Senin, 13 Februari 2017

Surga di Ikhlasmu, Bu

Dari manakah engkau memperoleh ilmu? Dari bumi Allah. Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur`an.
Bagaimana engkau memperoleh airnya? Dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya.
Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmumu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya.
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku. Umpamanya pada 1965 di pesantren, ketika aku tiba di salah satu puncak tirakatku dalam keadaan kurus pucat dan kepala gundul. Atau, tatkala menjelang Pemilu 1987 Partai Persatuan Pembanguan memojokkanku: mereka mengumumkan bahwa aku akan tampil di alun-alun Yogyakarta, di depan masa kampanye mereka. Padahal, aku ini anggota partai mbambung sekaligus individu independen.
Ibu datang meskipun tak tahu menahu tentang fait accompli itu dan berkata, “Hadirlah, hadirilah, belalah yang benar dan kritiklah yang salah…!” Maka, aku naik panggung, berterima kasih kepada PPP yang bersedia mengundang orang nonpartai, kemudian omong kepada massa bahwa mereka harus mampu menagih janji pemimpin-pemimpin mereka.
Ibuku datang pula beberapa hari yang lalu, ketika orang-orang di sekitarku ribut soal pemuatan majalah SMD yang dibaca oleh ribuan orang Islam di kota-kota maupun di pelosok dusun. Majalah itu menyebut bahwa aku ini kaki tangan salah satu kelompok penerbitan, disogok uang sangat besar, diberi fasilitas di kantor-kantornya, membantu perjuangan kelompok non-Islam, tulisan-tulisanku menghantam kepentingan Islam, bahkan berusaha ikut memusnahkan Islam dari muka bumi.
Tulisan itu diekspos justru ketika aku dalam keadaan setengah teler, sempat tak tidur 43 jam, dalam rangkaian perjalan Yogyakarta-Madiun-Jombang-Pare-Malang-Surabaya-Jakarta-Yogyakarta kembali untuk bercengkerama dengan ratusan atau ribuan orang Islam.
Teman-teman di sekitarku naik pitam. “Kau harus protes! Kau harus bawa kasus ini ke pengadilan! Itu fitnah, fasis, otak kotor, roh jahat, mental comberan! Merobek-robek ukhuwah Islamiah! Dan, lihat! Belum ada seorang tokoh atau siapa pun orang Islam yang membelamu! Umat Islam bukanlah ummat wahidah, buktinya tidak terasa ada kohesi antar unsur-unsur di dalamnya! Untuk apa kamu capai-capai tiap hari keliling-keliling ke sana kemari untuk mengurusi umat dataran bawah, kalau melalui puncak makuta-nya kamu ditikam seperti ini!”
Macam-macam komentar mereka, dan sialnya, aku cukup terpengaruh. Kusetujui pembikinan semacam selebaran yang disebarkan semacam ala kadarnya pada momentum Muktamar Muhammadiyah. Sesungguhnya, bagiku itu sekadar permainan biliar: nyodok bola ke sana supaya mantul ke situ.
Selebaran itu mengancam bahwa pentas “keluarga sakinah” akan kubatalkan kalau tidak ada pihak dari umat Islam yang nahi munkar terhadap fitnah itu. Namun, diam-diam kubisiki ibu-ibu Aisiyah dan para pemain bahwa mereka tak usah peduli pada ancaman itu, sehingga mereka meneruskan latihan dengan tenteram.
Aku juga bilang akan bermujadalah, mengirimkan tulisan untuk membuktikan ketidakbenaran tulisan itu dengan fakta maupun argumentasi. Namun, ternyata aku tak punya waktu dan tak terasa perlu membela diri. Kalau umat Islam tak percaya itu, mereka tak akan lagi percaya kepadaku, dan dengan demikian aku tak perlu tiap hari diserbu panitia-panitia, aku bisa sedikit gemuk, makan teratur, tidur cukup. Sedikit urus gizi dan menulis puisi. Sudah lama aku merindukan menjadi orang yang tak usah dianggap penting, menjadi orang yang biasa-biasa saja, orang kecil, yang diterima orang lain sebagai manusia, bukan sebagai seonggok patung yang bernama Emha. Tulisan Ridwan Saidi di Panjimas yang mengatakan bahwa pemuda-pemudi Islam kini meninggalkanku, kusyukuri dari segi itu.
Kemudian, Dr. Amien Rais berjanji akan membuat pernyataan bantahan yang ditandatangani teman-teman Yogyakarta. Dr. Kuntowijoyo juga sudah hendak menulis protes, tapi keburu pihak majalah SMD datang ke rumah kontrakanku pada tengah malam untuk meminta maaf dan menginformasikan bahwa wartawan yang menulis itu sudah dipecat.
Aku kaget. Mengapa memecat-mecat orang segala? Dia toh tetap aset yang berguna untuk umat Islam dan masyarakat luas, asal ia memperbaiki apa yang baru diperbuatnya.
Ia pasti juga bermaksud baik, maunya membela Islam, hanya lagunya monoton dan mripat-nya hanya melihat satu dimensi. Itu pun ketika menulis tentang aku yang dilihatnya bukan aku, melainkan takhayul subjektifnya tentang aku.
Tak usahlah dipecat. Dia punya hak untuk berislah diri. Yang penting perbaiki manajemen SMD, bagaimana kemarin bisa kecolongan seperti itu. Janganlah menambah bukti bahwa kelemahan pers Islam adalah di bidang manajemen dan di bidang sikap profesionalnya juga.
Juga, inti persoalannya bukan terletak pada “nasibku”, melainkan pada bagaimana menjahit kembali “kain sarung Islam” yang disobek-sobek oleh tulisan itu. Aku sendiri memperoleh ilmu besar dari paralel antara kasus SMD itu dengan rempelanya ICMI, Muktamar Muhammadiyah, dan seterusnya, yang pada suatu hari bisa kuinformasikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh memercayaiku.
Adapun tentang aku sendiri tak terlalu penting. Aku sekadar “buruh” uang yang dipekerjakan oleh beranda masjid atau di halamannya. Tak mungkin aku diterima di dekat-dekat mihrab kedalaman masjid: pahamilah itu dengan memproyeksikannya ke dalam struktur keumatan dan kepemimpinan di negeri ini.
Kalau apa yang kulakukan di halaman dan beranda itu tak juga bisa mengatmosferi kedalaman dan mihrab masjid atau bahkan ditolak dan ditepiskan, aku berpikir untuk menempuh sabil atau shirath lain, yakni keluar pagar, ke jalanan umum, sarung kusingkapkan, kuganti celana jins dan kaus oblong… bukankah engkau juga tetap bisa menempuh ilahi roji’un dengan menelusuri belantara yang sunyi?
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa menguatkan Ibu untuk berzikir, mengaji sambil menangis, dan bergumam kepada Allah, “Aku yang ngandung anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti…”.
Diterbitkan dalam buku "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai", 1994
Emha Ainun Nadjib

