Minggu, 18 Februari 2018

Yang Termahal dalam Kehidupan

Kalau mau tahu persis apa makna syair “Sluku-sluku Bathok”, jalannya hanya satu: mewawancarai langsung Kanjeng Sunan Kalijogo. Itu pun benar tidaknya Kanjeng Kalijogo yang menciptakannya, hanyalah kesepakatan banyak penafsir. Sebagaimana “Ilir-ilir”, bisa saja karya Sunan Bonang atau malah Sunan Ampel sendiri. Atau bisa jadi bukan siapapun di antara para Auliya Sembilan.
Kita harus melakukan time tunneling, menerobos waktu hingga ke masa silam. Mungkin saja ada yang bisa melakukannya dengan metode batin tertentu, tetapi tetap saja tidak ada metodologi untuk memverifikasinya. Maka perlakuan yang terbaik bukanlah mencari kebenaran historis dari tuntutan-tuntunan itu. Sama sekali tidak ada manfaatnya untuk memperdebatkan kebenaran sejarahnya. Yang pasti kita perlukan adalah menggali maknanya, menemukan hikmahnya, memetik maknanya untuk kehidupan nyata kita sekarang ini dan anak cucu masa depan.
Semua versi penafsiran kita hormati. Kita apresiasi. Kita syukuri. Kita ambil kegunaan nilainya. Tak ada sedikit pun manfaat melacak, dengan metodologi ilmu sejarah apapun, berapa usia Gadjah Mada, berapa panjang rambut Prabu Brawijaya V, warna kulit Nabi Hud, terompah Nabi Idris terbuat dari kayu apa, atau Nabi Nuh yang dikabarkan berumur lebih dari 3000 tahun: tatkala beliau berusia 100 tahun masih kanak-kanak ataukah sudah mulai remaja.
“Jadi, Mbah”, kata Pèncèng, “saya tidak menolak pemaknaan ‘yen urip goleko duwit artinya mumpung masih hidup banyak-banyaklah mencari uang. Hidup adalah kesempatan satu-satunya untuk berjuang mencari nafkah bagi keluarga, kemudian untuk bersedekah memperbanyak kebaikan. Sebab ‘wong mati ora obah, yen obah medeni bocah. Dan saya tidak akan mendramatisasikan bahwa ‘yen urip goleko duwit’ adalah anjuran dan legitimasi untuk kapitalisme. Apalagi pakai liberal segala”
Simbah, Gendhon dan Beruk dengan sabar mendengarkan.
“Akan tetapi memang saya lebih cenderung untuk memahami bukan itu maknanya”, kata Pèncèng lagi.
“Interpretasimu bagaimana?”, tanya Simbah.
“Duwit itu dari kata dlou’ih”, Pèncèng menjelaskan, “dlou’ artinya cahaya. Dlou’ihi artinya cahaya-Nya, cahaya Allah, yang lingkupnya termasuk rezeki materiil juga. Goleko mungkin dari kata gholli atau gholli-u. Yang termahal. Sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan adalah cahaya Tuhan: goleko duwit
“Jadi kamu belajar Bahasa Arab juga to Cèng?”, Gendhon penasaran.
“Ah ya nggak juga. Cuma nyari-nyari, terus konfirmasi ke beberapa orang yang mengenal Bahasa Arab”, jawab Pèncèng, “kan ada lirik yang terkenal tentang Baginda Nabi Muhammad, yang nama beliau memegang rekor terbanyak disebut dalam syair-syair lagu, juga terbanyak dipakai sebagai nama manusia: ‘Anta syamsun Anta badrun, Anta nurun fauqo nuri. Anta iksirun wa ghalli, Anta misbahus-shuduri. Engkaulah matahari, engkaulah rembulan. Engkaulah cahaya di atas cahaya, engkau emas permata yang tiada terkira mahal harganya, engkaulah pelita hati semua manusia…”
Gendhon melirik Beruk. “Anak ini kelihatannya nggentho, tapi belajarnya serius juga”, bisiknya.
Simbah sendiri membatin: dalam uraiannya yang Simbah melarang untuk diumumkan, si Gendhon kemarin panjang lebar menganalisis Indonesia dengan memperbandingkan “Freedom of Speech”, “At-Tsaqafah Al-Madaniyah”, UUD-45 dan Pancasila. Pandangan Gendhon terlalu tajam dan menusuk. Terlalu terang-terangan, seperti menembakkan sinar rontgen ke dalam dada NKRI. Sementara para warga Negara ini sama sekali belum siap untuk apa adanya melihat kebenaran dan kesalahannya sendiri. Belum fair secara pengetahuan, belum objektif secara ilmu, belum sumeleh secara mental, dan belum satria-perwira secara kebudayaan dan spiritualitas.
“Pèncèng ini malah secara cukup radikal bisa mengubah mental berpikirnya menjadi lebih bersahaja”, Simbah berkata dalam hati, “ia bisa melakukan switch ke fokus nilai yang lebih murni, universal, sederhana tapi jernih. Ternyata larangan dan tindakan saya menyembunyikan hasil pemikiran mereka yang kemarin, membuahkan kemungkinan baru yang tidak kalah indahnya”
Simbah ingin mendengar apa yang nanti diajukan oleh Gendhon dan Beruk. Apa bisa se-menep Pèncèng. Sebab Beruk di uraiannya yang kemarin juga gawat. Ia melakukan muhasabah ‘aqliyah, semacam knocking down logika ‘NKRI Harga Mati’, menyebut-nyebut ‘Nasakom’, bahkan menyebut pemeran-pemeran aneh seperti Zallinbur, Kanzab, Tsabur, Ruhaa, Haffaf, Lagus, Walhan, Abyad, Biter, Jalbanur… mana mungkin dipahami oleh generasi Kids Zaman Now. Hapalnya kan oman-amin dan aman-imin melulu.
Oleh : Emha Ainun Nadjib

