Rabu, 13 Juni 2018

Betapa Utamanya Manusia

Untuk menjawab segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal pikiran, manusia menggunakan ilmu. Untuk menyikapi apapun saja yang tidak bisa disentuh oleh akal pikiran, salah satu alat manusia adalah mantra. Berabad-abad pengalaman peradaban dan eksperimentasi kebudayaan, diperlukan oleh ummat manusia untuk pada akhirnya secara otentik dan genuine menemukan, merumuskan dan menjalani mantra.
Tentu saja tidak ada yang benar-benar otentik pada manusia, bagi siapa saja yang menyadari ada dan berlangsungnya struktur besar dan sistem agung yang bernama sangkan paraning dumadi. Oleh karena itu para pejalan mantra selalu membuka diri pada cakrawala informasi baru yang berasal dari “antah berantah”.
Para pelaku mantra dari kurun ke kurun zaman tidak menutup diri dari langit semesta informasi baru yang toh mereka tahu itu adalah jagat tan kinaya ngapa tan kena kinira yang merupakan asal usul dan titik tuju kehidupan mereka sendiri. Maka sejarah mantra berinteraksi dengan fenomena dzikir, wirid, khalwat, ‘uzlah, bahkan supra-manajemen zamzam, suwuk, ngalap berkah dan bermacam lagi, sampai pada spektrum multi-natural yang berpangkal pada qadla dan qadar. Hidup ini hana-cara.
Agak berbeda dengan para penyandang ilmu, yang karena berputus asa dari kemungkinan akal pikiran menjawab, akhirnya mengambil ketetapan bahwa apa saja yang tidak tidak kompatibel dengan kerja akal pikiran: dianggap salah, disimpulkan sebagai bukan kebenaran, bahkan kemudian akhirnya dianggap tidak ada.
Para pemanggul ilmu kemudian menjadi pelaku peradaban penyembah berhala, yang berupa ilmu katon, materialisme, kasat mata, rupadatu, mata kuda akademik, atau yang dibanggakan dengan istilah prinsip ilmu. Suatu strata kesadaran manusia yang terendah, jika dipandang dari perspektif supra-informasi di mana mantra berdialektika dengan energi rohaniah. Dari view lain kerendahan itu disebut jahiliyah, asfala safilin atau adlollud-dlolalah.
Manusia tidak bisa mengalahkan nasibnya sendiri, dan yang para pengabdi ilmu lakukan adalah membunuh nasib itu dengan ilmu, sehingga nasib menertawakannya selama keabadian. Manusia tidak bisa memastikan apa kabar dunia dan kehidupan lima manit mendatang, dan yang para pemikul ilmu lakukan adalah melakukan penekanan, pemaksaan, penyempitan dan temporalisasi atas apa yang mereka maksudkan dengan masa depan. Dengan pengorbanan mereka merelakan kemanusiaannya menjadi cacat, pincang, tidak berkelengkapan, sumbang, tidak seimbang dan tanpa keutuhan.
Itulah gambaran peradaban manusia abad 21. Tetapi tidak masalah, karena mereka bukan hanya tidak merasa dan tidak punya cara pandang untuk mengerti bahwa mereka cacat pikiran, sakit jiwa, lemah mental dan bingung rohani. Lebih dari itu bahkan mereka sangat bangga dengan keadaannya, dan yakin bahwa mereka jauh lebih hebat dibanding ummat manusia di zaman apapun, terutama di masa silam nenek moyang mereka.
Maka pementasan Mantra #2019 ini merupakan pernyataan bahwa mereka menolak cacat, menolak ketidak-lengkapan, ketidak-seimbangan dan ketidak-utuhan.
Semua pelaku pementasan ini, dari penulis teksnya, sutradara, para pelakon dan semua yang bekerja di dalamnya, adalah juga manusia-manusia yang berilmu. Tetapi mereka tidak kehilangan mantra. Tidak menutup diri dari tidak terbatasnya cara mendekati kehidupan. Tidak pernah statisnya pola-pola, metode, lelaku, thariqat, kaifiyat dan apapun nama dan kategorinya, di dalam menyikapi kehidupan.
Sejak zaman menjadi modern, manusia tidak menjadi perhatian utama. Dunia pendidikan hanya mencetak dokter, insinyur, pengusaha dan macam-macam lagi, yang belum tentu manusia, minimal belum tentu berkembang kedewasaan dan kematangannya sebagai manusia.
Media, politik, Negara, aturan-aturan hukum, segala muatan sistem pembangunan, bergerak sangat dahsyat untuk meremehkan dan menghina betapa utamanya manusia dan kemanusiaan. Peradaban manusia tidak berani meninggalkan Tuhan, tetapi putus asa memahaminya. Sehingga akhirnya mereka menuhankan apa yang yang dinafsuinya: uang, harta benda, jabatan, kemegahan, kemewahan, dan apapun saja formulanya, yang kesemuanya terbatas dalam lingkup pancaindera.
Sariraku randu kepuh /Pangadegku lemah maesan /Rambutku sang amangku ranjang /Unyeng-unyengku sang lemah lesus /Bathukku nila cendhani /Netraku wulan ndadari /Kupingku sang palempengan /Irungku sang lenging angina /Lesanku guwaning mani /Lambeku sela metangkep /Untuku sang rajeg wesi
Betapa utamanya manusia di dalam jiwa para pelaku mantra. Betapa remeh, rendah dan terhinanya manusia di sudut mata ilmu, Negara, politik dan pembangunan.

