Minggu, 23 April 2017

KISAH CINTA IWAN FALS DENGAN ROSSANA

“Gue Seneng Sama Elo! Coba Pacaran, Yuk!”
Musik adalah hidup Iwan Fals. Lewat musik, lelaki bernama asli Virgiawan Listianto itu bertemu belahan jiwanya, Rosanna atau yang akrab disapa Yos.
Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal Iwan Fals bukan orang yang pandai bercerita, terutama mengenai peristiwa yang sudah puluhan tahun lalu terjadi. Meski sekelumit kisahnya masih melekat dalam pikiran, Iwan tak mampu mengurai secara detail cerita cintanya bersama Yos.“Soalnya sudah lama banget. Saya sudah lupa detail ceritanya,” kata Iwan, membuka perbincangan di rumahnya yang luas di Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Menerawang ke masa lalu, ayah tiga anak itu coba mengulang memori pertemuan pertamanya dengan Yos di kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang terjadi 27 tahun silam. Kala itu, Iwan sedang mengikuti Festival Musik Humor yang diselenggarakan mahasiswa IKJ. Ia tampil solo memainkan gitar dan harmonika. Sementara Yos, yang mahasiswi jurusan Seni Rupa di kampus tersebut, adalah salah seorang panitia festival.
“Saya masih ingat, waktu itu Yos pakai topi kayak Pak Tino Sidin. Dia kan anak Seni Rupa. Topinya juga banyak benderanya,” kenang Iwan, seraya tersenyum. Penampilan Yos yang trendi dan cenderung maskulin menggetarkan dawai hati Iwan. Iwan yang saat itu masih menyandang predikat siswa kelas tiga SMAN 26 Jakarta mengaku tertarik melihat sosok wanita kelahiran 1960 itu.
“Senang aja lihat dia kayak laki-laki. Ditambah lagi, sejak pertama bertemu, dia sudah memberi perhatian pada saya,” ujar Iwan tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sementara itu, diam-diam Yos pun memerhatikan sosok pemuda yang telah tercuri hatinya oleh penampilannya yang maskulin. Belakangan Yos tahu, ketertarikannya itu lebih didasari oleh minatnya terhadap lagu-lagu Iwan.
Sejak dulu, Iwan dikenal sebagai musikus pengusung tembang-tembang country dan balada. Pada acara festival itu pula, lelaki kelahiran Jakarta, 3 September 1961 itu sempat memberi Yos sekeping kaset yang berisi demo suaranya. Baru tiga tahun kemudian, suara emas Iwan itu direkam dalam tiga album sekaligus, yakni Serenade Kembang Pete, Frustrasi, dan Sarjana Muda.
Walaupun gadis yang disukainya adalah seorang mahasiswi, Iwan tidak merasa minder. Benih-benih asmara yang mulai muncul, ia biarkan bersemi hingga tumbuh menjadi seuntai cinta.“Masalah cinta kan enggak ada batas usianya. Kita ketemu, terus dianya kelihatan memberi perhatian, saya langsung penalti saja; coba pacaran yuk! Ternyata bisa berjalan tiga tahun. Cuma, kalau ditanya detail proses pacarannya bagaimana, saya lupa. Sudah lama banget kan tuh,” kata Iwan, yang mengaku deg-degan jika harus menggenggam tangan Yos.
Masa pacaran tiga tahun berjalan bukan tanpa hambatan. Di antara waktu tersebut, Yos rupanya sempat kepincut pria lain. Iwan mengetahui hal itu. Namun, putra pasangan Haryoso dan Lies ini tak pernah menyurutkan cintanya pada Yos. Di sisi lain, Iwan juga tahu Yos masih menaruh minat padanya. Sampai akhirnya Iwan nekat melamar Yos yang kala itu sudah memiliki kekasih baru.
“Saya merasa terhormat ketika saya ajak dia menikah, dia mau, padahal kan Yos sudah punya pacar. Saya bilang: ‘aku cuma bisa ngamen nih. Enggak ada cara lain untuk hidup, berani enggak?’ Eh, dia bilang berani. Hal itulah yang kemudian saya jadikan amanat buat saya menjaga hubungan kami.”
Iwan mengingat jawaban ‘ya’ dari Yos sebagai hal paling indah dari masa mudanya. “Soalnya, pasti berat untuk Yos memutuskan satu di antara dua lelaki. Saya sih maju terus walaupun dia sudah punya pacar. Rezeki enggak ke mana. Semua kan tergantung Yos. Saya hanya mengungkapkan perasaan saya saja. Saya cinta dia, saya ungkapkan. Saya bilang, ‘gue seneng sama elo!’ Gitu aja,” cerita Iwan, yang tak ingat lagi tanggal pernikahannya.
Buat Iwan, Yos bisa dibilang cinta pertamanya. Di masa mudanya, Iwan hampir tak punya pengalaman pacaran dengan gadis lain selain istrinya sekarang. Maka itu, ketika ditanya alasan dia memilih Yos, lelaki yang gemar olahraga karate itu tak mampu menjawab.
“Saya enggak tahu kelebihan Yos dibanding perempuan lain. Saya kan enggak pernah tahu (perempuan) yang lain. Mungkin karena nafsu saya terpenuhi di Yos. Pikiran saya, perasaan saya, negatif-positif saya, semua terpenuhi di dia,” kata Iwan. Kini, Iwan dan Yos sudah melalui 25 tahun usia pernikahan mereka. Iwan mengaku, cintanya pada sang istri masih sama seperti ketika keduanya pacaran.
“Saya baru merasakan, ternyata kita ini hidup. Banyak keajaiban yang terjadi setiap hari. Saya sendiri takjub, kok bisa ya tahan 25 tahun di saat pasangan lain baru tiga tahun kimpoi, cerai. Saya bersyukur juga karena memang pernikahan ini indah. Kalau enggak indah, ngapain nikah.”
“Saya selalu bilang ke Yos, sekarang saya menyayangi kamu. Besok enggak tahu. Enggak berani janji dong saya. Eh, ternyata besok tuh sampai 25 tahun,” kata Iwan lagi.
Cinta Makin Kuat Setelah Cobaan Itu Datang Pernikahan Iwan dan Yos berjalan mulus nyaris tanpa persoalan berarti. Kebutuhan keluarga tercukupi, anak-anak pun tumbuh sehat sejahtera. Sampai akhirnya musibah datang pada 1997. TAHUN itu, Galang Rambu Anarki, putra sulung Iwan dan Yos, meninggal dunia. Langit seakan runtuh. Galang yang disebut-sebut sebagai pangeran penerus jejak sang ayah, sangat cepat diambil Tuhan. Saat mengembuskan napas terakhirnya, personel band Bunga itu baru berusia 15 tahun. Tahun pertama kepergian Galang, kesedihan pun menggelayuti hati pasangan itu. Tak jarang, Galang datang menghiasi mimpi Yos. Bahkan, sampai Yos ngelindur. “Itulah cobaan paling berat dalam hidup kami. Untungnya saya selalu kembali lagi ke agama. Saya atasi kesedihan ini dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan,” kata Yos.
Jika rindu kepada Galang melanda, Yos hanya bisa menumpahkan air mata. “Iwan sih enggak ngomong atau menasihati apa pun pada saya. Karena kita berdua hobi baca, untuk menenteramkan hati, biasanya kita sama-sama baca buku saja. Kalau tiba-tiba saya tidur, ngelindur soal Galang, paling Iwan memeluk saya. Enggak ngomong apa-apa, karena kalau bicara kan kadang-kadang malah salah,” tutur Yos.
Tak lama setelah Galang meninggal, berturut-turut Iwan juga kehilangan ayah serta seorang saudaranya. Rasa kehilangan itu datang bertubi-tubi dan dirasakan sangat berat baginya. “Tapi, saya sadar, semua manusia pasti akan kehilangan orang yang mereka sayangi,” kata Iwan.
Tak ingin berduka terus-menerus, Iwan dan Yos melanjutkan kembali kehidupan mereka. Sampai akhirnya, Raya Rambu Rabbani lahir pada 2003, pada saat anak kedua mereka, Annisa Cikal Rambu Basae, berumur 18 tahun. Raya-lah yang kemudian menjadi pelipur lara Iwan dan Yos. “Sejak enggak ada Galang, saya merasa lebih dekat dengan Iwan. Sangat berkesan. Sama berkesannya dengan kelahiran Raya. Saya merasa, kehadiran saya di dunia jadi lebih bermanfaat. Kalau tadinya hanya ngurusin Iwan terus, sekarang saya harus merawat Raya juga,” ujar Yos. “Cikal sekarang sudah besar, sudah kuliah. Sesekali dia suka pulang malam. Iwan suka senewen, padahal saya pasti bilang kepada dia kalau Cikal akan pulang telat ke rumah. Saya lihat Iwan makin bertanggung jawab sebagai suami, ayah, dan manusia,” lanjut Yos. Perubahan kecil juga dirasakan Iwan sejak kepergian Galang. “Belakangan saya merasa lebih tegas. Namun, soal agama, Yos lebih kuat. Dia selalu siap memenuhi semua kewajibannya. Di sisi lain, saya juga berusaha memberi apa yang saya punya untuk dia,” Iwan menyambung ucapan sang istri. Seperempat abad hidup bersama membuat Yos semakin bisa memahami Iwan meskipun dulu dan sekarang Iwan tidak terlalu banyak berubah.
