Salah satu puncaknya mereka ditunggu syahadatnya oleh Allah malah membaca syahadat. Sekali seumur hidup, ditambah melakukannya lagi dalam jumlah yang Allah memaksa mereka untuk mengucapkannya dalam shalat dan adzan. Padahal syahadat terletak dan diuji di setiap langkah mereka, di setiap butir nasi mereka, di setiap tetes keringat mereka, di setiap keputusan mereka, di setiap lendir dahak batuk mereka, di setiap lenyapnya bensin dari motor mereka, di setiap kantor, rumah, kebun, sawah, profesi, jabatan, kata, pernyataan, keputusan, pun cita-cita dan apa saja serta kapan saja dalam kehidupan mereka. Masih tersisa wangi doa dan dzikirmu, Ibu pada sajadah tua yang kau wariskan kepadaku Ada sunyi tahajud, kelitik bunyi tasbih merajut detik demi detik ketika malam larut hati dan mulut mengajarkan syahadat shalawat pada bayi dalam kandunganmu …. Di atas sajadahmu, Ibu kutulis buku demi buku menemani sujudku kepadamu (“Sajadah Ibu”) Apakah susah memperoleh pemahaman bahwa hidupmu adalah sujud di atas sajadah warisan Ibumu? Apakah sulit menemukan kecerahan pandangan bahwa senyata-nyatanya engkau kuliah, engkau bekerja dan engkau berjuang sebagai aktivasi sujud di atas sajadah Ibumu? Apakah tidak rasional dan terasa artifisial bahwa para petani mencangkul, Raja berdarma, cendekiawan berkarya, seniman menorehkan rahasia, arsitek mendirikan, pedagang menseimbangkan, dan siapapun apapun, adalah Kehidupan Sujud di Sajadah Ibu mereka masing-masing? Jadi apakah Kehidupan Puisi itu abstrak? Apakah Kehidupan Cangkul, Kehidupan Pena, Kehidupan 010101, Kehidupan Garis, Kehidupan Warna, Kehidupan Cahaya, Kehidupan Sawah Ladang, Kehidupan Maiyah, itu belum terang benderang bagimu? Belum memancar, belum Khobir, belum Mubin, belum berbinar-binar memancar jadi cahaya di permukaan wajah kehidupanmu? Bahkan apakah pecah kepala Indonesiamu, pusing tujuh keliling globalisasimu, putus asa berkepanjangan era zamanmu, tak bisa kau rebahkan dalam ketenteraman yang cerdas, dalam ketenangan yang tajam, dalam makrifat yang mendalam, belum ber-maqam dalam ketertuntunan langkah ke depanmu yang terang benderang? Jadi, benar bisik gerimis dalam mimpi Bahwa di manapun engkau berdiri Di situlah tanah airmu yang sejati… (“Ketika Jutaan Anak Tersesat di Indonesia”) Apa belum terang benderang di mata kesadaranmu bahwa engkau tidak hidup di Indonesia, karena Indonesia engkau genggam di tangan kananmu? Apakah belum nyata di jagat batinmu bahwa engkau bukan anggota klub Globalisasi, karena dunia global itu kau ‘cangking’ di tangan kirimu? “Di mana engkau bersujud, di situlah Masjid”. Apakah ada kalimat yang bisa lebih menjelaskan hahekat yang terkandung dalam ucapan Nur Muhammad melalui bibir Muhammad bin Abdullah ini? Apakah esok pagi tatkala bangun pagi engkau sanggup menemukan dirimu di Rumah Maiyah, Kehidupan Maiyah, Negeri Maiyah? Sembari menata kembali batas-batas kewajibanmu, kadar-kadar perjuanganmu, skala tuntutan Allah kepadamu, hingga setiap menatap Indonesia yang penuh kemalangan itu terdengar bisikan Allah “La takhof wa la tahzan innallaha ma’ana”: jangan cemas dan sedih menatap Negeri Angkuh Dungu yang memisahkan diri menjadi tetangga kita dan Allah? Bersegeralah menentukan Kehidupanmu sendiri. Kehidupan