Rabu, 11 Oktober 2017

Beda Persepsi, Beda Orientasi

Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan kekuasaan sebagai orientasi, maka ia akan melakukan segala cara untuk meraihnya. Bahkan bila harus merebut dan menyikut, tak ada yang membuatnya takut. Oleh yang berbeda orientasi, ia bisa dianggap gila. Tahta dan kedudukan adalah hal yang tidak masuk akal bagi siapa pun yang memang tak berpikir untuk memilikinya. Baginya, kekuasaan bukanlah cita-cita.
Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan kekayaan sebagai orientasi, maka ia akan mengerahkan segala daya dan upaya. Walau dengan mencuri dan korupsi, tidak ada yang bisa membuatnya ciut nyali. Oleh yang berbeda orientasi, ia bisa dicap telah kehilangan hati nurani. Harta benda di dunia adalah hal yang tidak kekal bagi mereka yang berpandangan ukhrawi. Yang sejatilah yang selalu mereka cari.
Beda orientasi, beda persepsi. Siapa yang menjadikan keberkahan sebagai orientasi, maka ia akan mengerjakan segala tindakan demi memeroleh yang diinginkan. Meski harus mengabdi dan mematuhi perintah junjungannya, tak ada yang diharapkannya selain ridha dan restu. Walau dianggap bodoh dan berbuat tidak logis -- karena memilih untuk taqlid -- tak ada yang membuat dirinya meragu dan berubah pikiran.
Bagi pegila kekuasaan, harta mudah ia miliki. Bagi penguber kekayaan, kuasa bisa dibeli. Bagi pengharap keberkahan, kekuasaan dan kekayaan tidak abadi. Satu dan lainnya sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, berjumpa dalam satu persepsi yang sama dikarenakan sejak mula memang berbeda orientasi. Tapi, tidak selayaknya menuduh ketiganya melakukan semua itu tanpa cinta. Tak ada yang tahu isi hati selain diri sendiri.
Cinta menjadi penengah di antara hal-hal yang berjauhan, berlainan, bahkan berseberangan. Cinta menjadi harapan ketika menyamakan persepsi menjadi hal yang rumit. Kekuasaan, kekayaan, dan keberkahan menjadi kekuatan yang luarbiasa ketika disatukan oleh Cinta. Kekuasaan tidaklah selama-lamanya, kekayaan pun tidak abadi, keberkahan juga tidak kekal. Sebab, segala sesuatu niscaya sirna selain Wajah Allah.
Namun, beda orientasi tetaplah beda persepsi. Ia yang tidak menjadikan Allah sebagai orientasi akan menilai orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, serta kekuasaan dan hartanya, bi amwalikum wa anfusikum, kepada Tuhan, sebagai orang aneh. Melepas hal-hal duniawi justru dianggap tidak lagi manusiawi. Cinta kepada Allah tak boleh berlebihan sampai meninggalkan sekelilingnya dan menghilangkan sisi kemanusiaan, begitulah argumennya.
Tapi, berbeda orientasi itu sah-sah saja. Pun demikian berbeda persepsi boleh-boleh saja. Yang dilarang adalah sikap memaksakan kehendak agar siapa pun satu orientasi dan satu persepsi dengan dia atau kelompoknya. Yang berbeda janganlah disakiti, apalagi dihabisi. Yang berlainan janganlah dipinggirkan, lebih-lebih disingkirkan. Menjadi berbeda itu manusiawi. Dari hal-hal yang khas itulah terhimpun khazanah. Keberagaman.
Tidak ada paksaan dalam beragama ini diatur dalam Q.S. Al Baqarah ayat 256. Keberagaman dalam keberagamaan tak bisa dipaksakan menjadi keseragaman dalam keberagamaan. Apalagi, sangat mudah bisa diyakini bahwa agama yang baik dan benar; bahkan yang terbaik dan paling benar, adalah agama yang mengajarkan umat menyempurnakan akhlaq yang mulia. Dan di dalam akhlaq yang mulia itu hidup Cinta yang sejati.
Di dalam Cinta yang sejati itu, hidup hati yang baik, pekerti yang berbudi luhur, welas asih, sikap ringan meminta maaf dan tidak berat memberi maaf, serta tindakan-tindakan kemanusiaan yang didasarkan atas sifat-sifat Ilahiah yang penuh kasih sayang. Lalu, berkelindan dengan larangan untuk memaksakan kehendak, larangan berikutnya adalah larangan untuk melanggar hak sesama. Saling menghormati selalu lebih baik.
Perlindungan terhadap hak ini diatur dalam perundang-undangan. Bahkan, agama Islam mengajarkan adanya hak orang lain di dalam hak setiap orang. Dari sanalah lahir kewajiban untuk menunaikan zakat dan anjuran untuk sedekah, infak, dan amal saleh lainnya. Secara ideal, negara dan agama hadir menengahi perbedaan orientasi dan persepsi agar masing-masing berjalan baik dan tidak saling berbenturan.
Persoalannya adalah orientasi dan persepsi adalah isi kepala dan dada masing-masing. Artinya, Cinta, negara, dan agama telah berupaya memberi garis batas yang jelas dan tegas untuk melindungi kemerdekaan orientasi dan persepsi, sebagaimana kebebasan dalam berpendapat, berkelompok, beragama dan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Kini selebihnya kembali pada manusianya.
Setiap manusia memiliki bakat baik hati dan berbuat baik pada sesama. Jika pun kemudian memiliki orientasi dan persepsi yang berbeda, itu merupakan bagian dari pertumbuhan psikologi dan spiritualitas masing-masing. Dewasa secara jasmani tidak selalu diikuti oleh pendewasaan ruhani. Oleh karena itu, daripada menuntut orang lain mengerti, alangkah lebih indah berusaha untuk mengerti orang lain. Anda dewasa, kan?
Oleh : Candra Malik