“Iwan tetap Iwan yang saya kenal. Secara fisik dia berubah, tapi itu kan pasti dialami semua orang. Tambah umur, dia justru semakin matang dan sabar menghadapi persoalan apa pun. Musibah dalam keluarga selalu kami kembalikan pada nilai-nilai agama. Itu yang membuat kita yakin, yang terbaik adalah menghadapi semua persoalan,” tutur Yos. “Akhir-akhir ini kita malah sering punya persamaan feeling. Di awal pernikahan dulu, seringnya enggak nyambung, salah duga, beda tebakan. Sekarang mulai ada persamaan. Apalagi, setelah Galang pergi,” timpal Iwan. Tahun ini usia Iwan akan mencapai 44 tahun. Meski demikian, ketua umum organisasi massa Orang Indonesia (OI) itu masih merasa muda. Detik demi detik perubahan fisik manusia, ia nikmati sebagai sebuah keindahan. “Justru saya semakin penasaran. Di usia segini, saya suka loyo. Nah, setelah fase loyo, apa lagi nih? Ternyata, perhatian Yos juga enggak berubah. Dia makin bisa bikin saya penasaran,” kata Iwan, tanpa memerinci hal-hal yang membuatnya penasaran itu. “Saya bergairah terus sama Yos. Mudah-mudahan dia juga begitu. Saya selalu merasa baru menikah walaupun sudah lama. Senang aja jadinya. Kayak pacaran terus,” kata Iwan lagi. Meski berani mengungkapkan perasaannya pada Yos, namun dalam sikap, Iwan tidak seromantis tembang-tembang cintanya. Makan malam berdua di bawah temaran cahaya lilin, misalnya, tak pernah sekalipun mereka lakukan. Cinta di hati keduanya hanya terpupuk lewat perhatian serta kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan.
“Cinta kami tumbuh begitu saja sih. Alhamdulillahnya lagi, saya tidak mengalami persoalan ekonomi. Terkadang cinta kan juga butuh uang. Rumah tangga pun begitu. Rezeki kami ada saja, sehingga kami enggak bingung mencari kebutuhan sehari-hari,” tutur Iwan, yang menyerahkan semua urusan rumah tangganya kepada Yos. Di samping persamaan, Yos dan Iwan juga memiliki perbedaan tabiat. Iwan yang terkesan temperamental dan meledak-ledak dalam membuat lirik lagu, ternyata cukup lembut pembawaannya. Bahkan tak jarang, ia bersikap manja pada sang istri. “Dulu kalau saya nyuapin Galang dan Cikal, dia enggak ketinggalan minta disuapin. Pokoknya, dia tuh termasuk suami yang selalu minta dilayani. Iwan juga lembut. Kalau kita lagi marahan, yang ngebanting pintu, istilahnya, itu saya. Iwan justru diam kalau lagi marah,” kata Yos.
Saling Menghormati jika Pasangan Cemburu Hidup bersama seorang superstar seperti Iwan bukan hal mudah. Terlebih ketika fenomena groupies, kelompok penggemar fanatik, wanita kian menjamur. Kecemburuan Yos bertambah kala melihat fans wanita Iwan yang agresif.
IWAN pun sesungguhnya termasuk pria pencemburu. Ia tak berusaha menampik perasaan itu dengan berpura-pura cuek terhadap pasangan. Cemburu, bilang cemburu. Meski kemudian ia harus bertengkar hebat dengan istrinya. “Saya cemburuan, Yos juga cemburuan. Tapi, saya bisa menghormati kecemburuan dia. Ternyata asyik juga kok cemburu. Ada rasa deg-degan-nya, he, he, he …,” ujar Iwan.
Iwan bukan tak menyadari fans wanitanya banyak dan bahkan ada yang menuntut lebih darinya. Namun, sejauh ini ia mengaku masih bisa mengendalikan emosi. Sesekali pernah juga tebersit keinginan penyuka olahraga karate itu berpoligami. Sayang, Yos tidak mengizinkan. “Kadang-kadang terpikir juga sih. Apalagi kalau lihat perempuan cantik, muda, wah …. Kemarin saya baru bilang, Yos boleh enggak ngelirik-lirik perempuan? Ternyata enggak boleh sama dia,” kelakar Iwan. Ungkapan jujur Iwan untuk membagi hatinya dengan perempuan lain boleh jadi hanya sebuah canda sebab semakin hari, cintanya pada Yos justru dirasa kian bertambah. Iwan sadar, kecantikan wanita bukan segala-galanya.
“Kecantikan bukan dilihat dari fisik saja kok. Kalau ukurannya hanya itu, berapa banyak perempuan yang cantik? Kecantikan ternyata ada di balik kerutan, dari tulang yang mulai sakit, atau pada situasi menjelang menopause. Itu juga kan keajaiban dan harus disyukuri. Apa yang saya dapat dari Yos sudah lebih dari cukup,” kata musikus yang menghabiskan masa sekolahnya di Bandung, Jawa Barat.
Tak ada dalil khusus yang diterapkan Iwan, menjaga bunga cintanya pada sang istri tetap mekar sepanjang masa. Seperti lirik-lirik lagunya, Iwan lebih suka membiarkan semua mengalir bagai air, tanpa ada janji-janji yang muluk. “Tinggal bagaimana kita menyirami benih-benih yang sudah Tuhan kasih. Ini ladang kita, bisa enggak kita rawat? Rasa bosan pasti ada dan saya yakin Yos pun bosan sama saya. Tapi, kita terima saja kebosanan itu sebagai rahmat. Kalau mengutip ucapan Aa Gym, jadikan keluarga sebagai ladang amal kita,” kata Iwan bijak.
Di usianya yang semakin senja, Iwan justru terlihat semakin tampan. Penilaian ini banyak dikemukakan oleh para penggemarnya. Menanggapi hal tersebut, Yos hanya bisa mengucap syukur. Begitu pun ketika fans wanita Iwan berlaku sedikit mesra pada sang musikus.
“Dibilang terusik, pasti terusik. Tapi, enggak apa-apalah. Alhamdulillah saja karena berarti saya masih dikasih kesempatan bersama Iwan dan dia tidak tergoda,” ucap wanita berjilbab itu. Yos berharap, cobaan berupa orang ketiga yang berpotensi merusak rumah tangga mereka tidak akan terjadi. Untungnya lagi, Yos kini juga bertindak sebagai manajer Iwan. Jadi, ke mana pun sang suami pergi, Yos pasti ikut mendampingi.
“Dengan mendampingi dia dalam tim manajemen, saya jadi lebih mengerti. Kalau dulu kan saya di rumah, enggak ikut Iwan. Saya selalu punya pikiran sendiri, ‘wah lagi ngapain ya dia?’ Berhubung sekarang saya manajernya, ke mana pun Iwan pergi, saya ikut. Kalau ada fans perempuan melukin dia, saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri. Saya lihat bagaimana reaksinya. Kalau Iwan kecentilan, pulangnya langsung saya labrak. Tapi, kalau Iwan dalam posisi enggak bisa menolak, saya tetap mengerti kok,” tutur Yos.
Yos percaya Iwan setia padanya. Begitu pun sebaliknya, sebab pasangan yang menikah di Garut, Jawa Barat, ini mengaku, sama-sama takut pada Tuhan. “Kita kan punya salat lima waktu. Pada saat zuhur, kita melakukan sesuatu yang tidak baik, ada kesempatan di waktu ashar untuk mengucap istighfar, dan memohon petunjuk bagaimana sebaiknya saya bersikap setelah ini,” kata Yos, yang mengaku sangat terbuka pada Iwan.
Di mata Yos, Iwan bukan suami yang mampu bersikap romantis, seperti cerita dalam film ataupun sinetron. Romantis versi Iwan lebih merujuk pada perhatian superekstra terhadap pasangan. “Buat saya, Iwan sangat romantis, tapi enggak seperti di buku atau film. Misalnya dia lagi melakukan tur musik. Di sela-sela jadwalnya, dia masih suka mengingatkan saya agar menjaga kesehatan. ‘Lo jangan sakit ya’. Untuk saya, itu romantis banget,” urai Yos.
Menyikapi masa puber kedua Iwan, Yos juga punya resep jitu. “Kuncinya, jangan tinggalkan salat. Kalau puber, pasti dia ngomongin perempuan lain dong. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa menunjukkan kalau saya enggak suka. Tapi, enggak pakai ngomel-ngomel lo,” kata Yos, yang berusia satu tahun lebih tua dari suaminya.
Iwan kemudian menimpali ucapan sang istri dengan sebuah harapan yang tanpa diembel-embeli angan setinggi langit. “Mudah-mudahan keluarga kita tetap utuh. Ya…, enggak tahu juga sih. Cinta itu kan misteri. Kebetulan keyakinan saya Islam, di mana ruang-ruang untuk berpoligami itu terbuka cukup lebar. Tapi, kalau Yos enggak mengizinkan, kan enggak bisa,” katanya.
oleh: bobies.multiply.com