Rabu, 21 Desember 2016

ALTRUISME

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.
Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. Sedangkan Altruisme dalam agama Islam
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan. (QS al-Hasyr [59]: 9). Ayat ini berkaitan dengan sebuah riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa pernah ada seorang Muhajirin menemui Rasulullah saw. Ia lalu berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, saya sangat lapar sekali!" Mendengar itu Rasul segera membawa orang itu kepada salah seorang istri beliau agar ia memberinya makan. Namun, istri beliau itu berkata, "Demi Zat Yang mengutusmu dengan haq. Aku tidak memiliki apapun, kecuali air."
Nabi yang mulia lalu membawa orang itu kepada istri beliau yang lain. Istri beliau itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau kemudian membawa orang itu kepada istri-istri beliau yang lainnya lagi. Namun, jawaban mereka juga sama saja; mereka tidak memiliki apapun, kecuali air. Akhirnya, beliau bersabda kepada para Sahabat, "Siapa saja yang sanggup menjamu tamu ini pada malam ini, Allah pasti merahmatinya." Seseorang dari kalangan Anshar lalu berdiri seraya berkata, "Saya, ya Rasulullah." Orang Anshar itu pun membawa tamunya ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya, "Kita kedatangan tamu malam ini. Apakah engkau punya makanan?" Istrinya menjawab, "Tidak, kita tidak punya makanan, kecuali sedikit, untuk anak-anak kita." Lelaki Anshar itu berkata kepada istrinya, "Kalau begitu, tidurkanlah mereka. Hidangkan makanan itu untuk tamu kita. Jika ia sudah masuk rumah, matikan lampu, sementara aku akan berpura-pura sedang makan." Dalam kegelapan, tamu itu pun masuk dan dipersilakan untuk memakan hidangan yang tidak seberapa bersama tuan rumah, padahal tuan rumah hanya berpura-pura makan.
Keesokan harinya, Nabi saw. bersabda kepada suami-istri itu, "Sungguh, Allah sangat mengagumi kalian berdua karena perilaku kalian tadi malam dalam menjamu tamu kalian." (Al-Qurthubi, XVIII/24). Kisah di atas sangatlah populer dan sudahn sering kita dengar. Begitu seringnya diperdengarkan, bagi sebagian orang kisah itu mungkin sudah tidak menarik lagi; tidak lagi mengharukan, menyentuh kalbu, apalagi mempertajam empatinya kepada orang lain yang berada dalam kesulitan. Padahal kisah di atas setidaknya memberikan dua pelajaran (ibrah) yang senantiasa relevan untuk diingat oleh setiap Muslim dimana pun dan kapan pun. Pertama: Betapa Rasulullah saw. dan keluarganya tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang berada. Dalam banyak riwayat, Rasul bahkan sering 'terpaksa' shaum karena seringnya beliau tidak menemukan sesuatu untuk dimakan. Namun, yang menakjubkan, di tengah kebersahajaannya, Rasul yang mulia tetap memperhatikan kebutuhan orang lain. Kehidupan Rasul kekasih Allah seperti ini sejatinya menjadi cermin bagi kita yang selama ini mungkin merasa kekurangan atau miskin, bahwa kekurangan dan kemiskinan bukanlah alasan untuk berkeluh-kesah, berputus-asa, atau tidak mempedulikan orang lain. Apalagi jika kekurangan dan kemiskinan itu sampai mengakibatkan kita 'futur' di jalan dakwah. Bukankah Rasulullah saw. tidak pernah berhenti berdakwah hanya karena sering hidup dalam kekurangan?
Kedua: Betapa dalam kekurangan dan kemiskinan, Sahabat Anshar yang dikisahkan dalam riwayat di atas memiliki kesanggupan untuk mengutamakan orang lain (altruisme) ketimbang dirinya dan keluarganya. Ia sanggup mengenyangkan tamunya yang lapar meskipun ia sendiri dan keluarganya juga kelaparan. Gambaran Sahabat Anshar yang satu ini selayaknya juga menjadi cermin bagi kita, betapa kekurangan dan kemiskinan tidak boleh menghalangi niat untuk mengutamakan orang lain yang lebih membutuhkan.
Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana rasa simpati, empati, dan altruisme kita kepada saudara kita, bahkan yang sama-sama aktif dalam barisan dakwah, yang kehidupannya ekonominya jauh lebih buruk daripada kita. Pernahkah kita tahu, atau mencari tahu, bahwa di samping kita mungkin ada aktivis dakwah yang sering menahan rasa lapar (berpuasa) karena tidak ada uang untuk membeli makan? Padahal mungkin saat itu di rumah kita kelebihan makanan.

Rabu, 09 Maret 2016

Dhawuh Mbah Nun .

Kalau kau lembek, kau mudah diinjak.
Kalau kau keras, kau mudah dipatahkan.
Kalau kau pamer kuasa, kau akan mendapat perlawanan .

Orang itu dirangkul, jangan dipukul.
Orang itu diajak komunikasi, jangan dipameri.
Orang yang kau anggap bodoh, bisa jadi malah membongkar kebodohanmu .

Jangan pernah meremehkan siapapun.
Jangan pernah usik siapapun.
Jangan pernah sombong terhadap siapapun .

Kamis, 03 Maret 2016

Sahabat itu lebih dari keluarga?