oleh : Emha Ainun Nadjib

Rabu, 30 Mei 2018

Puasa Kemakhlukan Manusia

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk bermental jumud, konservatif dan mandek. Bahkan para pejalan Ilmu kebanyakan juga mandek di batas kebenarannya masing-masing. Seakan-akan kebenaran bisa rasional untuk berasal-usul dari diri manusia, sedangkan manusia itu sendiri berasal-usul tidak dari dirinya sendiri. Juga seolah-olah perjalanan manusia bisa tiba di ujung kebenaran, bisa mencapai sempurnanya kebenaran. Seandainya Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa “kebenaran berasal-usul dari-Ku”. Andaikan manusia tidak pernah sampai pada penghayatan hakiki bahwa tidak mungkin “kebenaran sejati” bersemayam pada diri manusia–sangatlah tidak memenuhi hukum akal sehat bahwa manusia merasa di dalam dirinya termuat hulu dan hilirnya kebenaran. Manusia tidak kunjung mengerti puasa kemakhlukannya

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap ke badannya. Markesot ambruk. Tak bisa mempertahankan diri. Terkadang telentang, saat lain tengkurap, terjungkal, terjerembab, meringkuk.
Tapi selalu juga ia menggeliat dan berusaha bangun kembali. Ia membaca lagi, ditaburi panah-panah lagi, terjatuh lagi, bangun lagi, membaca lagi, terjengkang lagi, bangkit lagi, membaca lagi…
أَعُوْذُبِالّٰلهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الّرَجِيْمِ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِالنَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
وَإِن يُرِيدُوا أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ. خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ.
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ. اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ  الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ  وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
Markesot mengucapkan “Shadaqallahul’adhim” dalam posisi bersujud, lemah dan tak berdaya. Dengan ribuan anak panah yang menancap, menutupi dan menenggelamkan seluruh keberadaannya. Kemudian bersama dua orang di kanan kirinya, pelan-pelan semakin sirna lagi karena dilingkupi oleh semacam gulungan-gulungan asap putih. Maha Suci Allah, ternyata itu bukan telaga kaca, bukan pula air, melainkan cahaya.
Mereka bertujuh terloncat mendekat ke arah telaga. Tak sengaja tampak di bawah permukaan air telaga itu seperti gambar kedalaman Bumi, dengan lempengan-lempengan yang bergerak, berdesakan, saling menekan, saling mematahkan dan, saling meremuk.
Pakde Tarmihim berdesis: “Ya Allah ampunilah hamba, sudah setua ini, menyentuh satu huruf dari Iqra`pun belum…”.
Kemudian kepada anak-anak muda itu ia berkata: “Anak-anakku, sudah cukup lama kita selalu belajar bersama. Tampaknya dari Sinau Bareng itu terdapat hal-hal yang masing-masing kita perlu mempelajarinya sendiri-sendiri”.
Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian pada diri mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” [1] (Ali-‘Imran: 19).
“Ayo kita mulai kembali mengislami hidup kita”, sambung Pakde Tarmihim.
Ketika akhirnya mereka kembali dan tiba di rumah Sundusin, terdengar suara orang mengorok sangat keras. Ternyata Markesot sedang tidur sangat pulas.
Jombang, 3 Maret 2018