Jumat, 17 Maret 2017

Kehidupan Iman
 Kehidupan Puisi

Saya ingin menabung satu mata rantai pemahaman yang agak ‘teknis’, agak kognitif, serta yang sederhana saja. Orang-orang Maiyah melihat, mendekat, kemudian ada yang memasuki pintu yang bernama Kehidupan Puisi. Sebagian dari mereka dengan sadar dan tergetar kepada figur yang bernama Umbu Landu Paranggi. Mereka sudah tahu belajar kepada Umbu bukanlah terutama mempelajari puisi-puisi Umbu, meskipun universitasnya bernama Kehidupan Puisi. Perlahan-lahan mereka mengerti dan semakin memasuki hutan rimba pengertian yang sama sekali berbeda dengan ‘mindset’ umum tentang belajar dan pembelajaran. Juga belajar dan pembelajaran puisi. Bahkan pun juga tentang (yang dimaksud, keluasan dan kesempitan, kedalaman dan kedangkalan) puisi itu sendiri. Belajar Kehidupan Puisi kepada Umbu Landu Paranggi adalah menelusuri jalanan panjang hingga ke maqamat Umbu. Meniti dan niteni irama langkahnya. Menggambar kepribadiannya. Kecenderungan-kecenderungannya. Bahasa dan pola-pola ekspressi serta komunikasinya yang ternyata lebih banyak dijumpai sebagai diskomunikasi — kalau dipandang dari jendela pemahaman baku dan lugu masyarakat buta huruf batin yang membesarkan mereka. Para pembalajar, para pejalanan Lelaku Kehidupan Puisi, semakin hari semakin tahu bahwa salah satu kepastian yang hampir pasti adalah mereka belum pernah dan mungkin benar-benar tak akan pernah bertemu langsung dengan Umbu Landu Paranggi. Dan sungguh-sungguh kenyataan itu tidak harus menjadi masalah sama sekali, kecuali bagi para pembelajar modern yang naif, yang tertutup kehidupannya dari fenomenologi Bambang Ekalaya seperti yang Iman Budhi Santosa menuturkannya dalam puisi “Guru Batu Bambang Ekalaya”: “Demi Dewata, kusebut kau guruku, Batu” Maka, jadilah ia guru batu, Guru Dorna Mantram kesaktian di sekujur tubuhnya Mengajar menjawab dalam berbagai tanda…. Masyarakat yang ditipu oleh atmosfir global yang membuat mereka menyangka sedang berada dalam persekolahan modern dan tradisi akademis kognitif, dengan mudah terpeleset ke persepsi bahwa mereka sedang dianjurkan untuk berguru kepada batu. Karena mereka umumnya tidak bergerak dari ‘materi’ yang berbunyi guru batu. Orang modern hobinya kemapanan. Kalau mendengar kata mobil, mereka berhenti pada mobil. Mendengar batu, tinggal di batu. Mendengar rumah, mapan di rumah. Bahkan mendengar Dorna, mandeg statis stigmatik di persangkaan umum tentang Dorna. Iman Budhi Santosa Iman Budhi Santosa Salah satu puncaknya mereka ditunggu syahadatnya oleh Allah malah membaca syahadat. Sekali seumur hidup, ditambah melakukannya lagi dalam jumlah yang Allah memaksa mereka untuk mengucapkannya dalam shalat dan adzan. Padahal syahadat terletak dan diuji di setiap langkah mereka, di setiap butir nasi mereka, di setiap tetes keringat mereka, di setiap keputusan mereka, di setiap lendir dahak batuk mereka, di setiap lenyapnya bensin dari motor mereka, di setiap kantor, rumah, kebun, sawah, profesi, jabatan, kata, pernyataan, keputusan, pun cita-cita dan apa saja serta kapan saja dalam kehidupan mereka. Masih tersisa wangi doa dan dzikirmu, Ibu pada sajadah tua yang kau wariskan kepadaku Ada sunyi tahajud, kelitik bunyi tasbih merajut detik demi detik ketika malam larut hati dan mulut mengajarkan syahadat shalawat pada bayi dalam kandunganmu …. Di atas sajadahmu, Ibu kutulis buku demi buku menemani sujudku kepadamu (“Sajadah Ibu”) Apakah susah memperoleh pemahaman bahwa hidupmu adalah sujud di atas sajadah warisan Ibumu? Apakah sulit menemukan kecerahan pandangan bahwa senyata-nyatanya engkau kuliah, engkau bekerja dan engkau berjuang sebagai aktivasi sujud di atas sajadah Ibumu? Apakah tidak rasional dan terasa artifisial bahwa para petani mencangkul, Raja berdarma, cendekiawan berkarya, seniman menorehkan rahasia, arsitek mendirikan, pedagang menseimbangkan, dan siapapun apapun, adalah Kehidupan Sujud di Sajadah Ibu mereka masing-masing? Jadi apakah Kehidupan Puisi itu abstrak? Apakah Kehidupan Cangkul, Kehidupan Pena, Kehidupan 010101, Kehidupan Garis, Kehidupan Warna, Kehidupan Cahaya, Kehidupan Sawah Ladang, Kehidupan Maiyah, itu belum terang benderang bagimu? Belum memancar, belum Khobir, belum Mubin, belum berbinar-binar memancar jadi cahaya di permukaan wajah kehidupanmu? Bahkan apakah pecah kepala Indonesiamu, pusing tujuh keliling globalisasimu, putus asa berkepanjangan era zamanmu, tak bisa kau rebahkan dalam ketenteraman yang cerdas, dalam ketenangan yang tajam, dalam makrifat yang mendalam, belum ber-maqam dalam ketertuntunan langkah ke depanmu yang terang benderang? Jadi, benar bisik gerimis dalam mimpi Bahwa di manapun engkau berdiri Di situlah tanah airmu yang sejati… (“Ketika Jutaan Anak Tersesat di Indonesia”) Apa belum terang benderang di mata kesadaranmu bahwa engkau tidak hidup di Indonesia, karena Indonesia engkau genggam di tangan kananmu? Apakah belum nyata di jagat batinmu bahwa engkau bukan anggota klub Globalisasi, karena dunia global itu kau ‘cangking’ di tangan kirimu? “Di mana engkau bersujud, di situlah Masjid”. Apakah ada kalimat yang bisa lebih menjelaskan hahekat yang terkandung dalam ucapan Nur Muhammad melalui bibir Muhammad bin Abdullah ini? Apakah esok pagi tatkala bangun pagi engkau sanggup menemukan dirimu di Rumah Maiyah, Kehidupan Maiyah, Negeri Maiyah? Sembari menata kembali batas-batas kewajibanmu, kadar-kadar perjuanganmu, skala tuntutan Allah kepadamu, hingga setiap menatap Indonesia yang penuh kemalangan itu terdengar bisikan Allah “La takhof wa la tahzan innallaha ma’ana”: jangan cemas dan sedih menatap Negeri Angkuh Dungu yang memisahkan diri menjadi tetangga kita dan Allah? Bersegeralah menentukan Kehidupanmu sendiri. Kehidupan Salik? Kehidupan Dekonstruksi? Kehidupan Kreatif? Kehidupan Roda? Kehidupan Jeruji? Kehidupan Suku Dalu? Apapun saja. Tidak ada kewajiban apapun dari Allah, jika engkau mengerti bahwa pada hakekatnya itu semua adalah keniscayaan hidupmu sendiri. Tidak ada tuntutan apapun dari Kehidupan Maiyah, dari Kehidupan Puisi, dari Kehidupan Iman, jika engkau menyadari bahwa itu semua adalah horizon kerinduan rohanimu sendiri. Langkahkan kaki kokoh dengan hati cerah dan pikiran tajammu. Apapun saja, asalkan dengan ridlo, Aku akan menyongsong dan menyambutmu: Sepatuh air akupun mengalir Menawarkan buih, bunga tanah, dan pasir Menghidupkan lumut ganggang Menggamit kalian berani telanjang Mandi sunyi mengurai diri ke berbagai sendang …. Serupa kayu akupun mau Buat pagar atau dibakar. Seumpama lagu Siap dinyanyikan, juga dilupakan …. Sahabat, aku datang karena cinta… (“Karena Cinta”) Agar supaya lebih nikmat hidup ini, agar supaya lebih indah hidupmu dan hidupku, kisahkan kepadaku Kiyaimu, Ulamamu, Ustadzmu, yang mengajar dan mendidikkan kepadamu hal peribadatan kepada Allah dan pelayanan rahmatan lil’alamin kepada sesama makhluk, yang lebih indah dari cara Iman Budhi Santosa menuturkannya kepadamu dalam puisi itu. Atau kutipkan kepadaku keindahan semacam itu dari Buku-buku Tafsir, Pelajaran Islam, Kitab Kuning, Jurnal Kaum Cendekiawan Muslim atau apapun. Atau barangkali dari Disertasi dan kumpulan Tesis-tesis modern yang engkau kagumi. Tatkala nanti akhirnya engkau mengalir kintir dalam keindahan itu, semoga engkau menemukan bahwa sesungguhnya itu toh bukan dirimu. Bukan engkaumu. Apakah engkau sanggup ada dan menjadi engkau tanpa Engkau? Apa hulumu, mana hilirmu, sehingga engkau meng-aku engkaumu? Yang kau temukan sebagai engkau, sesungguhnya hanyalah permainan hologram dan simulasi cinta hasil karya Engkau. Adapun yang kau jalani itu shirat-mu, syari’-mu, thariq-mu. Syukur engkau merdekakan