Salik? Kehidupan Dekonstruksi? Kehidupan Kreatif? Kehidupan Roda? Kehidupan Jeruji? Kehidupan Suku Dalu? Apapun saja. Tidak ada kewajiban apapun dari Allah, jika engkau mengerti bahwa pada hakekatnya itu semua adalah keniscayaan hidupmu sendiri. Tidak ada tuntutan apapun dari Kehidupan Maiyah, dari Kehidupan Puisi, dari Kehidupan Iman, jika engkau menyadari bahwa itu semua adalah horizon kerinduan rohanimu sendiri. Langkahkan kaki kokoh dengan hati cerah dan pikiran tajammu. Apapun saja, asalkan dengan ridlo, Aku akan menyongsong dan menyambutmu: Sepatuh air akupun mengalir Menawarkan buih, bunga tanah, dan pasir Menghidupkan lumut ganggang Menggamit kalian berani telanjang Mandi sunyi mengurai diri ke berbagai sendang …. Serupa kayu akupun mau Buat pagar atau dibakar. Seumpama lagu Siap dinyanyikan, juga dilupakan …. Sahabat, aku datang karena cinta… (“Karena Cinta”) Agar supaya lebih nikmat hidup ini, agar supaya lebih indah hidupmu dan hidupku, kisahkan kepadaku Kiyaimu, Ulamamu, Ustadzmu, yang mengajar dan mendidikkan kepadamu hal peribadatan kepada Allah dan pelayanan rahmatan lil’alamin kepada sesama makhluk, yang lebih indah dari cara Iman Budhi Santosa menuturkannya kepadamu dalam puisi itu. Atau kutipkan kepadaku keindahan semacam itu dari Buku-buku Tafsir, Pelajaran Islam, Kitab Kuning, Jurnal Kaum Cendekiawan Muslim atau apapun. Atau barangkali dari Disertasi dan kumpulan Tesis-tesis modern yang engkau kagumi. Tatkala nanti akhirnya engkau mengalir kintir dalam keindahan itu, semoga engkau menemukan bahwa sesungguhnya itu toh bukan dirimu. Bukan engkaumu. Apakah engkau sanggup ada dan menjadi engkau tanpa Engkau? Apa hulumu, mana hilirmu, sehingga engkau meng-aku engkaumu? Yang kau temukan sebagai engkau, sesungguhnya hanyalah permainan hologram dan simulasi cinta hasil karya Engkau. Adapun yang kau jalani itu shirat-mu, syari’-mu, thariq-mu. Syukur engkau merdekakan dirimu terlebih dulu dari kondisi-kondisi mutanajjis dan musta’mal pada idiom shirothol-mustaqim, thariqat dan syariat — yang tiba kepadamu tidak sebagai thahir-muthahhir kata itu sendiri, melainkan dibungkus oleh tafsir-tafsir hari kemarin yang harus kau temui dan layani dengan santun tapi kritis, dengan sopan namun krearif, dengan mendengarkan tapi siap mempertanyakan. Apakah masih samar-samar bahwa rumahmu itu bukan rumah, melainkan tempat persinggahan sangat sementara? Apakah belum bisa kau letakkan di peta saraf akalmu bahwa harta benda, jabatan, gaji, kemasyhuran, eksistensi yang sesungguhnya sia-sia untuk kau primerkan sebagai tujuan itu hanyalah sebutir dua butir wirid di tengah perjalanan panjang thariqat kehidupanmu agar kompatible untuk bergabung kembali dengan Mu? 67 Tahun Iman Budhi Santosa 67 Tahun Iman Budhi Santosa Apakah belum khatam perjalanan ilmumu sejak dini hari Maiyah bahwa jangan sampai engkau disengsarakan oleh letak terbalik dan maqam kesesatan tatkala tujuan dan jalan, sebab dan akibat, wasilah dan ghoyah — engkau campur adukkan, engkau bolak-balik, di dalam disproporsi hidupmu yang seru, heboh dan gegap gempita namun kosong melompong di mustakanya? Sudah berapa kilometer ruhaniyah perjalanan ketenteraman fikiran dan batinmu sebagai Khalifah Kehidupan dan Kehidupan