Kalian pasti punya teman? atau teman yang paling akrab yang lebih disebut sahabat? kalo saya lebih mengangap sahabat itu seperti saudara sendiri. kenapa bisa? iya kalo ada sesuatu atau apa rasanya lebih enak dibicarakan dengan sahabat benar bukan begitu seperti hal hal yg gak masuk akal yg ada dinalar pikiran kita mungkin dengan berbagi masalah dengan sahabat kita pasti rasa nya jadi lebih lurus? Saya paling membenci kata "kalo ada mau nya saja ia datang, sedangkan jika kita membutuhkannya dia menghilang". buang deh kata kata tersebut dari pikiran anda. jika kita menggap benar benar itu sahabat kita, tanpa berkata pun dengan melihat tindakan kita dia pasti membantu kita walaupun dengan seadanya. oke cukup dulu basa basinya. arti sahabat menurut ilmu pskilogi itu apa sih? munculnya keingan untuk menjalain hubungan pertemanan yang lebih akrab atau yang dalam kajian psikologi perkembangan disebut dengan istilah friendship (persahabatan). Jadi persahabatan lebih dari sekedar pertemanan biasa, menurut McDevitt dan Ormrod (2002), setidaknya terdapat tiga kualitas yang membedakan persahabatan dengan bentuk hubungan dengan teman sebaya lainnya, yaitu :

1. They are voluntary relationships (adanya hubungan yang dibangun atas dasar sukarela.
2. They are powered by shared routines and customs (hubungan persahabatan dibangun atas dasar kesamaan kebiasaan)
3. They are reciprocal relationships (persahabatan dibangun atas dasar hubungan timbal balik.

Menurut Santrock (1998), karakteristik yang paling umum dari persahabatan adalah keakraban (intimacy) dan kesamaan (similiarity).
Intimacy dapat diartikan sebagai penyingkapan diri dan berbagai pemikiran pribadi. Karenda kedekatan ini, anak mau menghabiskan waktunya dengan sahabat dan mengekspresikan efek yang lebih positif terhadap sahabat dibandingkan dengan yang bukan sahabat (Hartub, 1989)
Santrock (1998) menyebutkan enam fungsi penting persahabatan, yaitu:

1. Sebagai kawan (companionship)
2. Sebagai pendorong (stimulation)
3. Sebagai dukungan fisik (physical support)
4. Sebagai dukungan ego (ego support)
5. Sebagai perbandingan sosial (social comparison)
6. Sebagai memberi keakraban dan perhatian (intimacy/affection)