Jumat, 23 Juni 2017

It’s a Wonderful Life

Teman saya pernah mengajarkan, “Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah ‘Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun’. Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang berarti, “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa, akan kembali kepada Allah”. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat-saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir, dan sehebat-hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”.
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi ‘future’ benar-benar bisa membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Bhutto, banjir yang melanda kota-kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming, dan belum lagi ramalan-ramalan mengenai semakin ‘edan’-nya dunia di masa mendatang, benar benar membuat hati galau. Bagi saya, kata ‘change’ yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan “action” perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah berhadapan dengan hal-hal tak terduga. Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita?
Be “Present”
Kata ‘Present’, berarti ’hadiah’ dan juga berarti ’saat ini’. Seorang ahli time management, mengatakan bahwa ‘being present’ (keberadaan kita saat ini) adalah ‘present’ (hadiah) terbesar dalam hidup kita. ‘Being present’ berarti realistis dan sadar apa yang ada dihadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua ‘resources’ yang kita miliki. Being present atau ‘Live your Life’, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra-putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memilih sikap ‘being present’ memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak “konsen” bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien, bahkan menghadapi anak sendiri? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang di hadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telpon genggam ketika menghadapi orang secara tatap muka? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen-momen yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik-baiknya .
Kita Dibutuhkan oleh Orang Lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba-tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang sudah bersusah-senang bersama kita, adalah “kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa menikmati hidup dan menjadikan kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai, serta cobaan.
Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak, atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan atau bahkan “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita bisa memberi support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan. Niat Baik adalah Pondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkapkan misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya. Saya cukup terkejut, karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti, ”Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”,”Saya ingin anak buah saya sukses”, ”Saya ingin jadi orangtua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau ”Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup-tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih dan tidak diwarnai dengan “vested interest”, maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan, bahkan Negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi pondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul-betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan, apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi, masih ingatkah Anda film getir “Life is Beautiful” (La vita è bella) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni? Kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
“Just open your eyes. And see that life is beautiful.”(Roberto Benigni)