Khalifah sejauh Kehidupan Maiyah yang engkau alami, kembarai dan cakrawalai? Manusia Iman, Manusia Budhi, Manusia Santosa, Kehidupan Iman, Kehidupan Budhi, Kehidupan Santosa, menghamparkan kepadamu sawah ladang ilmu dan keindahan, buku-buku ilmu dan lembar-lembar pengetahuan — asalkan engkau mulai mengerti kenapa musti mudik ke “Kampung Halaman”. Siapkan waktu sejenak beberapa jenak di pagi siang sore malammu, namun dengan ketulusan pencarian ilmu dan kekosongan penerimaan hidayah dari Allah yang menyamar di balik punggungmu dan punggung penulis puisi-puisi itu, bacalah dan selamilah pelan-pelan tanpa menyangka bahwa engkau akan pernah selesai melakukannya. Maka, pandanglah dirimu: apakah malam ini engkau masih meyakini bahwa sedang menghadiri pembacaan puisi oleh seorang penyair? Mari gerakkan kaki dan pikiranmu turun menginjak bumi: Salah satu alat yang dipergunakan oleh ummat manusia untuk saling menyambungkan dirinya satu sama lain adalah kata. Ketika sejumlah kata dirangkai, disusun dan dikomposisikan untuk mewakili dan menyampaikan suatu makna, mereka menyebutnya kalimat. Kemudian di antara sekian cara manusia menyusun kata dan kalimat, terdapat suatu jenis atau formula yang disebut puisi. Para penyusun kata dan kalimat menjadi puisi itu dinamakan Penyair. Sebutan Penyair itu sesungguhnya sekedar semacam inisial untuk memudahkan keperluan kategorisisasi sosial dalam pergaulan manusia. Semacam simplifikasi teknis yang aslinya belum tentu oleh kebudayaan manusia dijaga secara sungguh-sungguh dengan batas nilai, parameter atau kwalifikasi yang berprinsip. Di dalam budaya materialisme, kapitalisme dan industri, setiap orang yang punya biaya bisa menyusun kalimat-kalimat, mengumpulkannya menjadi sekian puluh atau sekian ratus halaman, menerbitkannya dan menamakannya Buku Kumpulan Puisi. Tidak benar-benar ada kontrol atau kritisisme terhadap fakta kwalitatif apakah itu semua puisi atau sekedar deretan kata dan kumpulan kalimat. Tatkala ratusan Buku semacam itu beredar memenuhi Toko Buku dan rak-rak almari buku masyarakat, tanpa dialektika kwalitatif nilai-nilai dalam perikehidupan budaya masyarakat, pada kenyataannya sangat besar potensi yang muncul bahwa yang terbaca bukanlah puisi. Semua kumpulan kata dan susunan kalimat itu disepakati untuk dinamakan puisi sekedar karena orang-orang tidak punya kemampuan untuk menjelaskan atau membuktikan bahwa itu bukan puisi. Maka kalau Anda terlalu yakin dan mempermudah persepsi diri bahwa Iman Budhi Santosa adalah salah satu edisi dari barisan jenis Penyair kumpulan kata dan susunan kalimat semacam itu, maka sangat kecil kemungkinan Anda sungguh-sungguh berjumpa dengan Iman Budhi Santosa. Bahkan sebaiknya Anda jangan terlalu optimis untuk percaya bahwa Iman Budhi Santosa adalah Penyair yang menulis (dan membacakan) puisi-puisi, jika Anda masih belum memerdekakan diri dari hampir semua wacana, pengetahuan dan pemahaman yang menimpa, menaburi bahkan menenggelamkan dan mengotori fikiran dan batin Anda, yang berasal dari bacaan-bacaan, buku-buku, media-media tulis, jurnal-jurnal sastra, atau apapun yang mengantarkan kepada Anda beribu-ribu salah sangka tentang Penyair dan Puisi. Apa yang berlangsung di dalam diri Iman Budhi