dirimu terlebih dulu dari kondisi-kondisi mutanajjis dan musta’mal pada idiom shirothol-mustaqim, thariqat dan syariat — yang tiba kepadamu tidak sebagai thahir-muthahhir kata itu sendiri, melainkan dibungkus oleh tafsir-tafsir hari kemarin yang harus kau temui dan layani dengan santun tapi kritis, dengan sopan namun krearif, dengan mendengarkan tapi siap mempertanyakan. Apakah masih samar-samar bahwa rumahmu itu bukan rumah, melainkan tempat persinggahan sangat sementara? Apakah belum bisa kau letakkan di peta saraf akalmu bahwa harta benda, jabatan, gaji, kemasyhuran, eksistensi yang sesungguhnya sia-sia untuk kau primerkan sebagai tujuan itu hanyalah sebutir dua butir wirid di tengah perjalanan panjang thariqat kehidupanmu agar kompatible untuk bergabung kembali dengan Mu? 67 Tahun Iman Budhi Santosa 67 Tahun Iman Budhi Santosa Apakah belum khatam perjalanan ilmumu sejak dini hari Maiyah bahwa jangan sampai engkau disengsarakan oleh letak terbalik dan maqam kesesatan tatkala tujuan dan jalan, sebab dan akibat, wasilah dan ghoyah — engkau campur adukkan, engkau bolak-balik, di dalam disproporsi hidupmu yang seru, heboh dan gegap gempita namun kosong melompong di mustakanya? Sudah berapa kilometer ruhaniyah perjalanan ketenteraman fikiran dan batinmu sebagai Khalifah Kehidupan dan Kehidupan Khalifah sejauh Kehidupan Maiyah yang engkau alami, kembarai dan cakrawalai? Manusia Iman, Manusia Budhi, Manusia Santosa, Kehidupan Iman, Kehidupan Budhi, Kehidupan Santosa, menghamparkan kepadamu sawah ladang ilmu dan keindahan, buku-buku ilmu dan lembar-lembar pengetahuan — asalkan engkau mulai mengerti kenapa musti mudik ke “Kampung Halaman”. Siapkan waktu sejenak beberapa jenak di pagi siang sore malammu, namun dengan ketulusan pencarian ilmu dan kekosongan penerimaan hidayah dari Allah yang menyamar di balik punggungmu dan punggung penulis puisi-puisi itu, bacalah dan selamilah pelan-pelan tanpa menyangka bahwa engkau akan pernah selesai melakukannya. Maka, pandanglah dirimu: apakah malam ini engkau masih meyakini bahwa sedang menghadiri pembacaan puisi oleh seorang penyair? Mari gerakkan kaki dan pikiranmu turun menginjak bumi: Salah satu alat yang dipergunakan oleh ummat manusia untuk saling menyambungkan dirinya satu sama lain adalah kata. Ketika sejumlah kata dirangkai, disusun dan dikomposisikan untuk mewakili dan menyampaikan suatu makna, mereka menyebutnya kalimat. Kemudian di antara sekian cara manusia menyusun kata dan kalimat, terdapat suatu jenis atau formula yang disebut puisi. Para penyusun kata dan kalimat menjadi puisi itu dinamakan Penyair. Sebutan Penyair itu sesungguhnya sekedar semacam inisial untuk memudahkan keperluan kategorisisasi sosial dalam pergaulan manusia. Semacam simplifikasi teknis yang aslinya belum tentu oleh kebudayaan manusia dijaga secara sungguh-sungguh dengan batas nilai, parameter atau kwalifikasi yang berprinsip. Di dalam budaya materialisme, kapitalisme dan industri, setiap orang yang punya biaya bisa menyusun kalimat-kalimat, mengumpulkannya menjadi sekian puluh atau sekian ratus halaman, menerbitkannya dan menamakannya Buku Kumpulan Puisi. Tidak benar-benar ada kontrol atau kritisisme terhadap fakta kwalitatif apakah itu semua puisi atau sekedar deretan kata dan kumpulan kalimat. Tatkala ratusan Buku semacam itu beredar memenuhi Toko Buku dan rak-rak almari buku masyarakat, tanpa dialektika kwalitatif nilai-nilai dalam perikehidupan budaya masyarakat, pada kenyataannya sangat besar potensi yang muncul bahwa yang terbaca bukanlah puisi. Semua kumpulan kata dan susunan kalimat itu disepakati untuk dinamakan puisi sekedar karena orang-orang tidak punya kemampuan untuk menjelaskan atau membuktikan bahwa itu bukan puisi. Maka kalau Anda terlalu yakin dan mempermudah persepsi diri bahwa Iman Budhi Santosa adalah salah satu edisi dari barisan jenis Penyair kumpulan kata dan susunan kalimat semacam itu, maka sangat kecil kemungkinan Anda sungguh-sungguh berjumpa dengan Iman Budhi Santosa. Bahkan sebaiknya Anda jangan terlalu optimis untuk percaya bahwa Iman Budhi Santosa adalah Penyair yang menulis (dan membacakan) puisi-puisi, jika Anda masih belum memerdekakan diri dari hampir semua wacana, pengetahuan dan pemahaman yang menimpa, menaburi bahkan menenggelamkan dan mengotori fikiran dan batin Anda, yang berasal dari bacaan-bacaan, buku-buku, media-media tulis, jurnal-jurnal sastra, atau apapun yang mengantarkan kepada Anda beribu-ribu salah sangka tentang Penyair dan Puisi. Apa yang berlangsung di dalam diri Iman Budhi Santosa bukan desakan-desakan untuk menulis puisi, terlebih-lebih lagi keinginan untuk menjadi Penyair. Bahasa jelasnya, Anda jangan tertipu atau terjebak oleh kerendahan hati dan penyamaran Iman Budhi Santosa yang mengaku Penyair dan malam ini membacakan puisi-puisi. Coba baca akhir “Catatan Harian Seorang Sultan” ini: Sekian musim bercermin pada rumput pada taman yang berlumut, sisa keraton tinggal bangunan tua dan rindang pohon. “Jangan panggil aku Gusti….” Tapi, mereka nekad ngapurancang di depan cepuri nenunduk pada huruf-huruf Jawa yang tak terbaca oleh lidah yang lama mengembara Iman Budhi Santosa berhati sangat lembut. Tidak tega menuliskan “Aku bukan keturunan Raja, aku hanya diperintah untuk menjadi Sultan. Maka dengan ini kusampaikan Tahta Untuk Rakyat”. Ia tidak memiliki perasaan yang kasar untuk tega menorehkan kata “anjing herder di kraton kilen”, “pusaka-pusaka merasakan sesak panas kumuh sehingga pergi meninggalkan keraton”, atau berbagai kalimat lain. Akan tetapi mestinya Anda tidak perlu menjadi Doktor Ilmu Sejarah, tidak perlu menjadi mahasiswa jurusan Sejarah (: sejarah kok jurusan..) untuk ‘hancur lebur’ seluruh tatanan kosmos pengetahuan Sejarah Anda oleh kalimat Iman Budhi Santosa “sisa keraton, tinggal bangunan tua dan rindang pohon…jangan panggil aku Gusti”. Anda semua adalah penduduk suatu Negara yang sekedar namanya sajapun tidak ditentukan oleh Bangsanya sendiri, para Leluhur atau nenek moyang Anda. Apalagi nilai-nilai yang mendasarinya, konstitusi dan hukumnya, filosofi politiknya, pengetahuan Sejarah dan asal usul ke’bangsa’annya. Anda didaftar sebagai Warga dari suatu Negara yang Anda tidak memiliki pengetahuan tentang sangkan-parannya, tentang sebab akibat historisnya, tentang koordinat geo-powernya di tengah Pemerintahan Dunia (yang me-)Rahasia(kan) dirinya. Sebaiknya kita memulai belajar kembali dengan hadir besok Senin Kliwon 6 April 2015 peringatan 523 tahun “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” di Rumah Maiyah ini. Sebelum itu selamilah dan belajar kepada Ibu-Ibu Simbok-Simbok di “Orang-orang Batik Usia Senja Belakang Keraton Yogyakarta” tentang kesetiaan diri kepada Diri. Ambil waktu untuk membubarkan segala pengetahuan dan pemahamanmu tentang kependidikan yang menghancurkan manusia secara gegap gempita di abad-abad modern ini, dengan belajar kepada “Setangkai Bunga Buat Ibu Guru TK”. Ambrukkan tembok ilmu abad 21-mu untuk memperlebar pintu ilmu dan keindahan tentang perkawinan dan rumah tangga, agar engkau tak mandeg pada kelelakian dan keperempuanan, kemudian mencakrawala ke hakekat dan kasunyatan “Pengantin Puisi, Pengantin Sunyi”. Aku hanya menuding beberapa pintu di hamparan kosmos “Kampung Halaman” Iman Budhi Santosa. Engkau akan menemukan ribuan pintu lainnya, dan ribuan pintu berikutnya di setiap pintu. Apakah engkau masih yakin bahwa Iman Budhi Santosa adalah atau hanyalah seorang penyair, seorang penulis puisi yang malam ini sedang membacakannya kepadamu? Yogya 29 Maret 2015. OLEH : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Senin, 13 Februari 2017