Minggu, 18 Februari 2018

Yang Termahal dalam Kehidupan

Kalau mau tahu persis apa makna syair “Sluku-sluku Bathok”, jalannya hanya satu: mewawancarai langsung Kanjeng Sunan Kalijogo. Itu pun benar tidaknya Kanjeng Kalijogo yang menciptakannya, hanyalah kesepakatan banyak penafsir. Sebagaimana “Ilir-ilir”, bisa saja karya Sunan Bonang atau malah Sunan Ampel sendiri. Atau bisa jadi bukan siapapun di antara para Auliya Sembilan.
Kita harus melakukan time tunneling, menerobos waktu hingga ke masa silam. Mungkin saja ada yang bisa melakukannya dengan metode batin tertentu, tetapi tetap saja tidak ada metodologi untuk memverifikasinya. Maka perlakuan yang terbaik bukanlah mencari kebenaran historis dari tuntutan-tuntunan itu. Sama sekali tidak ada manfaatnya untuk memperdebatkan kebenaran sejarahnya. Yang pasti kita perlukan adalah menggali maknanya, menemukan hikmahnya, memetik maknanya untuk kehidupan nyata kita sekarang ini dan anak cucu masa depan.
Semua versi penafsiran kita hormati. Kita apresiasi. Kita syukuri. Kita ambil kegunaan nilainya. Tak ada sedikit pun manfaat melacak, dengan metodologi ilmu sejarah apapun, berapa usia Gadjah Mada, berapa panjang rambut Prabu Brawijaya V, warna kulit Nabi Hud, terompah Nabi Idris terbuat dari kayu apa, atau Nabi Nuh yang dikabarkan berumur lebih dari 3000 tahun: tatkala beliau berusia 100 tahun masih kanak-kanak ataukah sudah mulai remaja.
“Jadi, Mbah”, kata Pèncèng, “saya tidak menolak pemaknaan ‘yen urip goleko duwit artinya mumpung masih hidup banyak-banyaklah mencari uang. Hidup adalah kesempatan satu-satunya untuk berjuang mencari nafkah bagi keluarga, kemudian untuk bersedekah memperbanyak kebaikan. Sebab ‘wong mati ora obah, yen obah medeni bocah. Dan saya tidak akan mendramatisasikan bahwa ‘yen urip goleko duwit’ adalah anjuran dan legitimasi untuk kapitalisme. Apalagi pakai liberal segala”
Simbah, Gendhon dan Beruk dengan sabar mendengarkan.
“Akan tetapi memang saya lebih cenderung untuk memahami bukan itu maknanya”, kata Pèncèng lagi.
“Interpretasimu bagaimana?”, tanya Simbah.
“Duwit itu dari kata dlou’ih”, Pèncèng menjelaskan, “dlou’ artinya cahaya. Dlou’ihi artinya cahaya-Nya, cahaya Allah, yang lingkupnya termasuk rezeki materiil juga. Goleko mungkin dari kata gholli atau gholli-u. Yang termahal. Sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan adalah cahaya Tuhan: goleko duwit
“Jadi kamu belajar Bahasa Arab juga to Cèng?”, Gendhon penasaran.
“Ah ya nggak juga. Cuma nyari-nyari, terus konfirmasi ke beberapa orang yang mengenal Bahasa Arab”, jawab Pèncèng, “kan ada lirik yang terkenal tentang Baginda Nabi Muhammad, yang nama beliau memegang rekor terbanyak disebut dalam syair-syair lagu, juga terbanyak dipakai sebagai nama manusia: ‘Anta syamsun Anta badrun, Anta nurun fauqo nuri. Anta iksirun wa ghalli, Anta misbahus-shuduri. Engkaulah matahari, engkaulah rembulan. Engkaulah cahaya di atas cahaya, engkau emas permata yang tiada terkira mahal harganya, engkaulah pelita hati semua manusia…”
Gendhon melirik Beruk. “Anak ini kelihatannya nggentho, tapi belajarnya serius juga”, bisiknya.
Simbah sendiri membatin: dalam uraiannya yang Simbah melarang untuk diumumkan, si Gendhon kemarin panjang lebar menganalisis Indonesia dengan memperbandingkan “Freedom of Speech”, “At-Tsaqafah Al-Madaniyah”, UUD-45 dan Pancasila. Pandangan Gendhon terlalu tajam dan menusuk. Terlalu terang-terangan, seperti menembakkan sinar rontgen ke dalam dada NKRI. Sementara para warga Negara ini sama sekali belum siap untuk apa adanya melihat kebenaran dan kesalahannya sendiri. Belum fair secara pengetahuan, belum objektif secara ilmu, belum sumeleh secara mental, dan belum satria-perwira secara kebudayaan dan spiritualitas.
“Pèncèng ini malah secara cukup radikal bisa mengubah mental berpikirnya menjadi lebih bersahaja”, Simbah berkata dalam hati, “ia bisa melakukan switch ke fokus nilai yang lebih murni, universal, sederhana tapi jernih. Ternyata larangan dan tindakan saya menyembunyikan hasil pemikiran mereka yang kemarin, membuahkan kemungkinan baru yang tidak kalah indahnya”
Simbah ingin mendengar apa yang nanti diajukan oleh Gendhon dan Beruk. Apa bisa se-menep Pèncèng. Sebab Beruk di uraiannya yang kemarin juga gawat. Ia melakukan muhasabah ‘aqliyah, semacam knocking down logika ‘NKRI Harga Mati’, menyebut-nyebut ‘Nasakom’, bahkan menyebut pemeran-pemeran aneh seperti Zallinbur, Kanzab, Tsabur, Ruhaa, Haffaf, Lagus, Walhan, Abyad, Biter, Jalbanur… mana mungkin dipahami oleh generasi Kids Zaman Now. Hapalnya kan oman-amin dan aman-imin melulu.
Oleh : Emha Ainun Nadjib