ANTUSIASME

"An enthusiast is a fanatic about life. And because the enthusiast has the attitude that good things will happen, good things do happen." – Anonymous
Banyak orang berharap bahwa “making your day” atau ‘hari yang indah’ datang dari cuaca, situasi eksternal dan orang lain. Saya jadi teringat pada teman saya, seorang yang berenerji tidak ada habisnya. Ia selalu menelpon saat sedang ‘bete’ sambil berujar, “Tolong semangati saya dong! Aku lagi butuh dipuji-puji nih....”. Namun, saya tahu benar bahwa tindakannya minta disemangati sebenarnya adalah upayanya untuk intermezo saja, karena ia seolah punya sumber emosi di dalam dirinya dan selalu menularkan aura antusiasme ke sekitarnya. Yang jelas, antusiasme itu sumbernya di dalam individu. Banyak orang berpikir bahwa ini adalah talenta individu yang tidak dapat dipelajari. Padahal bila kita telaah lebih jauh, teman kita ini sekedar berperilaku bagaikan orang yang sangat lahap menghadapi makanan sehingga membuat orang yang menyaksikan juga ingin makan. Bukankah “makan dengan lahap” bisa dilakukan semua orang? Tetapi kenapa antusiasme seperti “talenta tersembunyi” yang sulit dipunyai semua orang?
Ciptakan Arena Perlombaan Kita
Kita pasti pernah masuk dalam situasi yang berulang dan membosankan, di mana kita kemudian berkomentar,“Ah..., lagu lama...”. Padahal, situasi yang sama tidak selamanya membosankan, karena sangat bergantung bagaimana kita melihatnya. Di sebuah perusahaan yang berkembang sangat-sangat pesat, tingginya pertumbuhan pelanggan bisa dianggap lagu lama, padahal bagi kompetitor hal ini dilihat sebagai sesuatu yang begitu menggiurkan dan menggetarkan. Ketidakmampuan untuk mempersepsi tantangan kecil dan barulah yang sering membuat orang tidak bisa antusias.
Beruntunglah para olah ragawan yang tidak bisa lari dari tantangan yang satu ke yang lain. Begitu dia menang tingkat kelurahan, ia langsung ditantang untuk memasuki tingkat kecamatan! Dalam lingkungan di mana perlombaan tidak tergambar secara eksplisit, persepsi individulah yang perlu dibuat agar dunia kerjanya tak ubah sebuah gelanggang yang tiada hentinya. Seorang dosen yang bertahun-tahun memegang mata kuliah tertentu, bisa memilih untuk tertantang mendapat bahan-bahan baru, cetakan buku terbaru, kasus-kasus yang paling update berkenaan dengan materinya. Kita bisa bayangkan betapa mahasiswanya akan merasakan antusiasme dosen ini, dibandingkan dengan hanya menghafalkan fotokopi turun-temurun dari kakak kelas 5-10 generasi yang lalu.
Selalu Dekat dengan Tren & yang sedang ‘In’