Selasa, 12 Januari 2016

Al-mu’allim Syarwan

BISMILLAH, kutuliskan kandungan hatiku, bahwa aku berguru kepada siapa saja. Dari para kuli sampai presiden. Da­ri rumput kering sampai jin, malaikat dan Allah. Dan sekali ini, dengan segala kerendahan hati: kepada Mayor Jenderal Syarwan Hamid, Asisten Sosial Politik Kassospol ABRI, yang karena itu aku panggil beliau Al-mu’allim. Segala hal yang Al-mu’allim kemukakan mengenai cekal di GATRA mungkin sebagian ditujukan kepadaku, mungkin juga tidak sama sekali. Namun karena aku berguru maka kuterapkan kalimat-kalimat Al-mu’allim itu kepadaku, atau mengandaikan bahwa yang beliau maksud adalah aku. Sikap ini kuambil kare­na aku membutuhkan kandungan hikmahnya. Kupelajari setiap butiran kata-kata beliau, meskipun yang kutuliskan di sini tentu tak bisa semua. Aku membayangkan bahwa Al-mu’allim sedang memuji dan sedikit memarahiku sehingga aku berkewajiban untuk menjawab dan mempertanggungjawabkan. Dari beliau ingin kucari ilmu bagaimana melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 pada taraf yang paling dangkal dan verbal — seperti yang aku lakukan selama ini — agar bisa tak ter­lalu mendapat halangan dari abdi ne­gara yang ternyata juga ingin melak­sanakan Pancasila dan UUD 1945. Ini semua mungkin tak penting bagi negara dan bangsa karena ada dan tidaknya aku tidaklah ada bedanya. Tapi justru karena itu perkenankanlah aku belajar. Al-mu’allim berkata: “Kebebasan berbicara mesti diatur, jangan sampai menjadi counter productive bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.” Muridmu menjawab: “Bagaimana kalau dikumpulkan para ahli yang se­cara komprehensif dan jujur bisa menilai setiap kasus, seminar, diskusi, dan isi pembicaraan. Untuk memilah-milah mana yang produktif dan yang counter-productive bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagi kepentingan kekuasaan, bagi proses pencer­dasan bangsa, bagi peningkatan kualitas SDM manusia Indone­sia, bagi tradisi dialog dan demokratisasi, dan seterusnya — agar supaya pembicaraan AI-mu’allim tak berhenti abstrak dan gene­ralistik. Sebab selama ini, menurut pendapat muridmu, pelarangan-­pelarangan itu justru counter productive bukan saja bagi Pancasila dan proses demokratisasi, bahkan juga bagi kepentingan politik pemerintah sendiri serta bagi investasi kelanggengan kekuasaan”. Al-mu’allim berkata: “Kebebasan bisa dipakai untuk mengha­sut. Kebebasan bisa disalahgunakan, di samping bisa dimanfaat­kan untuk hal yang positif. Kalau kebebasan tak diatur, yang muncul tentunya akan bebas sebebas-bebasnya.” Muridmu menjawab: “Apakah kuningisisasi ala Pak Harmoko itu menghasut proses marjinalisasi Merah Putih? Apakah Muham­mad SAW menghasut kaum Jahiliyah untuk bertauhid? Menge­mukakan kebenaran disebut menghasut hanya oleh mereka yang tidak menghendaki kebenaran. Ya, Mu’allimku, kalau ayam itu mati, bukan karena kubunuh, melainkan karena kusembelih. Ada beda sangat prinsipil antara penyembelih ayam dan pembunuh. Ya, Mu’allimku, kalau dokter mengoperasi, itu bukan menyaki­ti pasien, melainkan berusaha menyembuhkannya.” “Menghasut itu kata yang tak bisa berdiri sendiri: ia membu­tuhkan konteks. lklan-iklan di televisi itu menghasut atau tidak, ya Mu’allimku? Tidakkah setiap pidato, setiap khotbah, bahkan setiap kata, termasuk yang diucapkan oleh Al-mu’allim, bisa juga disebut menghasut? Juga kata ‘disalahgunakan’, ‘positif’ dan seterusnya tak bisa berdiri sendiri. Apa beda antara menghasut, berdakwah, mengiklankan, mempromosikan, menasihati, mem­bimbing, dan memberi petunjuk? Bergantung dari sudut pandang mana, dari kepentingan pihak mana. Dalam hal ini, Al-mu’allim Insya Allah tak akan menjumpaiku di pihak mana pun kecuali di kosmos nilai, bukan di kelompok, partai, atau apa pun, tidak di pemerintah, tidak di rakyat. Alamatku adalah di ruang keyakinan nilaiku sendiri.” “Kemudian soal bebas sebebas-be­basnya, ya, Mu’allimku, kesadaran uta­ma hidupku bukanlah mengenai kebe­basan, melainkan mengenai keterba­tasan dan keterikatan. Jika aku punya kepandaian maka aku lebih pandai un­tuk mengerti batas dibandingkan de­ngan pandai untuk bebas. Aku tak mim­pi untuk bebas, ya, Mu’allimku, sebab aku lahir juga bukan karena aku bebas untuk lahir, melainkan karena aku di­ikat oleh Tuhan untuk harus mau lahir.” Dalam menjawab pertanyaan, “Me­ngapa pembicara yang nakal tak diha­dapkan dengan pembicara orang pe­merintah yang ahli, agar ada dialog”, Al-mu’allim berkata: “Kalau bicaranya terakhir mana bisa? Banyak terjadi me­reka sengaja bicara yang terakhir. Kalau sudah demikian, bagaimana meng-counter-nya“. Muridmu menjawab: “Ya, Mu’allimku, kalau melarang acara saja bisa, apa susahnya bagi aparat untuk mengatur agenda acara panitia? Ya, Mu’allimku, pembicara manakah yang punya kekuasaan untuk mengatur panitia agar ia diletakkan sebagai pem­bicara terakhir? Setahu muridmu ini, seseorang diletakkan seba­gai pembicara terakhir karena khawatir kalau ia bicara awal lan­tas hadirin pada pulang karena yang sesudahnya dianggap tak menarik. Ada pembicara saron, gèndér, gambang, ada juga pem­bicara gong. Percayalah, akan dua hal, ya, Mu’allimku. Pertama, tak ada saron atau gong yang berinisiatif datang sendiri untuk berbunyi. Kedua, sungguh tak enak jadi gamelan: dipukuli terus, nanti kalau sudah tak kung bunyinya pasti segera dicampakkan. Al-mu’allim berkata: “Ada forum akademis diisi oleh pembicaraan yang tidak ilmiah.“ Muridmu menjawab: “Aku inferior dalam soal ini, ya Mu’allimku. Aku berhenti belajar seusai sekolah menengah atas. Kemudian diperintahkan oleh orang banyak untuk melakukan tugas-tugas yang semestinya dilakukan oleh kaum intelektual, seniman, ulama, atau tokoh pergerakan.” “Tak pernah aku percaya diri bahwa aku bisa bicara ilmiah: Jadi, tolonglah muridmu ini dari mereka yang menyeret-nyeret ke kampus. Mereka menyuruhku bicara; tapi sebenarnya institusi keilmuan mereka tak pernah mempercayai kapasitas keilmu­wananku. Sebab ketika saya iseng-iseng melamar jadi dosen saja sekalian daripada ceramah-ceramah melulu, haqqul yaqin tak ada kampus yang bersedia menerirnaku. Jadi, yang sesungguhnya me­ngundangku itu bukanlah pihak yang berkapasitas sebagai ilmuwan, melainkan pribadi-pribadi yang kebetulan berkomuni­tas di kampus. Institusi ilmu di universitas