Rabu, 11 Oktober 2017

Beda Persepsi, Beda Orientasi

Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan kekuasaan sebagai orientasi, maka ia akan melakukan segala cara untuk meraihnya. Bahkan bila harus merebut dan menyikut, tak ada yang membuatnya takut. Oleh yang berbeda orientasi, ia bisa dianggap gila. Tahta dan kedudukan adalah hal yang tidak masuk akal bagi siapa pun yang memang tak berpikir untuk memilikinya. Baginya, kekuasaan bukanlah cita-cita.
Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan kekayaan sebagai orientasi, maka ia akan mengerahkan segala daya dan upaya. Walau dengan mencuri dan korupsi, tidak ada yang bisa membuatnya ciut nyali. Oleh yang berbeda orientasi, ia bisa dicap telah kehilangan hati nurani. Harta benda di dunia adalah hal yang tidak kekal bagi mereka yang berpandangan ukhrawi. Yang sejatilah yang selalu mereka cari.
Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan keberkahan sebagai orientasi, maka ia akan mengerjakan segala tindakan demi memeroleh yang diinginkan. Meski harus mengabdi dan mematuhi perintah junjungannya, tak ada yang diharapkannya selain ridha dan restu. Walau dianggap bodoh dan berbuat tidak logis -- karena memilih untuk taqlid -- tak ada yang membuat dirinya meragu dan berubah pikiran.
Bagi pegila kekuasaan, harta mudah ia miliki. Bagi penguber kekayaan, kuasa bisa dibeli. Bagi pengharap keberkahan, kekuasaan dan kekayaan tidak abadi. Satu dan lainnya sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, berjumpa dalam satu persepsi yang sama dikarenakan sejak mula memang berbeda orientasi. Tapi, tidak selayaknya menuduh ketiganya melakukan semua itu tanpa cinta. Tak ada yang tahu isi hati selain diri sendiri.
Cinta menjadi penengah di antara hal-hal yang berjauhan, berlainan, bahkan berseberangan. Cinta menjadi harapan ketika menyamakan persepsi menjadi hal yang rumit. Kekuasaan, kekayaan, dan keberkahan menjadi kekuatan yang luarbiasa ketika disatukan oleh Cinta. Kekuasaan tidaklah selama-lamanya, kekayaan pun tidak abadi, keberkahan juga tidak kekal. Sebab, segala sesuatu niscaya sirna selain Wajah Allah.
Namun, beda orientasi tetaplah beda persepsi. Ia yang tidak menjadikan Allah sebagai orientasi akan menilai orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, serta kekuasaan dan hartanya, bi amwalikum wa anfusikum, kepada Tuhan, sebagai orang aneh. Melepas hal-hal duniawi justru dianggap tidak lagi manusiawi. Cinta kepada Allah tak boleh berlebihan sampai meninggalkan sekelilingnya dan menghilangkan sisi kemanusiaan, begitulah argumennya.
Tapi, berbeda orientasi itu sah-sah saja. Pun demikian berbeda persepsi boleh-boleh saja. Yang dilarang adalah sikap memaksakan kehendak agar siapa pun satu orientasi dan satu persepsi dengan dia atau kelompoknya. Yang berbeda janganlah disakiti, apalagi dihabisi. Yang berlainan janganlah dipinggirkan, lebih-lebih disingkirkan. Menjadi berbeda itu manusiawi. Dari hal-hal yang khas itulah terhimpun khazanah. Keberagaman.
Tidak ada paksaan dalam beragama ini diatur dalam Q.S. Al Baqarah ayat 256. Keberagaman dalam keberagamaan tak bisa dipaksakan menjadi keseragaman dalam keberagamaan. Apalagi, sangat mudah bisa diyakini bahwa agama yang baik dan benar; bahkan yang terbaik dan paling benar, adalah agama yang mengajarkan umat menyempurnakan akhlaq yang mulia. Dan di dalam akhlaq yang mulia itu hidup Cinta yang sejati.
Di dalam Cinta yang sejati itu, hidup hati yang baik, pekerti yang berbudi luhur, welas asih, sikap ringan meminta maaf dan tidak berat memberi maaf, serta tindakan-tindakan kemanusiaan yang didasarkan atas sifat-sifat Ilahiah yang penuh kasih sayang. Lalu, berkelindan dengan larangan untuk memaksakan kehendak, larangan berikutnya adalah larangan untuk melanggar hak sesama. Saling menghormati selalu lebih baik.
Perlindungan terhadap hak ini diatur dalam perundang-undangan. Bahkan, agama Islam mengajarkan adanya hak orang lain di dalam hak setiap orang. Dari sanalah lahir kewajiban untuk menunaikan zakat dan anjuran untuk sedekah, infak, dan amal saleh lainnya. Secara ideal, negara dan agama hadir menengahi perbedaan orientasi dan persepsi agar masing-masing berjalan baik dan tidak saling berbenturan.
Persoalannya adalah orientasi dan persepsi adalah isi kepala dan dada masing-masing. Artinya, Cinta, negara, dan agama telah berupaya memberi garis batas yang jelas dan tegas untuk melindungi kemerdekaan orientasi dan persepsi, sebagaimana kebebasan dalam berpendapat, berkelompok, beragama dan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Kini selebihnya kembali pada manusianya.
Setiap manusia memiliki bakat baik hati dan berbuat baik pada sesama. Jika pun kemudian memiliki orientasi dan persepsi yang berbeda, itu merupakan bagian dari pertumbuhan psikologi dan spiritualitas masing-masing. Dewasa secara jasmani tidak selalu diikuti oleh pendewasaan ruhani. Oleh karena itu, daripada menuntut orang lain mengerti, alangkah lebih indah berusaha untuk mengerti orang lain. Anda dewasa, kan?
Oleh : Candra Malik