Surga di Ikhlasmu, Bu

Dari manakah engkau memperoleh ilmu? Dari bumi Allah. Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur`an.
Bagaimana engkau memperoleh airnya? Dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya.
Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmumu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya.
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku. Umpamanya pada 1965 di pesantren, ketika aku tiba di salah satu puncak tirakatku dalam keadaan kurus pucat dan kepala gundul. Atau, tatkala menjelang Pemilu 1987 Partai Persatuan Pembanguan memojokkanku: mereka mengumumkan bahwa aku akan tampil di alun-alun Yogyakarta, di depan masa kampanye mereka. Padahal, aku ini anggota partai mbambung sekaligus individu independen.
Ibu datang meskipun tak tahu menahu tentang fait accompli itu dan berkata, “Hadirlah, hadirilah, belalah yang benar dan kritiklah yang salah…!” Maka, aku naik panggung, berterima kasih kepada PPP yang bersedia mengundang orang nonpartai, kemudian omong kepada massa bahwa mereka harus mampu menagih janji pemimpin-pemimpin mereka.
Ibuku datang pula beberapa hari yang lalu, ketika orang-orang di sekitarku ribut soal pemuatan majalah SMD yang dibaca oleh ribuan orang Islam di kota-kota maupun di pelosok dusun. Majalah itu menyebut bahwa aku ini kaki tangan salah satu kelompok penerbitan, disogok uang sangat besar, diberi fasilitas di kantor-kantornya, membantu perjuangan kelompok non-Islam, tulisan-tulisanku menghantam kepentingan Islam, bahkan berusaha ikut memusnahkan Islam dari muka bumi.
Tulisan itu diekspos justru ketika aku dalam keadaan setengah teler, sempat tak tidur 43 jam, dalam rangkaian perjalan Yogyakarta-Madiun-Jombang-Pare-Malang-Surabaya-Jakarta-Yogyakarta kembali untuk bercengkerama dengan ratusan atau ribuan orang Islam.
Teman-teman di sekitarku naik pitam. “Kau harus protes! Kau harus bawa kasus ini ke pengadilan! Itu fitnah, fasis, otak kotor, roh jahat, mental comberan! Merobek-robek ukhuwah Islamiah! Dan, lihat! Belum ada seorang tokoh atau siapa pun orang Islam yang membelamu! Umat Islam bukanlah ummat wahidah, buktinya tidak terasa ada kohesi antar unsur-unsur di dalamnya! Untuk apa kamu capai-capai tiap hari keliling-keliling ke sana kemari untuk mengurusi umat dataran bawah, kalau melalui puncak makuta-nya kamu ditikam seperti ini!”
Macam-macam komentar mereka, dan sialnya, aku cukup terpengaruh. Kusetujui pembikinan semacam selebaran yang disebarkan semacam ala kadarnya pada momentum Muktamar Muhammadiyah. Sesungguhnya, bagiku itu sekadar permainan biliar: nyodok bola ke sana supaya mantul ke situ.
Selebaran itu mengancam bahwa pentas “keluarga sakinah” akan kubatalkan kalau tidak ada pihak dari umat Islam yang nahi munkar terhadap fitnah itu. Namun, diam-diam kubisiki ibu-ibu Aisiyah dan para pemain bahwa mereka tak usah peduli pada ancaman itu, sehingga mereka meneruskan latihan dengan tenteram.
Aku juga bilang akan bermujadalah, mengirimkan tulisan untuk membuktikan ketidakbenaran tulisan itu dengan fakta maupun argumentasi. Namun, ternyata aku tak punya waktu dan tak terasa perlu membela diri. Kalau umat Islam tak percaya itu, mereka tak akan lagi percaya kepadaku, dan dengan demikian aku tak perlu tiap hari diserbu panitia-panitia, aku bisa sedikit gemuk, makan teratur, tidur cukup. Sedikit urus gizi dan menulis puisi. Sudah lama aku merindukan menjadi orang yang tak usah dianggap penting, menjadi orang yang biasa-biasa saja, orang kecil, yang diterima orang lain sebagai manusia, bukan sebagai seonggok patung yang bernama Emha. Tulisan Ridwan Saidi di Panjimas yang mengatakan bahwa pemuda-pemudi Islam kini meninggalkanku, kusyukuri dari segi itu.
Kemudian, Dr. Amien Rais berjanji akan membuat pernyataan bantahan yang ditandatangani teman-teman Yogyakarta. Dr. Kuntowijoyo juga sudah hendak menulis protes, tapi keburu pihak majalah SMD datang ke rumah kontrakanku pada tengah malam untuk meminta maaf dan menginformasikan bahwa wartawan yang menulis itu sudah dipecat.
Aku kaget. Mengapa memecat-mecat orang segala? Dia toh tetap aset yang berguna untuk umat Islam dan masyarakat luas, asal ia memperbaiki apa yang baru diperbuatnya.
Ia pasti juga bermaksud baik, maunya membela Islam, hanya lagunya monoton dan mripat-nya hanya melihat satu dimensi. Itu pun ketika menulis tentang aku yang dilihatnya bukan aku, melainkan takhayul subjektifnya tentang aku.
Tak usahlah dipecat. Dia punya hak untuk berislah diri. Yang penting perbaiki manajemen SMD, bagaimana kemarin bisa kecolongan seperti itu. Janganlah menambah bukti bahwa kelemahan pers Islam adalah di bidang manajemen dan di bidang sikap profesionalnya juga.
Juga, inti persoalannya bukan terletak pada “nasibku”, melainkan pada bagaimana menjahit kembali “kain sarung Islam” yang disobek-sobek oleh tulisan itu. Aku sendiri memperoleh ilmu besar dari paralel antara kasus SMD itu dengan rempelanya ICMI, Muktamar Muhammadiyah, dan seterusnya, yang pada suatu hari bisa kuinformasikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh memercayaiku.
Adapun tentang aku sendiri tak terlalu penting. Aku sekadar “buruh” uang yang dipekerjakan oleh beranda masjid atau di halamannya. Tak mungkin aku diterima di dekat-dekat mihrab kedalaman masjid: pahamilah itu dengan memproyeksikannya ke dalam struktur keumatan dan kepemimpinan di negeri ini.
Kalau apa yang kulakukan di halaman dan beranda itu tak juga bisa mengatmosferi kedalaman dan mihrab masjid atau bahkan ditolak dan ditepiskan, aku berpikir untuk menempuh sabil atau shirath lain, yakni keluar pagar, ke jalanan umum, sarung kusingkapkan, kuganti celana jins dan kaus oblong… bukankah engkau juga tetap bisa menempuh ilahi roji’un dengan menelusuri belantara yang sunyi?
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa menguatkan Ibu untuk berzikir, mengaji sambil menangis, dan bergumam kepada Allah, “Aku yang ngandung anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti…”.
Diterbitkan dalam buku "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai", 1994
Emha Ainun Nadjib