Saya kagum pada kolega saya yang selalu sedemikian “awas” menemukan pakaian, warna, dan asesoris yang sedang paling “in”. Ternyata modalnya tampil trendi hanyalah dengan melihat-lihat majalah mode di pinggiran jalan, tanpa perlu membeli. Ia sudah sangat terlatih untuk melihat apa yang berulang, apa yang secara menonjol baru, dan apa yang kemudian dipilih sebagai tren terbaru. Tentunya semangat ini sudah menjadi darah dagingnya. Yang jelas, “being trendy” memudahkan kita membangkitkan antusiasme. Bukankah rumah baru, baju baru, teman baru selalu membuat kita bersemangat? Minat terhadap sesuatu yang baru, yang fresh dan berbeda, bisa mendorong kita untuk “berbuat” lebih cepat, lebih giat dan lebih aktif.
Saya teringat seorang teman yang kebetulan bermukim di sebuah desa di Italia. Ketika saya mengeluh mengenai bisnis yang melelahkan, dia lalu menyebutkan beberapa majalah dan situs web yang perlu saya baca. Ternyata majalah dan situs-situs tersebut melulu berisi penemuan baru, desain baru, lagu-lagu terbaru dan tokoh-tokoh yang paling “in” di dunia. Membacanya membuat kita merasa bahwa ada dunia baru terbentang dihadapan kita siap dieksplorasi. Tidak heran teman saya ini, selalu bersemangat tinggi seolah tidak ada lelahnya seolah ingin menjelajah dunia.
Putus Lingkaran Setan
Kita sama-sama setuju bahwa di dunia ini segala sesuatu akan kembali membentuk siklus. Apakah siklus tersebut akan berbentuk lingkaran setan atau lingkaran malaikat, itu tergantung pada bagaimana kita memutarnya. Yang jelas, kalau kita membuat orang lain senang, orang itu pasti akan membalas dengan sikap positif juga. Bahkan orang yang menyaksikan kita dalam situasi tersebut juga langsung bersimpati pada kita. Aura positif ini bisa kita ciptakan dan dengan sendirinya lingkungan akan berbalik menyemangati kita dengan hal-hal yang baik. Sebaliknya, kita pun bisa membuat siklus negatif. Berapa sering kita memasuki rapat yang membahas keluhan pelanggan, misalnya, dan berakhir pada frustrasi karena semua peserta rapat terbenam pada kenyataan bahwa pusat kesalahannya ‘itu lagi, itu lagi’. Benak seorang yang antusias akan menjerit, berputar mencari solusi, mencari jalan keluar, mengarahkan pada tindakan yang musti diambil, dan tidak mengalah pada keadaan. Sebab, sekali mengalah berarti kita terseret siklus negatif tadi.
Nikmatnya Menjalankan Misi
Siapapun pemberi misi, apalagi kalau dia adalah idola, pihak yang kita respek atau sayangi, kita tentunya akan menjalankan misi tersebut dengan bangga dan bersemangat. Seolah anak kecil yang lari dengan bangga ke warung saat disuruh ibunya membeli sesuatu. Kita sering tidak sadar bahwa setiap tindakan bisa mengejawantahkan misi tertentu. Padahal dengan menyadari bahwa kita adalah agen perusahaan, agen keluarga, agen profesi, agen generasi penerus, agen negara yang “dipercaya” untuk mengemban misi, kita pasti bangga dan antusias.
Ditayangkan di KOMPAS, 14 Juli 2007