Jumat, 23 Juni 2017

It’s a Wonderful Life

Teman saya pernah mengajarkan, “Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah ‘Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun’. Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang berarti, “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa, akan kembali kepada Allah”. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat-saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir, dan sehebat-hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”.
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi ‘future’ benar-benar bisa membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Bhutto, banjir yang melanda kota-kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming, dan belum lagi ramalan-ramalan mengenai semakin ‘edan’-nya dunia di masa mendatang, benar benar membuat hati galau. Bagi saya, kata ‘change’ yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan “action” perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah berhadapan dengan hal-hal tak terduga. Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita?
Be “Present”
Kata ‘Present’, berarti ’hadiah’ dan juga berarti ’saat ini’. Seorang ahli time management, mengatakan bahwa ‘being present’ (keberadaan kita saat ini) adalah ‘present’ (hadiah) terbesar dalam hidup kita. ‘Being present’ berarti realistis dan sadar apa yang ada dihadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua ‘resources’ yang kita miliki. Being present atau ‘Live your Life’, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra-putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memilih sikap ‘being present’ memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak “konsen” bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien, bahkan menghadapi anak sendiri? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang di hadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telpon genggam ketika menghadapi orang secara tatap muka? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen-momen yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik-baiknya .
Kita Dibutuhkan oleh Orang Lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba-tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang sudah bersusah-senang bersama kita, adalah “kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa menikmati hidup dan menjadikan kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai, serta cobaan.
Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak, atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan atau bahkan “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita bisa memberi support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan. Niat Baik adalah Pondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkapkan misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya. Saya cukup terkejut, karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti, ”Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”,”Saya ingin anak buah saya sukses”, ”Saya ingin jadi orangtua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau ”Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup-tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih dan tidak diwarnai dengan “vested interest”, maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan, bahkan Negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi pondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul-betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan, apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi, masih ingatkah Anda film getir “Life is Beautiful” (La vita è bella) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni? Kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
“Just open your eyes. And see that life is beautiful.”(Roberto Benigni)