Santosa bukan desakan-desakan untuk menulis puisi, terlebih-lebih lagi keinginan untuk menjadi Penyair. Bahasa jelasnya, Anda jangan tertipu atau terjebak oleh kerendahan hati dan penyamaran Iman Budhi Santosa yang mengaku Penyair dan malam ini membacakan puisi-puisi. Coba baca akhir “Catatan Harian Seorang Sultan” ini: Sekian musim bercermin pada rumput pada taman yang berlumut, sisa keraton tinggal bangunan tua dan rindang pohon. “Jangan panggil aku Gusti….” Tapi, mereka nekad ngapurancang di depan cepuri nenunduk pada huruf-huruf Jawa yang tak terbaca oleh lidah yang lama mengembara Iman Budhi Santosa berhati sangat lembut. Tidak tega menuliskan “Aku bukan keturunan Raja, aku hanya diperintah untuk menjadi Sultan. Maka dengan ini kusampaikan Tahta Untuk Rakyat”. Ia tidak memiliki perasaan yang kasar untuk tega menorehkan kata “anjing herder di kraton kilen”, “pusaka-pusaka merasakan sesak panas kumuh sehingga pergi meninggalkan keraton”, atau berbagai kalimat lain. Akan tetapi mestinya Anda tidak perlu menjadi Doktor Ilmu Sejarah, tidak perlu menjadi mahasiswa jurusan Sejarah (: sejarah kok jurusan..) untuk ‘hancur lebur’ seluruh tatanan kosmos pengetahuan Sejarah Anda oleh kalimat Iman Budhi Santosa “sisa keraton, tinggal bangunan tua dan rindang pohon…jangan panggil aku Gusti”. Anda semua adalah penduduk suatu Negara yang sekedar namanya sajapun tidak ditentukan oleh Bangsanya sendiri, para Leluhur atau nenek moyang Anda. Apalagi nilai-nilai yang mendasarinya, konstitusi dan hukumnya, filosofi politiknya, pengetahuan Sejarah dan asal usul ke’bangsa’annya. Anda didaftar sebagai Warga dari suatu Negara yang Anda tidak memiliki pengetahuan tentang sangkan-parannya, tentang sebab akibat historisnya, tentang koordinat geo-powernya di tengah Pemerintahan Dunia (yang me-)Rahasia(kan) dirinya. Sebaiknya kita memulai belajar kembali dengan hadir besok Senin Kliwon 6 April 2015 peringatan 523 tahun “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” di Rumah Maiyah ini. Sebelum itu selamilah dan belajar kepada Ibu-Ibu Simbok-Simbok di “Orang-orang Batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta” tentang kesetiaan diri kepada Diri. Ambil waktu untuk membubarkan segala pengetahuan dan pemahamanmu tentang kependidikan yang menghancurkan manusia secara gegap gempita di abad-abad modern ini, dengan belajar kepada “Setangkai Bunga Buat Ibu Guru TK”. Ambrukkan tembok ilmu abad 21-mu untuk memperlebar pintu ilmu dan keindahan tentang perkawinan dan rumah tangga, agar engkau tak mandeg pada kelelakian dan keperempuanan, kemudian mencakrawala ke hakekat dan kasunyatan “Pengantin Puisi, Pengantin Sunyi”. Aku hanya menuding beberapa pintu di hamparan kosmos “Kampung Halaman” Iman Budhi Santosa. Engkau akan menemukan ribuan pintu lainnya, dan ribuan pintu berikutnya di setiap pintu. Apakah engkau masih yakin bahwa Iman Budhi Santosa adalah atau hanyalah seorang penyair, seorang penulis puisi yang malam ini sedang membacakannya kepadamu? Yogya 29 Maret 2015. OLEH : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Senin, 13 Februari 2017

Surga di Ikhlasmu, Bu

Dari manakah engkau memperoleh ilmu? Dari bumi Allah. Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur`an.