ASAH EMPATI!

Orang-orang bilang, psikolog jagonya berempati. Semestinya memang begitu, tapi tak selamanya juga terjadi. Teman saya, seorang psikolog lulusan universitas terkenal, acap jadi ‘public enemy’, karena tidak terlatihnya dia dalam menangkap sinyal-sinyal sosial di tempat kerjanya. Misalnya saja, dia tidak sadar bahwa beberapa orang di sekitarnya tidak menyukai caranya ‘memerintah’ rekan kerja. Dia pun tidak menyadari perbedaan pendekatannya dengan rekan kerja yang lain menimbulkan rasa tidak nyaman.
Orang yang ‘mati rasa’ seperti ini bisa dikatakan ketinggalan jaman. Ia bakalan tidak laku lagi sebagai profesional, karena perusahaan akan banyak dirugikan dalam investasi sumber daya manusianya jika diisi profesional dengan ‘soft-skills’ tumpul. Orang seperti ini sulit belajar dan sulit membina hubungan. Otomatis komunikasi menjadi sulit dan tidak efektif.
Terkadang ada pendapat bahwa empati tidak dibutuhkan dalam beberapa situasi kerja, misalnya kompetisi. Ada pula pendapat bahwa seorang salesman perlu berdarah dingin dan mempunyai ‘killer instinct’. Realitanya, dalam dunia kerja terkini, kemampuan ‘masuk dalam sepatu orang lain’ diperlukan untuk membaca pikiran dan perasaan orang lain, misalnya saja dalam negosiasi. Semakin cepat perkembangan bisnis, semakin kita harus pandai membaca emosi dalam ukuran detik. Komunikator yang handal dan peka-lah yang dibutuhkan untuk mendorong proses komunikasi, kerja tim dan kerjasama untuk menunjang penyelesaian proyek dalam waktu yang lebih singkat.
Empati: Proses Pikir atau Rasa?
Ada orang yang seumur hidupnya tidak berniat memperpanjang dan mempertajam ‘radar’-nya untuk merasakan perasaan orang lain. Sebaliknya, ada orang yang punya radar sangat sensitif sehingga sangat peka terhadap perasaan dirinya dan juga orang lain. Dalam dua situasi di atas, belum bisa dianggap yang satu lebih baik dalam berempati dibanding yang lain. Seseorang dikatakan berempati bila ia berpikir sejenak dan berusaha memahami pikiran, perasaan, reaksi, pertimbangan, dan motivasi orang lain. Proses pikir ini pun perlu melibatkan dirinya secara utuh, dengan segala macam risiko perbedaan pendapat, rasa, bahkan kemungkinan konflik. Hanya dengan pengolahan terus-menerus maka individu bisa mengenal ‘status’ perasaannya, lalu kuat berempati dan kemudian memanfaatkan emosinya dalam kehidupan kerja.
Soft Skills, Hard Results
Dalam dunia perbankan misalnya, di mana modal bisnis adalah kepercayaan, mustahil para bankir mengesampingkan kemampuan berempati ini. Bahkan, perlu ada paradigma bahwa kepercayaan tidak bisa hanya dibuktikan dengan seperangkat fakta dan data, tetapi juga ‘rasa’. Inilah sebabnya, mengapa sekarang para bankir tampak lebih ramah, berorientasi ke pelanggan, dan tidak menonjolkan ke-angker-an lembaganya lagi.
Kita lihat bahwa ketajaman ’rasa’, sangat berkaitan dengan kesuksesan bisnis. Dalam pengambilan keputusan pun, intuisi hanya bisa dikembangkan bersamaan dengan kemampuan empati.
Gunakan aturan 93%
Dari risetnya, Albert Mehrabian, mengatakan bahwa dalam komunikasi, hanya 7 % ucapan yang akan diserap oleh penerima berita. Sisanya, yang 93% adalah sinyal non-verbal. Artinya, bila tidak dibantu dengan emosi, semangat, gerak dan intonasi, maka komunikasi kita tidak efektif. Kita perlu mengaktifkan ‘radar’ untuk memantau seberapa jauh pesan komunikasi kita tertangkap dan ditanggapi oleh penerima berita. Misalkan, jika lawan bicara merespons dengan mengerutkan kening atau memejamkan mata saat kita mengungkapkan pendapat, kita tentunya bisa mengira-ngira apakah ia menyetujui pendapat kita atau sedang berpikir keras. Sinyal ini yang juga perlu kita manfaatkan untuk memberi tanda apakah komunikasi akan dilanjutkan dengan pendekatan yang sama atau tidak.
Hadir 100%
Pernahkah Anda berhadapan dengan petugas frontline yang sedang sibuk bertelpon? Atau, atasan yang sibuk mengecek imelnya saat anda sedang menyampaikan masukan? Apa rasanya bila Anda diundang makan siang oleh seorang mitra, tetapi ia banyak sekali melayani panggilan ponselnya?
Banyak orang bertanya-tanya, apakah empati bisa dilatihkan. Sebenarnya, latihan penting yang perlu terus-menerus dilakukan adalah untuk menghadapi orang lain dengan perhatian dan minat 100 %. Bahkan, bila kita sempat menyemangati lawan bicara agar ia mengungkapkan pendapatnya secara lebih gamblang, otomatis kita akan juga menangkap aspirasi, motif dan tantangan lawan bicara kita.
Sewaktu kecil, ibu saya pernah berkata, “kamu mesti belajar menghargai orang yang telak-telak tidak ada gunanya bagi kamu. Kalau sampai kamu mempunyai kebiasaan itu, baru kamu bisa disebut sebagai orang yang ramah”. Empati memang tidak boleh dipraktekkan secara selektif, dan memilih milih. Kita tidak bisa hanya mau berempati pada orang yang kita anggap penting, misalnya pelanggan. Empati harus menjadi warna, pendekatan dan kebiasaan pribadi..