ANTUSIASME

"An enthusiast is a fanatic about life. And because the enthusiast has the attitude that good things will happen, good things do happen." – Anonymous
Banyak orang berharap bahwa “making your day” atau ‘hari yang indah’ datang dari cuaca, situasi eksternal dan orang lain. Saya jadi teringat pada teman saya, seorang yang berenerji tidak ada habisnya. Ia selalu menelpon saat sedang ‘bete’ sambil berujar, “Tolong semangati saya dong! Aku lagi butuh dipuji-puji nih....”. Namun, saya tahu benar bahwa tindakannya minta disemangati sebenarnya adalah upayanya untuk intermezo saja, karena ia seolah punya sumber emosi di dalam dirinya dan selalu menularkan aura antusiasme ke sekitarnya. Yang jelas, antusiasme itu sumbernya di dalam individu. Banyak orang berpikir bahwa ini adalah talenta individu yang tidak dapat dipelajari. Padahal bila kita telaah lebih jauh, teman kita ini sekedar berperilaku bagaikan orang yang sangat lahap menghadapi makanan sehingga membuat orang yang menyaksikan juga ingin makan. Bukankah “makan dengan lahap” bisa dilakukan semua orang? Tetapi kenapa antusiasme seperti “talenta tersembunyi” yang sulit dipunyai semua orang?
Ciptakan Arena Perlombaan Kita
Kita pasti pernah masuk dalam situasi yang berulang dan membosankan, di mana kita kemudian berkomentar,“Ah..., lagu lama...”. Padahal, situasi yang sama tidak selamanya membosankan, karena sangat bergantung bagaimana kita melihatnya. Di sebuah perusahaan yang berkembang sangat-sangat pesat, tingginya pertumbuhan pelanggan bisa dianggap lagu lama, padahal bagi kompetitor hal ini dilihat sebagai sesuatu yang begitu menggiurkan dan menggetarkan. Ketidakmampuan untuk mempersepsi tantangan kecil dan barulah yang sering membuat orang tidak bisa antusias.
Beruntunglah para olah ragawan yang tidak bisa lari dari tantangan yang satu ke yang lain. Begitu dia menang tingkat kelurahan, ia langsung ditantang untuk memasuki tingkat kecamatan! Dalam lingkungan di mana perlombaan tidak tergambar secara eksplisit, persepsi individulah yang perlu dibuat agar dunia kerjanya tak ubah sebuah gelanggang yang tiada hentinya. Seorang dosen yang bertahun-tahun memegang mata kuliah tertentu, bisa memilih untuk tertantang mendapat bahan-bahan baru, cetakan buku terbaru, kasus-kasus yang paling update berkenaan dengan materinya. Kita bisa bayangkan betapa mahasiswanya akan merasakan antusiasme dosen ini, dibandingkan dengan hanya menghafalkan fotokopi turun-temurun dari kakak kelas 5-10 generasi yang lalu.
Selalu Dekat dengan Tren & yang sedang ‘In’