Bagaimana engkau memperoleh airnya? Dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya.
Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmumu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya.
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku. Umpamanya pada 1965 di pesantren, ketika aku tiba di salah satu puncak tirakatku dalam keadaan kurus pucat dan kepala gundul. Atau, tatkala menjelang Pemilu 1987 Partai Persatuan Pembanguan memojokkanku: mereka mengumumkan bahwa aku akan tampil di alun-alun Yogyakarta, di depan masa kampanye mereka. Padahal, aku ini anggota partai mbambung sekaligus individu independen.
Ibu datang meskipun tak tahu menahu tentang fait accompli itu dan berkata, “Hadirlah, hadirilah, belalah yang benar dan kritiklah yang salah…!” Maka, aku naik panggung, berterima kasih kepada PPP yang bersedia mengundang orang nonpartai, kemudian omong kepada massa bahwa mereka harus mampu menagih janji pemimpin-pemimpin mereka.
Ibuku datang pula beberapa hari yang lalu, ketika orang-orang di sekitarku ribut soal pemuatan majalah SMD yang dibaca oleh ribuan orang Islam di kota-kota maupun di pelosok dusun. Majalah itu menyebut bahwa aku ini kaki tangan salah satu kelompok penerbitan, disogok uang sangat besar, diberi fasilitas di kantor-kantornya, membantu perjuangan kelompok non-Islam, tulisan-tulisanku menghantam kepentingan Islam, bahkan berusaha ikut memusnahkan Islam dari muka bumi.
Tulisan itu diekspos justru ketika aku dalam keadaan setengah teler, sempat tak tidur 43 jam, dalam rangkaian perjalan Yogyakarta-Madiun-Jombang-Pare-Malang-Surabaya-Jakarta-Yogyakarta kembali untuk bercengkerama dengan ratusan atau ribuan orang Islam.
Teman-teman di sekitarku naik pitam. “Kau harus protes! Kau harus bawa kasus ini ke pengadilan! Itu fitnah, fasis, otak kotor, roh jahat, mental comberan! Merobek-robek ukhuwah Islamiah! Dan, lihat! Belum ada seorang tokoh atau siapa pun orang Islam yang membelamu! Umat Islam bukanlah ummat wahidah, buktinya tidak terasa ada kohesi antar unsur-unsur di dalamnya! Untuk apa kamu capai-capai tiap hari keliling-keliling ke sana kemari untuk mengurusi umat dataran bawah, kalau melalui puncak makuta-nya kamu ditikam seperti ini!”
Macam-macam komentar mereka, dan sialnya, aku cukup terpengaruh. Kusetujui pembikinan semacam selebaran yang disebarkan semacam ala kadarnya pada momentum Muktamar Muhammadiyah. Sesungguhnya, bagiku itu sekadar permainan biliar: nyodok bola ke sana supaya mantul ke situ.
Selebaran itu mengancam bahwa pentas “keluarga sakinah” akan kubatalkan kalau tidak ada pihak dari umat Islam yang nahi munkar terhadap fitnah itu. Namun, diam-diam kubisiki ibu-ibu Aisiyah dan para pemain bahwa mereka tak usah peduli pada ancaman itu, sehingga mereka meneruskan latihan dengan tenteram.