tidaklah percaya ke­padaku.” “Jadi, ya, Mu’allimku, daripada aku terkutuk pada posisi bicara tak ilmiah dan ini membahayakan dunia perguruan tinggi ataupun aturan pemerintah, tolong hasut baliklah panitia-panitia itu dan berikanlah rekomendasi ilmiah agar mereka tak lagi mengundang­ku. Sebab di samping aku malu dan tak bangga pada posisi seba­gai pembicara, juga aku sungguh memerlukan proses dan pelu­ang untuk bertahan sebagai orang awam biasa. Ya Allah, bebaskan aku dari tirani kata-kata itu: ilmuwan, seniman, budayawan, kari­er, public figure, man makes news… mandikan aku sehingga yang tersisa dan yang utama adalah manusiaku. Ya Allah, aku rela sau­dara-saudaraku sendiri tak percaya kepada doaku karena doaku memang kupanjatkan tidak kepada mereka, melainkan kepada­Mu.“ Al-mu’allim berkata: “Saya juga mengingatkan kepada petu­gas di daerah agar jangan apriori….“ Muridmu menjawab: “Bisakah Mu’allimku tak hanya meng­ingatkan, melainkan memerintahkan dan mengecek pertanggung­jawaban mereka atas perintah itu’?“ AI-mu’allim berkata: “Kritik pun kalau sehat saya kira akan diberi tem­pat….” Muridmu menjawab: “Alangkah leganya muridmu sebagai orang kecil seandainya Mu’allimku tak menggu­nakan kata ‘saya kira’, melainkan ‘pas­ti’ atau ‘dijamin’. Lebih bersyukur lagi kalau terdapat kejelasan juga tentang apa yang Mu’allimku maksud dengan ‘sehat’ di situ.“ Al-mu’allim menjawab pertanya­an, pencekalan melanggar asas praduga tak bersalah. Belum terjadi apa-­apa kok sudah dilarang, dengau pernyataan: “Kalau berpikir begitu, namanya kita bekerja menunggu rumah kebakaran dulu baru bertindak.“ Muridmu menjawab: “Tentu yang Mu’allimku maksudkan bu­kan ‘kebakaran’ melainkan ‘dibakar’. Siapakah gerangan tukang bakar itu? Alangkah dungunya muridmu jika untuk ‘membakar’ ia menunggu kerepotan panitia yang hanya meugumpulkan bebe­rapa ratus orang. Bukan itu aset untuk ‘pembakaran’, ya Mu’al­limku, seandainya muridmu memang mau itu. Seberapa tingkat ‘bakar’ yang dimaksud? Taraf makar, mengajak memberontak, mengajak orang banyak memikirkan pcrsoalan bersama, mendina­misasikan proses berpikir, atau tingkat yang mana? Ilmu dan eti­ka apa yang kita pakai untuk mengukur sesuatu itu bersifat ‘bakar’ atau tidak? Di antara siapa sajakah soal ‘bakar’ ini boleh didis­kusikan? Petugas dari Polsek? Bakorinda? Ditsospol? Bupati? Camat? Bersediakah mereka berdiskusi tentang setiap unsur materi untuk menilai ia berpotensi ‘bakar’ atau tidak?” “Ya, Mu’allimku, kata ‘bakar’ itu abstrak, sedangkan yang muridmu butuhkan adalah patokan denotatif. Syukur jika Mu’allimku mengajarkan ilmu nuansa bahwa kalau seorang ibu mengecilkan kompor itu supaya nasinya tak gosong, sedangkan kalau ia membesarkan nyala api itu agar nasinya tak nglethis. Ya, Mu’allimku, bukankah mengasyikkan untuk berkumpul dan ber­cengkerama di antara kita semua: pemerintah, ABRI, mahasiswa, seniman, ulama, rakyat, dan lain sebagainya untuk menganyam akal sehat dan “mendemonstrasikan kearifan kolektif dalam rangka menghindarkan kemungkinan bangsa besar kita ini menjadi bangsa yang gosong maupun bangsa yang nglethis?” Al-mu’allim menyatakan: “Ada