TRUST !

Kepercayaan sangat penting. Pentingnya begitu terasa terutama saat kita sudah berada dalam keadaan tidak dipercaya. Pada saat itulah kita betul-betul merasa bahwa kepercayaan itu tidak mudah didapat.
Saya ingat cerita seorang teman yang terjebak dalam situasi di mana dia membuat kesalahan, diragukan ketulusannya, dan kemudian tidak tahu dari mana ia harus mengembalikan kepercayaan koleganya. Seolah berlaku hukum: “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Dari pengalaman kita tahu apa kepercayaan itu. Tetapi, mengembangkan, dan menambahnya merupakan hal yang sulit dijabarkan.
Rasa percaya akan meningkatkan komitmen, menjaga semangat dan kinerja tanpa perlu adanya pengawasan dan monitor ketat. Dalam organisasi di mana rasa saling percaya kuat, maka kontribusi dan enerji menjadi hemat, karena lebih sedikitnya upaya komunikasi. Individu yang saling percaya lebih mudah menemukan “gelombang” yang sama. Saya ingat pengalaman melihat sengitnya debat 3 orang anggota “board of director” sebuah perusahaan, yang diwarnai argumen bernada kemarahan, seolah hampir terjadi peperangan. Namun, pada akhirnya, mereka saling mengalah dan kemudian sepakat, seperti halnya 3 orang kakak beradik. Komentar saya, “ini hanya terjadi pada individu-individu yang saling percaya”.
Rasa percaya dalam organisasi sebenarnya tidaklah hanya dari atasan ke bawahan saja. banyak contoh di lingkungan kita yang bisa menggambarkan tidak percayanya bawahan pada atasan. Misalnya saja, keraguan apakah atasan ber-“kuping tipis”, selalu berespons terhadap laporan tanpa menyidik terlebih dahulu, atau akan bersikap “fair” atau tidak bila seseorang memberinya kritik. Keraguan semacam inilah yang kemudian menimbulkan sikap “yes, man”, “carmuk” (cari muka), atau mengambil jarak yang akhirnya menyulitkan organisasi untuk bergerak, karena komunikasi kian tidak terbuka. Dengan tidak digarapnya pengembangan rasa percaya dalam organisasi, maka organisasi bisa tumbuh tanpa ikatan yang kuat kecuali ikatan yang kasat mata seperti upah dan fasilitas. Organisasi seperti ini juga kehilangan kesempatan untuk melahirkan pemimpin baru karena para individunya sulit mengembangkan komitmen ke perusahaan.
Bisa dipercaya tidak sama dengan jujur. Lihatlah, berapa banyak orang jujur yang ternyata tetap sulit memenangkan rasa percaya orang lain. Kita perlu mempertahankan dan mengembangkan beberapa kebiasaan, di samping jujur, untuk membangun rasa percaya.
· Mendengar: Hanya dengan mendengar kita bisa bertukar nilai, minat, tujuan dan bisa menyamakannya. Kesamaan inilah yang akan menumbuhkan rasa percaya. Dari mendengar kita juga bisa merasakan apa yang dibutuhkan orang lain dan tahu cara memenuhinya. Kita pun bisa mencari kesamaan pandangan, visi dan sasaran sehingga akhirnya menumbuhkan rasa percaya satu sama lain.
· Bisa Diakses dan prediktabel: Konsistensi reaksi kita dari waktu ke waktu, dan antara apa yang kita katakan dan lakukan, membuat orang bisa “memegang” apa yang kita katakan. “Sharing” informasi dan kebersamaan dalam kegiatan informal menyebabkan individu lain merasa bahwa kita seorang yang terbuka, “bisa dibaca” dan bisa di dalami.
· Sadari Posisi “Power”: Di dalam kancah ’politik’, baik dalam perusahaan maupun dunia politik partai, setiap orang datang dengan berbagai motivasi, agenda, dan perbedaan akses ke pengambil keputusan. Rasa tidak percaya sering tumbuh bila menyaksikan adanya individu yang terlihat mempunyai akses ke pusat kekuasaan sementara orang lain tidak, misalnya saja dalam cara berkomunikasi. ”Kedekatan” seperti ini sering menimbulkan rasa curiga , rasa iri dan sering tidak disertai dengan upaya mencari lebih jauh tentang modus komunikasi apa yang cocok dengan pusat kekuatan tersebut. Seorang teman terheran heran melihat betapa hubungan kepercayaan jadi membaik setelah komunikasi via SMS nya dengan CEO lebih sering. Ternyata cara simpel dan murah ini malah mempan untuk mendekati sang pusat kekuatan.
· Sadari Cara Berdebat: Kita banyak menyaksikan bagaimana beberapa oknum membela diri atas kebenaran dengan cara yang defensif atau bahkan agresif, terkadang sengaja di depan umum bahkan di media. Di sini bisa kita yakini bahwa sejujur dan sebenar apa pun seseorang, bila ia tidak mengemukakan pendapat dan membuktikan kebenaran dengan cara penuh respek, ia malah tidak akan mendapat rasa percaya itu. Kepercayaan adalah masalah emosi, dan tidak selalu bisa disamakan dengan kredibilitas, yang sifatnya hanya rasional.
· Tidak Selalu Harus Banyak Bicara:
Banyak bicara sering menyulitkan orang untuk mencerna dan mendalami motif pribadi kita. Ada pilihan cara lain untuk meyakinkan orang yang justeru berbicara lebih lebih keras daripada kata-kata. Pembuktian lapangan biasanya juga bisa lebih mempan daripada presentasi formal.
Membangun rasa percaya dalam suatu lingkungan sosial membutuhkan kesabaran, kehati-hatian dan taktik. Kita tidak bisa menggenjot orang lain agar percaya pada kita. Kitapun tidak bisa melakukan kampanye ”trust” besar besaran. Rasa itu akan datang dengan sendirinya., seolah tanpa kekuatan kontrol kita.
"To be trusted is a greater compliment than to be loved." – George MacDonald