Aku juga bilang akan bermujadalah, mengirimkan tulisan untuk membuktikan ketidakbenaran tulisan itu dengan fakta maupun argumentasi. Namun, ternyata aku tak punya waktu dan tak terasa perlu membela diri. Kalau umat Islam tak percaya itu, mereka tak akan lagi percaya kepadaku, dan dengan demikian aku tak perlu tiap hari diserbu panitia-panitia, aku bisa sedikit gemuk, makan teratur, tidur cukup. Sedikit urus gizi dan menulis puisi. Sudah lama aku merindukan menjadi orang yang tak usah dianggap penting, menjadi orang yang biasa-biasa saja, orang kecil, yang diterima orang lain sebagai manusia, bukan sebagai seonggok patung yang bernama Emha. Tulisan Ridwan Saidi di Panjimas yang mengatakan bahwa pemuda-pemudi Islam kini meninggalkanku, kusyukuri dari segi itu.
Kemudian, Dr. Amien Rais berjanji akan membuat pernyataan bantahan yang ditandatangani teman-teman Yogyakarta. Dr. Kuntowijoyo juga sudah hendak menulis protes, tapi keburu pihak majalah SMD datang ke rumah kontrakanku pada tengah malam untuk meminta maaf dan menginformasikan bahwa wartawan yang menulis itu sudah dipecat.
Aku kaget. Mengapa memecat-mecat orang segala? Dia toh tetap aset yang berguna untuk umat Islam dan masyarakat luas, asal ia memperbaiki apa yang baru diperbuatnya.
Ia pasti juga bermaksud baik, maunya membela Islam, hanya lagunya monoton dan mripat-nya hanya melihat satu dimensi. Itu pun ketika menulis tentang aku yang dilihatnya bukan aku, melainkan takhayul subjektifnya tentang aku.
Tak usahlah dipecat. Dia punya hak untuk berislah diri. Yang penting perbaiki manajemen SMD, bagaimana kemarin bisa kecolongan seperti itu. Janganlah menambah bukti bahwa kelemahan pers Islam adalah di bidang manajemen dan di bidang sikap profesionalnya juga.
Juga, inti persoalannya bukan terletak pada “nasibku”, melainkan pada bagaimana menjahit kembali “kain sarung Islam” yang disobek-sobek oleh tulisan itu. Aku sendiri memperoleh ilmu besar dari paralel antara kasus SMD itu dengan rempelanya ICMI, Muktamar Muhammadiyah, dan seterusnya, yang pada suatu hari bisa kuinformasikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh memercayaiku.
Adapun tentang aku sendiri tak terlalu penting. Aku sekadar “buruh” uang yang dipekerjakan oleh beranda masjid atau di halamannya. Tak mungkin aku diterima di dekat-dekat mihrab kedalaman masjid: pahamilah itu dengan memproyeksikannya ke dalam struktur keumatan dan kepemimpinan di negeri ini.
Kalau apa yang kulakukan di halaman dan beranda itu tak juga bisa mengatmosferi kedalaman dan mihrab masjid atau bahkan ditolak dan ditepiskan, aku berpikir untuk menempuh sabil atau shirath lain, yakni keluar pagar, ke jalanan umum, sarung kusingkapkan, kuganti celana jins dan kaus oblong… bukankah engkau juga tetap bisa menempuh ilahi roji’un dengan menelusuri belantara yang sunyi?
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa menguatkan Ibu untuk berzikir, mengaji sambil menangis, dan bergumam kepada Allah, “Aku yang ngandung anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti…”.
Diterbitkan dalam buku "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai", 1994
Emha Ainun Nadjib

Rabu, 21 Desember 2016

ALTRUISME

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.
Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. Sedangkan Altruisme dalam agama Islam
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan. (QS al-Hasyr [59]: 9). Ayat ini berkaitan dengan sebuah riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa pernah ada seorang Muhajirin menemui Rasulullah saw. Ia lalu berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, saya sangat lapar sekali!" Mendengar itu Rasul segera membawa orang itu kepada salah seorang istri beliau agar ia memberinya makan. Namun, istri beliau itu berkata, "Demi Zat Yang mengutusmu dengan haq. Aku tidak memiliki apapun, kecuali air."