yang sengaja nakal. Terus kalau dicekal malah senang. Lantas kirim release ke mana-mana; menyatakan bahwa pemerintah represif?” Muridmu menjawab, “Ya, Mu’allimku, selama bertahun-tahun belakangan ini cita-citaku adalah tidur dan makan normal, syukur boleh berumah tangga dan tak harus 80% waktu diwajibkan keli­ling ke sana kemari sehingga yayasan-yayasan sosialku hanya kukerjakan sebagai sambilan. Aku sudah berusaha lari dari pani­tia-panitia, tapi terpojok terus, karena memang ada realitas kelapar­an, kehausan, keterasingan, dan kesepian — dalam berbagai arti dan nuansa — dalam kehidupan bangsa kita. Dan yang mereka perintahkan kepadaku adalah upaya pencerdasan rakyat, penum­buhan kekuatan masyarakat, sebagaimana pemerintah sendiri menganjurkan.” “Akhirnya, aku datang, lantas dicekal, lantas dimuat koran, lantas dibilang malah senang dilarang dan sengaja mencari popu­laritas, lantas dianalisis dan diasumsikan sebagai combe pemerintah yang disuruh pura-pura berjuang demi rakyat. Ya, Mu’allimku, traktirlah aku di sebuah restoran agak mewah supaya tuduhan itu benar dan penuduhnya terbebas dari dosa. Atau bukalah rahasia bahwa aku adalah agen kekuasaan, yang untuk menangkap pen­judi aku disuruh menyamar menjadi penjudi — karena, siapa tahu karena pikun, aku sendiri belum tahu fungsiku itu.” “Ya, Mu’allimku, kalau aku diam saja atas pelarangan itu, sahabat-saha­batku memprotes, ‘Mengapa kau diam saja’? Mengapa kau tak mendidik rak­yat dalam hal mempertahankan kebe­naran?’ Lantas kalau aku laporkan na­sib hak asasi ini, sahabatku yang lain menuding, Seneng ya dicekal? Promosi kan? Ya, Mu’allimku, ajarilah aku ilmu yang lebih tinggi dan lebih arif untuk menghadapi itu semua.” “Ya, Mu’allimku, perkenankan aku berkata, He bangsa Indonesia. Kalian sudah pinter-pinter, sudah pada sar­jana, sudah pada intelektual, sudah pada jenderal, sudah pada doktor. Ka­lian sudah gedhe-gedhe, sudah tahu mana baik mana benar mana salah. Qad ta­bayyana-rusydu minal-ghayyi. Berjalanlah ke cakrawala. Aku mau tidur. Mongso bodhoa….” “Ya, Mu’allimku, di dalam tidur itu aku menari, berdansa, ber­dendang: Kalau aku makan, bukan karena aku ingin makan, me­lainkan karena harus menjaga kesehatan. Kalau aku bicara dan menggerakkan tangan, bukan karena aku menginginkan, mela­inkan karena orang tidur harus dibangunkan. Adapun apa keingin­anku? Indonesia santun politiknya, adil ekonominya, tegak hukum­nya, indah kebudayaannya — sehingga berhak tidur sambil ber­anak-pinak.” “Adapun kalau ada saat-saat aku diam, ya, Mu’allimku, itu ka­rena dalam kegelapan, kebenaran tak punya alamat. Dan kalau kebenaran hanya diperdebatkan oleh kepentingan melawan kepentingan, ia tak akan sungguh-sungguh bersedia untuk dite­mukan….” “Dan akhirnya, ya, Mu’allimku, besar rasa terimakasihku ke­pada pelajaran dan hikmah dari Mu’allimku, yang mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ini; di samping ada negara, kekuasaan, birokrasi, ada juga manusia; ada hati kecil, firman Allah, dan lain sebagainya.” Pernah dimuat di Majalah Gatra, 1 Juli 1995 OLEH : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Rabu, 12 Agustus 2015