Rabu, 21 Desember 2016

ALTRUISME

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.
Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. Sedangkan Altruisme dalam agama Islam
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan. (QS al-Hasyr [59]: 9). Ayat ini berkaitan dengan sebuah riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa pernah ada seorang Muhajirin menemui Rasulullah saw. Ia lalu berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, saya sangat lapar sekali!" Mendengar itu Rasul segera membawa orang itu kepada salah seorang istri beliau agar ia memberinya makan. Namun, istri beliau itu berkata, "Demi Zat Yang mengutusmu dengan haq. Aku tidak memiliki apapun, kecuali air."
Nabi yang mulia lalu membawa orang itu kepada istri beliau yang lain. Istri beliau itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau kemudian membawa orang itu kepada istri-istri beliau yang lainnya lagi. Namun, jawaban mereka juga sama saja; mereka tidak memiliki apapun, kecuali air. Akhirnya, beliau bersabda kepada para Sahabat, "Siapa saja yang sanggup menjamu tamu ini pada malam ini, Allah pasti merahmatinya." Seseorang dari kalangan Anshar lalu berdiri seraya berkata, "Saya, ya Rasulullah." Orang Anshar itu pun membawa tamunya ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya, "Kita kedatangan tamu malam ini. Apakah engkau punya makanan?" Istrinya menjawab, "Tidak, kita tidak punya makanan, kecuali sedikit, untuk anak-anak kita." Lelaki Anshar itu berkata kepada istrinya, "Kalau begitu, tidurkanlah mereka. Hidangkan makanan itu untuk tamu kita. Jika ia sudah masuk rumah, matikan lampu, sementara aku akan berpura-pura sedang makan." Dalam kegelapan, tamu itu pun masuk dan dipersilakan untuk memakan hidangan yang tidak seberapa bersama tuan rumah, padahal tuan rumah hanya berpura-pura makan.
Keesokan harinya, Nabi saw. bersabda kepada suami-istri itu, "Sungguh, Allah sangat mengagumi kalian berdua karena perilaku kalian tadi malam dalam menjamu tamu kalian." (Al-Qurthubi, XVIII/24). Kisah di atas sangatlah populer dan sudahn sering kita dengar. Begitu seringnya diperdengarkan, bagi sebagian orang kisah itu mungkin sudah tidak menarik lagi; tidak lagi mengharukan, menyentuh kalbu, apalagi mempertajam empatinya kepada orang lain yang berada dalam kesulitan. Padahal kisah di atas setidaknya memberikan dua pelajaran (ibrah) yang senantiasa relevan untuk diingat oleh setiap Muslim dimana pun dan kapan pun. Pertama: Betapa Rasulullah saw. dan keluarganya tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang berada. Dalam banyak riwayat, Rasul bahkan sering 'terpaksa' shaum karena seringnya beliau tidak menemukan sesuatu untuk dimakan. Namun, yang menakjubkan, di tengah kebersahajaannya, Rasul yang mulia tetap memperhatikan kebutuhan orang lain. Kehidupan Rasul kekasih Allah seperti ini sejatinya menjadi cermin bagi kita yang selama ini mungkin merasa kekurangan atau miskin, bahwa kekurangan dan kemiskinan bukanlah alasan untuk berkeluh-kesah, berputus-asa, atau tidak mempedulikan orang lain. Apalagi jika kekurangan dan kemiskinan itu sampai mengakibatkan kita 'futur' di jalan dakwah. Bukankah Rasulullah saw. tidak pernah berhenti berdakwah hanya karena sering hidup dalam kekurangan?
Kedua: Betapa dalam kekurangan dan kemiskinan, Sahabat Anshar yang dikisahkan dalam riwayat di atas memiliki kesanggupan untuk mengutamakan orang lain (altruisme) ketimbang dirinya dan keluarganya. Ia sanggup mengenyangkan tamunya yang lapar meskipun ia sendiri dan keluarganya juga kelaparan. Gambaran Sahabat Anshar yang satu ini selayaknya juga menjadi cermin bagi kita, betapa kekurangan dan kemiskinan tidak boleh menghalangi niat untuk mengutamakan orang lain yang lebih membutuhkan.
Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana rasa simpati, empati, dan altruisme kita kepada saudara kita, bahkan yang sama-sama aktif dalam barisan dakwah, yang kehidupannya ekonominya jauh lebih buruk daripada kita. Pernahkah kita tahu, atau mencari tahu, bahwa di samping kita mungkin ada aktivis dakwah yang sering menahan rasa lapar (berpuasa) karena tidak ada uang untuk membeli makan? Padahal mungkin saat itu di rumah kita kelebihan makanan.

Rabu, 09 Maret 2016

Dhawuh Mbah Nun .

Kalau kau lembek, kau mudah diinjak.
Kalau kau keras, kau mudah dipatahkan.
Kalau kau pamer kuasa, kau akan mendapat perlawanan .

Orang itu dirangkul, jangan dipukul.
Orang itu diajak komunikasi, jangan dipameri.
Orang yang kau anggap bodoh, bisa jadi malah membongkar kebodohanmu .

Jangan pernah meremehkan siapapun.
Jangan pernah usik siapapun.
Jangan pernah sombong terhadap siapapun .

Kamis, 03 Maret 2016

Sahabat itu lebih dari keluarga?

Kalian pasti punya teman? atau teman yang paling akrab yang lebih disebut sahabat? kalo saya lebih mengangap sahabat itu seperti saudara sendiri. kenapa bisa? iya kalo ada sesuatu atau apa rasanya lebih enak dibicarakan dengan sahabat benar bukan begitu seperti hal hal yg gak masuk akal yg ada dinalar pikiran kita mungkin dengan berbagi masalah dengan sahabat kita pasti rasa nya jadi lebih lurus? Saya paling membenci kata "kalo ada mau nya saja ia datang, sedangkan jika kita membutuhkannya dia menghilang". buang deh kata kata tersebut dari pikiran anda. jika kita menggap benar benar itu sahabat kita, tanpa berkata pun dengan melihat tindakan kita dia pasti membantu kita walaupun dengan seadanya. oke cukup dulu basa basinya. arti sahabat menurut ilmu pskilogi itu apa sih? munculnya keingan untuk menjalain hubungan pertemanan yang lebih akrab atau yang dalam kajian psikologi perkembangan disebut dengan istilah friendship (persahabatan). Jadi persahabatan lebih dari sekedar pertemanan biasa, menurut McDevitt dan Ormrod (2002), setidaknya terdapat tiga kualitas yang membedakan persahabatan dengan bentuk hubungan dengan teman sebaya lainnya, yaitu :

1. They are voluntary relationships (adanya hubungan yang dibangun atas dasar sukarela.
2. They are powered by shared routines and customs (hubungan persahabatan dibangun atas dasar kesamaan kebiasaan)
3. They are reciprocal relationships (persahabatan dibangun atas dasar hubungan timbal balik.

Menurut Santrock (1998), karakteristik yang paling umum dari persahabatan adalah keakraban (intimacy) dan kesamaan (similiarity).
Intimacy dapat diartikan sebagai penyingkapan diri dan berbagai pemikiran pribadi. Karenda kedekatan ini, anak mau menghabiskan waktunya dengan sahabat dan mengekspresikan efek yang lebih positif terhadap sahabat dibandingkan dengan yang bukan sahabat (Hartub, 1989)
Santrock (1998) menyebutkan enam fungsi penting persahabatan, yaitu:

1. Sebagai kawan (companionship)
2. Sebagai pendorong (stimulation)
3. Sebagai dukungan fisik (physical support)
4. Sebagai dukungan ego (ego support)
5. Sebagai perbandingan sosial (social comparison)
6. Sebagai memberi keakraban dan perhatian (intimacy/affection)


Selasa, 12 Januari 2016

Al-mu’allim Syarwan

BISMILLAH, kutuliskan kandungan hatiku, bahwa aku berguru kepada siapa saja. Dari para kuli sampai presiden. Da­ri rumput kering sampai jin, malaikat dan Allah. Dan sekali ini, dengan segala kerendahan hati: kepada Mayor Jenderal Syarwan Hamid, Asisten Sosial Politik Kassospol ABRI, yang karena itu aku panggil beliau Al-mu’allim. Segala hal yang Al-mu’allim kemukakan mengenai cekal di GATRA mungkin sebagian ditujukan kepadaku, mungkin juga tidak sama sekali. Namun karena aku berguru maka kuterapkan kalimat-kalimat Al-mu’allim itu kepadaku, atau mengandaikan bahwa yang beliau maksud adalah aku. Sikap ini kuambil kare­na aku membutuhkan kandungan hikmahnya. Kupelajari setiap butiran kata-kata beliau, meskipun yang kutuliskan di sini tentu tak bisa semua. Aku membayangkan bahwa Al-mu’allim sedang memuji dan sedikit memarahiku sehingga aku berkewajiban untuk menjawab dan mempertanggungjawabkan. Dari beliau ingin kucari ilmu bagaimana melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 pada taraf yang paling dangkal dan verbal — seperti yang aku lakukan selama ini — agar bisa tak ter­lalu mendapat halangan dari abdi ne­gara yang ternyata juga ingin melak­sanakan Pancasila dan UUD 1945. Ini semua mungkin tak penting bagi negara dan bangsa karena ada dan tidaknya aku tidaklah ada bedanya. Tapi justru karena itu perkenankanlah aku belajar. Al-mu’allim berkata: “Kebebasan berbicara mesti diatur, jangan sampai menjadi counter productive bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.” Muridmu menjawab: “Bagaimana kalau dikumpulkan para ahli yang se­cara komprehensif dan jujur bisa menilai setiap kasus, seminar, diskusi, dan isi pembicaraan. Untuk memilah-milah mana yang produktif dan yang counter-productive bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagi kepentingan kekuasaan, bagi proses pencer­dasan bangsa, bagi peningkatan kualitas SDM manusia Indone­sia, bagi tradisi dialog dan demokratisasi, dan seterusnya — agar supaya pembicaraan AI-mu’allim tak berhenti abstrak dan gene­ralistik. Sebab selama ini, menurut pendapat muridmu, pelarangan-­pelarangan itu justru counter productive bukan saja bagi Pancasila dan proses demokratisasi, bahkan juga bagi kepentingan politik pemerintah sendiri serta bagi investasi kelanggengan kekuasaan”. Al-mu’allim berkata: “Kebebasan bisa dipakai untuk mengha­sut. Kebebasan bisa disalahgunakan, di samping bisa dimanfaat­kan untuk hal yang positif. Kalau kebebasan tak diatur, yang muncul tentunya akan bebas sebebas-bebasnya.” Muridmu menjawab: “Apakah kuningisisasi ala Pak Harmoko itu menghasut proses marjinalisasi Merah Putih? Apakah Muham­mad SAW menghasut kaum Jahiliyah untuk bertauhid? Menge­mukakan kebenaran disebut menghasut hanya oleh mereka yang tidak menghendaki kebenaran. Ya, Mu’allimku, kalau ayam itu mati, bukan karena kubunuh, melainkan karena kusembelih. Ada beda sangat prinsipil antara penyembelih ayam dan pembunuh. Ya, Mu’allimku, kalau dokter mengoperasi, itu bukan menyaki­ti pasien, melainkan berusaha menyembuhkannya.” “Menghasut itu kata yang tak bisa berdiri sendiri: ia membu­tuhkan konteks. lklan-iklan di televisi itu menghasut atau tidak, ya Mu’allimku? Tidakkah setiap pidato, setiap khotbah, bahkan setiap kata, termasuk yang diucapkan oleh Al-mu’allim, bisa juga disebut menghasut? Juga kata ‘disalahgunakan’, ‘positif’ dan seterusnya tak bisa berdiri sendiri. Apa beda antara menghasut, berdakwah, mengiklankan, mempromosikan, menasihati, mem­bimbing, dan memberi petunjuk? Bergantung dari sudut pandang mana, dari kepentingan pihak mana. Dalam hal ini, Al-mu’allim Insya Allah tak akan menjumpaiku di pihak mana pun kecuali di kosmos nilai, bukan di kelompok, partai, atau apa pun, tidak di pemerintah, tidak di rakyat. Alamatku adalah di ruang keyakinan nilaiku sendiri.” “Kemudian soal bebas sebebas-be­basnya, ya, Mu’allimku, kesadaran uta­ma hidupku bukanlah mengenai kebe­basan, melainkan mengenai keterba­tasan dan keterikatan. Jika aku punya kepandaian maka aku lebih pandai un­tuk mengerti batas dibandingkan de­ngan pandai untuk bebas. Aku tak mim­pi untuk bebas, ya, Mu’allimku, sebab aku lahir juga bukan karena aku bebas untuk lahir, melainkan karena aku di­ikat oleh Tuhan untuk harus mau lahir.” Dalam menjawab pertanyaan, “Me­ngapa pembicara yang nakal tak diha­dapkan dengan pembicara orang pe­merintah yang ahli, agar ada dialog”, Al-mu’allim berkata: “Kalau bicaranya terakhir mana bisa? Banyak terjadi me­reka sengaja bicara yang terakhir. Kalau sudah demikian, bagaimana meng-counter-nya“. Muridmu menjawab: “Ya, Mu’allimku, kalau melarang acara saja bisa, apa susahnya bagi aparat untuk mengatur agenda acara panitia? Ya, Mu’allimku, pembicara manakah yang punya kekuasaan untuk mengatur panitia agar ia diletakkan sebagai pem­bicara terakhir? Setahu muridmu ini, seseorang diletakkan seba­gai pembicara terakhir karena khawatir kalau ia bicara awal lan­tas hadirin pada pulang karena yang sesudahnya dianggap tak menarik. Ada pembicara saron, gèndér, gambang, ada juga pem­bicara gong. Percayalah, akan dua hal, ya, Mu’allimku. Pertama, tak ada saron atau gong yang berinisiatif datang sendiri untuk berbunyi. Kedua, sungguh tak enak jadi gamelan: dipukuli terus, nanti kalau sudah tak kung bunyinya pasti segera dicampakkan. Al-mu’allim berkata: “Ada forum akademis diisi oleh pembicaraan yang tidak ilmiah.