Nabi yang mulia lalu membawa orang itu kepada istri beliau yang lain. Istri beliau itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau kemudian membawa orang itu kepada istri-istri beliau yang lainnya lagi. Namun, jawaban mereka juga sama saja; mereka tidak memiliki apapun, kecuali air. Akhirnya, beliau bersabda kepada para Sahabat, "Siapa saja yang sanggup menjamu tamu ini pada malam ini, Allah pasti merahmatinya." Seseorang dari kalangan Anshar lalu berdiri seraya berkata, "Saya, ya Rasulullah." Orang Anshar itu pun membawa tamunya ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya, "Kita kedatangan tamu malam ini. Apakah engkau punya makanan?" Istrinya menjawab, "Tidak, kita tidak punya makanan, kecuali sedikit, untuk anak-anak kita." Lelaki Anshar itu berkata kepada istrinya, "Kalau begitu, tidurkanlah mereka. Hidangkan makanan itu untuk tamu kita. Jika ia sudah masuk rumah, matikan lampu, sementara aku akan berpura-pura sedang makan." Dalam kegelapan, tamu itu pun masuk dan dipersilakan untuk memakan hidangan yang tidak seberapa bersama tuan rumah, padahal tuan rumah hanya berpura-pura makan.
Keesokan harinya, Nabi saw. bersabda kepada suami-istri itu, "Sungguh, Allah sangat mengagumi kalian berdua karena perilaku kalian tadi malam dalam menjamu tamu kalian." (Al-Qurthubi, XVIII/24). Kisah di atas sangatlah populer dan sudahn sering kita dengar. Begitu seringnya diperdengarkan, bagi sebagian orang kisah itu mungkin sudah tidak menarik lagi; tidak lagi mengharukan, menyentuh kalbu, apalagi mempertajam empatinya kepada orang lain yang berada dalam kesulitan. Padahal kisah di atas setidaknya memberikan dua pelajaran (ibrah) yang senantiasa relevan untuk diingat oleh setiap Muslim dimana pun dan kapan pun. Pertama: Betapa Rasulullah saw. dan keluarganya tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang berada. Dalam banyak riwayat, Rasul bahkan sering 'terpaksa' shaum karena seringnya beliau tidak menemukan sesuatu untuk dimakan. Namun, yang menakjubkan, di tengah kebersahajaannya, Rasul yang mulia tetap memperhatikan kebutuhan orang lain. Kehidupan Rasul kekasih Allah seperti ini sejatinya menjadi cermin bagi kita yang selama ini mungkin merasa kekurangan atau miskin, bahwa kekurangan dan kemiskinan bukanlah alasan untuk berkeluh-kesah, berputus-asa, atau tidak mempedulikan orang lain. Apalagi jika kekurangan dan kemiskinan itu sampai mengakibatkan kita 'futur' di jalan dakwah. Bukankah Rasulullah saw. tidak pernah berhenti berdakwah hanya karena sering hidup dalam kekurangan?
Kedua: Betapa dalam kekurangan dan kemiskinan, Sahabat Anshar yang dikisahkan dalam riwayat di atas memiliki kesanggupan untuk mengutamakan orang lain (altruisme) ketimbang dirinya dan keluarganya. Ia sanggup mengenyangkan tamunya yang lapar meskipun ia sendiri dan keluarganya juga kelaparan. Gambaran Sahabat Anshar yang satu ini selayaknya juga menjadi cermin bagi kita, betapa kekurangan dan kemiskinan tidak boleh menghalangi niat untuk mengutamakan orang lain yang lebih membutuhkan.
Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana rasa simpati, empati, dan altruisme kita kepada saudara kita, bahkan yang sama-sama aktif dalam barisan dakwah, yang kehidupannya ekonominya jauh lebih buruk daripada kita. Pernahkah kita tahu, atau mencari tahu, bahwa di samping kita mungkin ada aktivis dakwah yang sering menahan rasa lapar (berpuasa) karena tidak ada uang untuk membeli makan? Padahal mungkin saat itu di rumah kita kelebihan makanan.