Character Building

Beberapa waktu belakangan ini, ‘karakter’ di sebut-sebut sebagai pertimbangan dalam menseleksi eksekutif. “Dia punya karakter”, demikian kata orang, dan tentunya konotasi ungkapan itu terarah positif. Wajar bila kita juga kemudian berespons dalam hati: “Apakah saya punya karakter?” Atau, ”Saya ingin ber-’karakter’, tapi tidak tahu cara mengembangkannya”.
Kita sudah punya karakter sejak lahir, karena karakter adalah kumpulan kualitas dan reaksi dalam diri individu. Permasalahannya adalah apakah ada ciri khas yang membuat karakter kita menonjol dan lebih berarti ketimbang orang lain? Bila ada, maka orang lain bisa dengan mudah menggambarkan karakter kita.
Orang yang berkarakter tidak sama dengan’orang baik’. Salah seorang dosen saya, misalnya, selalu ramah dan baik hati. Namun, cara berjalannya seperti layang-layang putus, bila berjabat tangan terasa jabatan yang tidak menggenggam, tidak ”berarti”. Setelah mengenal lebih lanjut, ternyata ibu dosen ini, di dalam pekerjaannya tidak tegas, tidak membuat perubahan, konformis tanpa sikap kritis sehingga di bawah pimpinannya, bagiannya sama sekali tidak berkembang.
Orang yang dikatakan berkarakter biasanya dikenali sebagi orang yang dikagumi dan direspek, bisa membedakan hal baik dan buruk dengan tegas, serta menjadikan lingkungannya lebih baik. Di Amerika, diperkenalkan sejak dini 6 pilar karakter, yaitu: bisa dipercaya, respek, tanggungjawab, bersikap fair, peduli dan menjadi warganegara yang baik. Pengenalan 6 pilar ini diikuti dengan seperangkat do’s dan don’ts, sehingga mudah digunakan bagi mereka yang ingin jadi orang berkarakter. Apakah cukup sampai di sini? Tentu tidak. Membangun karakter membutuhkan “excersize”, tempaan, cobaan, tantangan tiada henti, yang memberi kesempatan bagi individu untuk memperkeras kepribadiannya.
"I will be what I will to be" “Choose your attitude”! Tantangan pertama kita adalah mendesain gambaran pribadi anda sendiri. Apakah ingin menjadi orang yang “low profile”, rendah hati, halus? Ataukah agresif, senang tantangan, dengan “exposure” tinggi. Kita perlu memiliki visi hidup yang jernih sehingga bisa mengarahkan pembentukan karakter.
Karakter Berasal dari “Habit”
Bila ingin berkarakter menonjol, kita perlu mempermudah orang lain untuk mengenali kekhasan kita. Kesamaan reaksi, gaya bicara dalam menghadapi situasi apapun, dari waktu ke waktu, perlu konsisten. Penting juga untuk menjaga konsistensi antara apa yang kita katakan dan yang kita lakukan. Jalan pikiran, perasaan dan reaksi, perlu relevan satu sama lain. Seperti halnya kita tidak bisa tertawa terbahak bahak pada saat sedih.
Secara otomatis, konsistensi akan membentuk habit, yaitu kebiasaan bereaksi pada tiap momen dalam hidup kita. Kenalan dekat saya mempunyai kebiasaan marah dalam setiap situasi yang dihadapinya. Bila anak jatuh, isteri sakit, terjerumus ke lubang, atau berhadapan dengan orang yang sulit, reaksinya satu, yaitu marah. Tidak pelak lagi, ia kemudian dikenal berkarakter pemarah. Habit yang terbentuk inilah yang menghasilkan ”kekuatan pribadi” dan memancarkan aura yang lebih kuat dibanding dengan habit yang tidak terbentuk karena tidak konsistennya reaksi individu.
Kompetensi membentuk karakter
Sering terjadi reaksi individu “pakewuh”, ragu, tidak cermat, karena ia tidak bisa, atau tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi situasi yang sulit. Untuk itulah kita perlu berambisi untuk senantiasa memperkuat kompetensi kerja kita. Kompetensi perlu dikembangkan tidak sebatas pada ketrampilan dan pengetahuan saja, tapi juga sikap profesional dan prinsip. Galilah prinsip profesional dari orang-orang yang lebih berpengalaman, pertemuan profesi, buku, jurnal dan pelatihan. Seorang engineer pengeboran tidak akan begitu saja menyetujui instruksi atasan bila menghadapi situasi berbahaya, bila ia berpegang pada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman profesionalnya. Walaupun ditekan oleh atasan, kompetensi, harga diri dan keputusan moralnya akan mendukung kepercayaan dirinya untuk mengambil sikap. Akhirnya pembentukan karakter dan kompetensi memang seperti lingkaran malaikat, semakin kompeten semakin mudah karakter ditonjolkan.
Tingkatkan kepekaan
Dalam pertemuan kelompok, bila individu ditanya:”Apa yang bisa anda kontribusikan ke tim untuk memperbaiki kinerja?” Ia akan menggagap bila ia tidak peka tentang keberadaanya dalam situasi tersebut. ”Positioning” diri sendiri dalam situasi sosial memerlukan kejelasan dan kepekaan setiap saat, sehingga reaksi yang dibentuk selalu bisa disadari dan dikontrol. Hanya dengan kontrol kuat terhadap reaksi kita, maka kita bisa membentuk reaksi yang relevan.
Box :
EXPERD : ‘CHARACTER’ BUILDING:
‘Can Do’ answers
‘Hands on’ execution
Accountable
Result Driven
Assertive Communication
Change Leader & Agent
The Customer``s Business Partner
Empowering Coach
Relationship Builder