Saya kagum pada kolega saya yang selalu sedemikian “awas” menemukan pakaian, warna, dan asesoris yang sedang paling “in”. Ternyata modalnya tampil trendi hanyalah dengan melihat-lihat majalah mode di pinggiran jalan, tanpa perlu membeli. Ia sudah sangat terlatih untuk melihat apa yang berulang, apa yang secara menonjol baru, dan apa yang kemudian dipilih sebagai tren terbaru. Tentunya semangat ini sudah menjadi darah dagingnya. Yang jelas, “being trendy” memudahkan kita membangkitkan antusiasme. Bukankah rumah baru, baju baru, teman baru selalu membuat kita bersemangat? Minat terhadap sesuatu yang baru, yang fresh dan berbeda, bisa mendorong kita untuk “berbuat” lebih cepat, lebih giat dan lebih aktif.
Saya teringat seorang teman yang kebetulan bermukim di sebuah desa di Italia. Ketika saya mengeluh mengenai bisnis yang melelahkan, dia lalu menyebutkan beberapa majalah dan situs web yang perlu saya baca. Ternyata majalah dan situs-situs tersebut melulu berisi penemuan baru, desain baru, lagu-lagu terbaru dan tokoh-tokoh yang paling “in” di dunia. Membacanya membuat kita merasa bahwa ada dunia baru terbentang dihadapan kita siap dieksplorasi. Tidak heran teman saya ini, selalu bersemangat tinggi seolah tidak ada lelahnya seolah ingin menjelajah dunia.
Putus Lingkaran Setan
Kita sama-sama setuju bahwa di dunia ini segala sesuatu akan kembali membentuk siklus. Apakah siklus tersebut akan berbentuk lingkaran setan atau lingkaran malaikat, itu tergantung pada bagaimana kita memutarnya. Yang jelas, kalau kita membuat orang lain senang, orang itu pasti akan membalas dengan sikap positif juga. Bahkan orang yang menyaksikan kita dalam situasi tersebut juga langsung bersimpati pada kita. Aura positif ini bisa kita ciptakan dan dengan sendirinya lingkungan akan berbalik menyemangati kita dengan hal-hal yang baik. Sebaliknya, kita pun bisa membuat siklus negatif. Berapa sering kita memasuki rapat yang membahas keluhan pelanggan, misalnya, dan berakhir pada frustrasi karena semua peserta rapat terbenam pada kenyataan bahwa pusat kesalahannya ‘itu lagi, itu lagi’. Benak seorang yang antusias akan menjerit, berputar mencari solusi, mencari jalan keluar, mengarahkan pada tindakan yang musti diambil, dan tidak mengalah pada keadaan. Sebab, sekali mengalah berarti kita terseret siklus negatif tadi.
Nikmatnya Menjalankan Misi
Siapapun pemberi misi, apalagi kalau dia adalah idola, pihak yang kita respek atau sayangi, kita tentunya akan menjalankan misi tersebut dengan bangga dan bersemangat. Seolah anak kecil yang lari dengan bangga ke warung saat disuruh ibunya membeli sesuatu. Kita sering tidak sadar bahwa setiap tindakan bisa mengejawantahkan misi tertentu. Padahal dengan menyadari bahwa kita adalah agen perusahaan, agen keluarga, agen profesi, agen generasi penerus, agen negara yang “dipercaya” untuk mengemban misi, kita pasti bangga dan antusias.
Ditayangkan di KOMPAS, 14 Juli 2007