“ Muridmu menjawab: “Aku inferior dalam soal ini, ya Mu’allimku. Aku berhenti belajar seusai sekolah menengah atas. Kemudian diperintahkan oleh orang banyak untuk melakukan tugas-tugas yang semestinya dilakukan oleh kaum intelektual, seniman, ulama, atau tokoh pergerakan.” “Tak pernah aku percaya diri bahwa aku bisa bicara ilmiah: Jadi, tolonglah muridmu ini dari mereka yang menyeret-nyeret ke kampus. Mereka menyuruhku bicara; tapi sebenarnya institusi keilmuan mereka tak pernah mempercayai kapasitas keilmu­wananku. Sebab ketika saya iseng-iseng melamar jadi dosen saja sekalian daripada ceramah-ceramah melulu, haqqul yaqin tak ada kampus yang bersedia menerirnaku. Jadi, yang sesungguhnya me­ngundangku itu bukanlah pihak yang berkapasitas sebagai ilmuwan, melainkan pribadi-pribadi yang kebetulan berkomuni­tas di kampus. Institusi ilmu di universitas tidaklah percaya ke­padaku.” “Jadi, ya, Mu’allimku, daripada aku terkutuk pada posisi bicara tak ilmiah dan ini membahayakan dunia perguruan tinggi ataupun aturan pemerintah, tolong hasut baliklah panitia-panitia itu dan berikanlah rekomendasi ilmiah agar mereka tak lagi mengundang­ku. Sebab di samping aku malu dan tak bangga pada posisi seba­gai pembicara, juga aku sungguh memerlukan proses dan pelu­ang untuk bertahan sebagai orang awam biasa. Ya Allah, bebaskan aku dari tirani kata-kata itu: ilmuwan, seniman, budayawan, kari­er, public figure, man makes news… mandikan aku sehingga yang tersisa dan yang utama adalah manusiaku. Ya Allah, aku rela sau­dara-saudaraku sendiri tak percaya kepada doaku karena doaku memang kupanjatkan tidak kepada mereka, melainkan kepada­Mu.“ Al-mu’allim berkata: “Saya juga mengingatkan kepada petu­gas di daerah agar jangan apriori….“ Muridmu menjawab: “Bisakah Mu’allimku tak hanya meng­ingatkan, melainkan memerintahkan dan mengecek pertanggung­jawaban mereka atas perintah itu’?“ AI-mu’allim berkata: “Kritik pun kalau sehat saya kira akan diberi tem­pat….” Muridmu menjawab: “Alangkah leganya muridmu sebagai orang kecil seandainya Mu’allimku tak menggu­nakan kata ‘saya kira’, melainkan ‘pas­ti’ atau ‘dijamin’. Lebih bersyukur lagi kalau terdapat kejelasan juga tentang apa yang Mu’allimku maksud dengan ‘sehat’ di situ.“ Al-mu’allim menjawab pertanya­an, pencekalan melanggar asas praduga tak bersalah. Belum terjadi apa-­apa kok sudah dilarang, dengau pernyataan: “Kalau berpikir begitu, namanya kita bekerja menunggu rumah kebakaran dulu baru bertindak.“ Muridmu menjawab: “Tentu yang Mu’allimku maksudkan bu­kan ‘kebakaran’ melainkan ‘dibakar’. Siapakah gerangan tukang bakar itu? Alangkah dungunya muridmu jika untuk ‘membakar’ ia menunggu kerepotan panitia yang hanya meugumpulkan bebe­rapa ratus orang. Bukan itu aset untuk ‘pembakaran’, ya Mu’al­limku, seandainya muridmu memang mau itu. Seberapa tingkat ‘bakar’ yang dimaksud? Taraf makar, mengajak memberontak, mengajak orang banyak memikirkan pcrsoalan bersama, mendina­misasikan proses berpikir, atau tingkat yang mana? Ilmu dan eti­ka apa yang kita pakai untuk mengukur sesuatu itu bersifat ‘bakar’ atau tidak? Di antara siapa sajakah soal ‘bakar’ ini boleh didis­kusikan? Petugas dari Polsek? Bakorinda? Ditsospol? Bupati? Camat? Bersediakah mereka berdiskusi tentang setiap unsur materi untuk menilai ia berpotensi ‘bakar’ atau tidak?” “Ya, Mu’allimku, kata ‘bakar’ itu abstrak, sedangkan yang muridmu butuhkan adalah patokan denotatif. Syukur jika Mu’allimku mengajarkan ilmu nuansa bahwa kalau seorang ibu mengecilkan kompor itu supaya nasinya tak gosong, sedangkan kalau ia membesarkan nyala api itu agar nasinya tak nglethis. Ya, Mu’allimku, bukankah mengasyikkan untuk berkumpul dan ber­cengkerama di antara kita semua: pemerintah, ABRI, mahasiswa, seniman, ulama, rakyat, dan lain sebagainya untuk menganyam akal sehat dan “mendemonstrasikan kearifan kolektif dalam rangka menghindarkan kemungkinan bangsa besar kita ini menjadi bangsa yang gosong maupun bangsa yang nglethis?” Al-mu’allim menyatakan: “Ada yang sengaja nakal. Terus kalau dicekal malah senang. Lantas kirim release ke mana-mana; menyatakan bahwa pemerintah represif?” Muridmu menjawab, “Ya, Mu’allimku, selama bertahun-tahun belakangan ini cita-citaku adalah tidur dan makan normal, syukur boleh berumah tangga dan tak harus 80% waktu diwajibkan keli­ling ke sana kemari sehingga yayasan-yayasan sosialku hanya kukerjakan sebagai sambilan. Aku sudah berusaha lari dari pani­tia-panitia, tapi terpojok terus, karena memang ada realitas kelapar­an, kehausan, keterasingan, dan kesepian — dalam berbagai arti dan nuansa — dalam kehidupan bangsa kita. Dan yang mereka perintahkan kepadaku adalah upaya pencerdasan rakyat, penum­buhan kekuatan masyarakat, sebagaimana pemerintah sendiri menganjurkan.” “Akhirnya, aku datang, lantas dicekal, lantas dimuat koran, lantas dibilang malah senang dilarang dan sengaja mencari popu­laritas, lantas dianalisis dan diasumsikan sebagai combe pemerintah yang disuruh pura-pura berjuang demi rakyat. Ya, Mu’allimku, traktirlah aku di sebuah restoran agak mewah supaya tuduhan itu benar dan penuduhnya terbebas dari dosa. Atau bukalah rahasia bahwa aku adalah agen kekuasaan, yang untuk menangkap pen­judi aku disuruh menyamar menjadi penjudi — karena, siapa tahu karena pikun, aku sendiri belum tahu fungsiku itu.” “Ya, Mu’allimku, kalau aku diam saja atas pelarangan itu, sahabat-saha­batku memprotes, ‘Mengapa kau diam saja’? Mengapa kau tak mendidik rak­yat dalam hal mempertahankan kebe­naran?’ Lantas kalau aku laporkan na­sib hak asasi ini, sahabatku yang lain menuding, Seneng ya dicekal? Promosi kan? Ya, Mu’allimku, ajarilah aku ilmu yang lebih tinggi dan lebih arif untuk menghadapi itu semua.” “Ya, Mu’allimku, perkenankan aku berkata, He bangsa Indonesia. Kalian sudah pinter-pinter, sudah pada sar­jana, sudah pada intelektual, sudah pada jenderal, sudah pada doktor. Ka­lian sudah gedhe-gedhe, sudah tahu mana baik mana benar mana salah. Qad ta­bayyana-rusydu minal-ghayyi. Berjalanlah ke cakrawala. Aku mau tidur. Mongso bodhoa….” “Ya, Mu’allimku, di dalam tidur itu aku menari, berdansa, ber­dendang: Kalau aku makan, bukan karena aku ingin makan, me­lainkan karena harus menjaga kesehatan. Kalau aku bicara dan menggerakkan tangan, bukan karena aku menginginkan, mela­inkan karena orang tidur harus dibangunkan. Adapun apa keingin­anku? Indonesia santun politiknya, adil ekonominya, tegak hukum­nya, indah kebudayaannya — sehingga berhak tidur sambil ber­anak-pinak.” “Adapun kalau ada saat-saat aku diam, ya, Mu’allimku, itu ka­rena dalam kegelapan, kebenaran tak punya alamat. Dan kalau kebenaran hanya diperdebatkan oleh kepentingan melawan kepentingan, ia tak akan sungguh-sungguh bersedia untuk dite­mukan….” “Dan akhirnya, ya, Mu’allimku, besar rasa terimakasihku ke­pada pelajaran dan hikmah dari Mu’allimku, yang mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ini; di samping ada negara, kekuasaan, birokrasi, ada juga manusia; ada hati kecil, firman Allah, dan lain sebagainya.” Pernah dimuat di Majalah Gatra, 1 Juli 1995 OLEH : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)