ALTRUISME






Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. Konsep ini telah ada sejak lama dalam sejarah pemikiran filsafat dan etika, dan akhir-akhir ini menjadi topik dalam psikologi (terutama psikologi evolusioner), sosiologi, biologi, dan etologi. Gagasan altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak bagi bidang lain, tapi metoda dan pusat perhatian dari bidangbidang ini menghasilkan perspektif-perspektif berbeda terhadap altruisme. Berbagai penelitian terhadap altruisme tercetus terutama saat pembunuhan Kitty Genovese tahun 1964, yang ditikam selama setengah jam, dengan beberapa saksi pasif yang menahan diri tidak menolongnya. Istilah "altruisme" juga dapat merujuk pada suatu doktrin etis yang mengklaim bahwa individu-individu secara moral berkewajiban untuk dimanfaatkan bagi orang lain.Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Istilah ini awalnya diciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan, Auguste Comte, dan telah menjadi topik utama bagi psikolog TINGKAH LAKU ALTRUISTIK 6 Tingkah Laku Prososial (bagian 1) Halaman 2 (terutama peneliti psikologi evolusioner), biologi evolusioner, dan etolog. Sementara ide-ide tentang altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak pada bidang lain, metode yang berbeda dan fokus bidang-bidang ini menghasilkan perspektif yang berbeda pada altruisme.


Tiga teori yang dapat menjelaskan tentang motivasseseorang melakukan tingkah laku altruisme adalah sebagai berikut :

1. Social – exchange : Pada teori ini, tindakan menolong dapat dijelaskan dengan adanya pertukaran sosial – timbal balik (imbalan-reward). Altruisme menjelaskan bahwa imbalan-reward yang memotivasi adalah inner-reward (distress). Contohnya adalah kepuasan untuk menolong atau keadaan yang menyulitkan (rasa bersalah) untuk menolong.

2. Social Norms: Alasan menolong orang lain salah satunya karena didasari oleh ”sesuatu” yang mengatakan pada kita untuk ”harus” menolong.”sesuatu” tersebut adalah norma sosial. Pada altruisme, norma sosial tersebut dapat dijelaskan dengan adanya social responsibility. Adanya tanggungjawab sosial, dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan dan tanpa menharapkan imbalan di masa yang akan datang.

3. Evolutionary Psychology: Pada teori ini, dijelaskan bahwa pokok dari kehidupan adalah mempertahankan keturunan. Tingkah laku altruisme dapat muncul (dengan mudah) apabila ”orang lain” yang akan disejahterakan merupakan orang yang sama (satu karakteristik).


Contohnya: seseorang menolong orang yang sama persis dengan dirinya – keluarga, tetangga, dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas, Myers (1996) menyimpulkan altruisme akan dengan mudah terjadi dengan adanya :


1. Social Responsibility, seseorang merasa memiliki tanggung jawab sosial dgn yg terjadi di sekitarnya.


2. Distress – inner reward, kepuasaan pribadi – tanpa ada faktor eksternal.


3. Kin Selection, ada salah satu karakteristik dari korban yang hampir sama .



Senin, 08 September 2014

Filosofi Matematika



Pernah nggak Anda berpikir…
1. Mengapa PLUS di kali PLUS hasilnya PLUS?
2. Mengapa MINUS di kali PLUS atau sebaliknya
PLUS di kali MINUS hasilnya MINUS?
3. Mengapa MINUS di kali MINUS hasilnya PLUS?
Hikmahnya adalah:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH
1. Mengatakan BENAR terhadap sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus matematikanya :
+ x + = +
2. Mengatakan BENAR terhadap sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH terhadap sesuatu yang BENAR adalah suatu tindakan yang SALAH.
Rumus matematikanya :
+ x – = -
– x + = -
3. Mengatakan SALAH terhadap sesuatu yang SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus matematikanya :
– x – = +
Pelajaran matematika ternyata sarat makna, yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup.